kultur/budaya,  opini

Agama di Prancis : Do’s and Don’ts

Ini lebih banyak ditujukan kepada yang muslim, ya. Sebagai kelanjutan dari yang sebelumnya. Jadi bagi yang beragama lain, bila merasa tidak perlu silahkan, lho di skip.

Menjalankan ritual agama di negeri dimana mayoritas adalah non muslim tentu memiliki tantangan tersendiri, karena dalam Islam memang ada ritual sholat 5 waktu (yang tentu saja membutuhkan tempat).

Beda dengan di Indonesia, dimana gedung apapun punya mushola (seminim-minimnya nyempil di dekat parkiran), disana tentu saja jarang. Karena itu perlu banyak penyesuaian dan strategi.

Kesiapan mental juga harus dipersiapkan dari mayoritas menjadi minoritas. Bukan hanya faktor eksternal melainkan juga internal (pola pikir).

Berikut do’s and don’ts yang sebaiknya dilakukan oleh muslim dari Indonesia bila berkunjung ke Prancis entah sebagai turis, belajar, atau tinggal, terutama bila menyangkut kepercayaan.

Yang Sebaiknya Dilakukan

1.Tinggal Berdekatan Pusat Kegiatan

Entah dekat kampus atau dekat tempat kerja. Jadi sewaktu-waktu bisa pulang. Kayak teman saya yang selalu menyempatkan diri pulang di jam-jam tertentu. Dia enak karena tinggal jalan kaki sebentar

2.Memiliki Beberapa Alamat Di Tempat Yang Dikunjungi

Kalau kamu mobile, salah satu strategi yang pernah diterapkan saya dan teman jalan-jalan adalah deteksi dini siapa saja kenalan kita di sebuah kota. Kalau di Paris dulu di setiap arrondisement kita tahu siapa-siapa saja (walaupun nggak semua). Lebih mudah lagi kalau ada orang Indonesia, ya. Jadi kalau ada kondisi darurat, nggak bisa mencapai mesjid (yang memang jarang) kita bisa minta ijin untuk sholat disana.

3.Meminta Ijin Dulu

Kalau rumah jauh dan tidak bisa nebeng gimana? Hmm…ya coba tanyakan kepada pengurus dimana tempat kita berkegiatan, apakah kira-kira bisa ijin memanfaatkan beberapa pojok nganggur terpencil di jam-jam tertentu. Bilangnya harus jauh-jauh hari dalam kondisi enak, ya. Kalau diijinkan, harus berusaha supaya nggak menyolok, mengganggu, atau merepotkan orang lain.

4. Memiliki Strategi Memilih Makanan

Bagi yang gampang lapar dan penggemar makan segala, wajib ketahui tempat-tempat yang menjual bahan makanan halal (ada supermarketnya, lho) atau bisa pilih bahan segar yang bisa di dapat di pasar seperti ikan. Perlu berhati-hati saat memilih makan semacam hotdog di pinggir jalan, ya, karena ada yang dari jambon (bukan merah jambu), bahasa Indonesianya babi. Hehe..

strass.jpg

Mesjid di Strasbourgh

Yang Sebaiknya Tidak Dilakukan

1.Memaksa Agar Mendapat Perlakuan Khusus

Ada orang Indonesia yang nekad sholat di tengah jalan sampai dilihatin orang banyak. Ya, mungkin orang baru pertama kali merantau. Sebaiknya, sih jangan sampai seperti itu. Kesannya kan jadi kurang baik, apalagi kalau di tempat orang berjalan, padahal alternatif banyak seperti diatas kalau memang mau survey dan berusaha.

Ada beberapa kali mendengar kesan bahwa menjadi muslim di Eropa itu dipersulit. Ya jelas kalau bandinginnya sama di Indonesia tidak mudah hahaha. Namanya juga negara asing dengan sejarah adat istiadat berbeda. Nggak mungkinlah marah-marah karena tidak mendapat perlakuan spesial di negara orang.

2. Menerima Mentah-mentah Semua Informasi (Versi Indonesia)

Bukan rahasia lagi kalau sekarang marak tur sejarah Islam.

Saya pernah membaca sebuah buku Indonesia yang booming di kalangan muslim di Indonesia, padahal memiliki pesan yang sangat sensitif. Saking sensitifnya kalau sampai orang Prancis tahu entah bagaimana reaksi mereka.

Nah, di buku itu dibahas bagaimana sebuah monumen bersejarah Arc de Triomphe yang dibangun oleh Napoleon Boneparte memiliki koneksi secara garis menuju Makkah (OK saya juga banyak membaca teori Napoleon muslim hehehe). Karena saya memiliki ketertarikan pada era Revolusi sampai Kekaisaran, saya tahu sedikit tentang sejarah di masa itu termasuk soal Axe Historique di Paris. Napoleon berdasar sejarah hidupnya sangat terpengaruh oleh dunia oriental, terutama Mesir. Terbukti dari pahatan di monumen Arc de Triomphe yang banyak menampilkan  simbologi dari Mesir (bukan Arab) dan Romawi. Seperti yang kita tahu keduanya mempunyai pengaruh kuat akan dewa-dewinya seperti Osiris, Isis, Zeus, dll.

