kultur/budaya,  opini

Agama Di Prancis

Tema yang agak-agak sensitif, mohon di maklumi seluas-luasnya kalau ini dilihat dari kacamata subyektif seseorang yang pernah tinggal disana, ya?

Kebetulan juga saya seorang muslim.

Kemarin saya membaca sebuah survey menggelitik di internet :

Screen Shot 2019-12-13 at 8.14.26 AM.png

Dari twitter @thespectatorindex. Saya nggak tahu dia ngambil dari mana, cuma nggak surprise banget sama pemaparannya (ya paling kaget saat UK lebih bawah dari France).

Menarik.

Waktu naik pesawat dari Indonesia seseorang yang pakai hijab (kerudung) dianggap biasa-biasa. Apalagi kalau transitnya di wilayah seperti Abu Dhabi dan sejenis. Nah, mulai berangkat dari sana ke Eropa, dia akan mulai “dilihatin” oleh beberapa penumpang. Ngeliatinnya kadang nggak pakai sembunyi-sembunyi lagi!

Nah. Di Paris sendiri orang-orangnya terdiri dari berbagai jenis ras. Yang jelas simbol-simbol agama di diri seseorang jarang sekali terlihat. Mereka tidak mengijinkan itu juga disekolah publik. Tabu banget buat mereka membicarakan agama. Saya lupa sejak kapan. Bila kamu turis atau di perguruan tinggi sih, mereka nggak urusan kita mau mengenakan atribut apa (asal jangan yang aneh-aneh). Cuma seseorang yang pakai hijab longgar akan merasa nggak nyaman, karena suka ada yang ngeliatin. Sama seperti di pesawatlah. Untuk mengakalinya, banyak yang menggunakan hijab modifikasi.

Kira-kira seperti ini :

Gambar : Dian Pelangi & Prita Ghozie

Biasanya dipadu dengan topi pet dan sejenis, jadi lebih kelihatan stylish. Menurut saya sangat wajar. Karena filosofinya hijab kan modesty dan tidak membentuk tubuh, terutama nggak menarik perhatian. Model syari, dengan kultur timur tengah yang kuat, sering jadi patokan mata orang-orang (karena berbagai sebab), akhirnya membalik filosofinya menjadi pusat perhatian dan menimbulkan rasa kurang enak juga bagi si perempuan. Kalau bisa menerima itu ya tidak masalah.

Muslimah yang berasal dari negara Maghreban (bekas koloni Prancis) banyak dari mereka yang mengenakan ubel-ubel dikepala. Kayak mba Dian diatas.

Orang-orang Prancis yang saya temui jarang membicarakan agama. Kalaupun dibahas biasanya dengan khusus seperti di ruang kuliah. Bagusnya mereka tidak berprasangka atau bias (dulu sih begitu). Lebih banyak menanyakan sebab logis.

Saya ingat, saat mata kuliah ada yang membahas agama di Asia, seorang professeur pria mempertanyakan (seolah mengkritisi) tentang iman-makmum sholat jamaah dalam Islam,

“Kenapa nggak wanita? Dan kenapa (dalam barisan) pria musti di depan?”

Ini kayaknya beliau mancing jawaban dari saya juga, deh- sebagai satu-satunya orang asing muslim di kelas khusus bule-bule. Seperti jebakan Batman. Tapi karena saya ngerti cara berpikir Prancis, saya jawab saja dengan kalem,

“Karena, prof, kalau wanita sholat di barisan depan, lalu sujud. Sujud itu kan posisinya (maaf) nungging. Kira-kira bisa khusyuk nggak nanti para pria di belakangnya?”

Beliau berpikir sebentar. Lalu manggut-manggut. “Islam agama yang rasional.”

Serius ngomong gitu, lho. Diam-diam saya kaget juga. Artinya dari awal kan beliau memang serius nanya tanpa prasangka. Kuncinya kalau sama orang Prancis penjelasan harus masuk akal wkwkwk. Tapi saaat itu saya beruntung, kalau ada pertanyaan yang lebih berat dari itu bisa repot juga…

mosq.jpeg

Mosque de Paris -mesjid sejuta umat di Paris

Di Paris mesjid nggak banyak. Yang paling terkenal itu Mosque de Paris. Sebagai satu-satunya mesjid raya, saat acara Idul Fitri ramainya jangan tanya. Sampai tumpah ruah mleber-mleber kemana-mana. Isinya orang-orang muslim dari berbagai negara. Saya sholat disana sampai puyeng saat pulang.

Tapi mendingan, deh. Saat di kota kecil lebih parah lagi. Saya ingat, saat Idul Fitri jatuh di musim dingin, mesjidnya lagi di renovasi. Akhirnya muslim minoritas mencari tempat lain di sebuah tempat yang seperti gudang barang luas. Jauh