Disini kejanggalannya, hingga saat ini saya belum menemukan referensi manapun dengan bukti tertulis, bahwa dia membangun Arc de Triompe ditujukan ke Makkah, sehingga pantas disebut sebagai salah satu “jejak Islam” di Prancis. Tidak ada jurnal ilmiah dari ahli sejarah yang namanya disebutkan sebagai pemberi informasi di buku tersebut. Karena bila benar itu akan menjadi temuan yang serius bagi sejarawan Prancis, mempengaruhi banyak hal. Ada yang tahu?

arc de triomhe.jpg

Arc de Triomphe

Ironisnya, teori itu lebih banyak dibahas oleh orang Indonesia, bersumber dari buku tersebut. Mengubah arti dari Arc de Triomphe yang sesungguhnya yaitu glorifikasi kemenangan tentara Prancis. Hmm. Sebetulnya nggak perlu heran juga, sih ada juga buku Indonesia yang bilang Hitler tinggal di Indonesia hahaha.

Saya pun bertanya-tanya dalam hati, saat turis muslim Indonesia satu persatu datang ke Arc de Triomphe dan menceritakan kepada semua orang bagaimana itu mengarah ke Makkah…. apakah ia merasa telah menceritakan sebuah kebenaran? Ataukah kebenaran itu ternyata sudah cukup bermodalkan rasa percaya yang sangat kuat?

Saya hanya bisa tersenyum.

Memuji dan kagum boleh, tapi semua fakta sejarah juga perlu diteliti.

3. Berpikir Eksklusif

Masih tentang buku diatas, saya bahkan melongo saat membaca pesan keras pengarang yang berharapan bahwa muslim suatu saat akan menguasai Eropa. Kalau di film bahkan melakukan adzan di menara Eiffel. Adzan. Di menara Eiffel. Entah harus berkata apa.

Saya dulu sering mengunjungi menara Eiffel entah nganter temen atau turis. Tapi untung nggak ada orang Indonesia yang melakukan hal demikian diatas sana, kalau ada duh, entah mau dibawa kemana muka ini.

Satu, Prancis sendiri adalah negara sekuler yang memisahkan agama dengan urusan kenegaraan. Simbol-simbolnya jelas bersifat netral. Itu harus dihormati.

Kedua, memberi anggapan tanpa bukti bahwa sebuah monumen yang merupakan salah satu simbol negara sebagai bagian dari jejak Islam bukan hanya menyinggung, tapi bisa jadi terdengar sangat ofensif bagi mereka. Menambah bensin Islamofobia.

Sekarang begini, kalau kita jadi tamu di sebuah rumah besar, diijinkan masuk oleh penghuninya boleh berjalan-jalan mengunjungi berbagai sudut. Terdengar aneh nggak bila tiba-tiba kita berkata kepada orang-orang, “suatu saat semua orang sepertiku akan menguasai rumah kamu”. Bahkan untuk menekankan pentingnya pesan itu, perlu mengumumkannya di sebuah ruangan yang menjadi simbol terpenting di rumah tersebut. Ahem. Apa kita enggak langsung ditendang bebas keluar sama tuan rumah? lap keringet

Menurut saya cara berprilaku eksklusif itu perlu jadi perhatian bagi muslim Indonesia -yang memang niatnya ingin mengenal adat kebiasaan kultur lain dengan cinta damai. Dengan berkembangnya Islamofobia di Prancis, bagaimana mungkin mereka menganggapmu tidak berbahaya jika masih berpikir demikian?

4. Tidak Mematuhi Hukum dan Peraturan Yang Berlaku

Sebagai contoh jangan melakukan ibadah di sembarang tempat, terutama di tempat yang jelas-jelas dipertahankan kenetralannya (karena sejarah panjang yang penuh konflik).

Menghormati adat istiadat dan mematuhi hukum di sebuah negara sebetulnya nggak susah, apalagi bila negara tersebut masih menjamin kebebasan warga negaranya untuk melakukan ibadah sesuai kepercayaan. Kalau oknum dan orang-orang yang brengsek dimana-mana, sih pasti adalah, ya. Cuma apa, iya semua orang seperti itu? Saya juga tidak mungkin menyalahkan satu negara bila yang memperlakukan saya dengan buruk hanya sekian oknum dibanding sekian juta jumlah populasi keseluruhan.

===

Untungnya sedikit sekali muslim di Indonesia yang berkembang jadi oknum di sana (selama nggak terpapar sama cara berpikir seperti diatas). Bahkan saat saya tanya seorang Prancis di kota Paris yang punya usaha semacam Air BnB gitu, dia lebih suka menerima tamu orang Indonesia ketimbang yang lain. Karena nggak suka bikin onar. Malah kadang suka kasih oleh-oleh hahaha.

Sebaiknya kita pertahankan yang demikian, ya.

Apa kamu punya tips do’s and don’ts lain?

6 Comments

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this:
Visit Us On TwitterVisit Us On Facebook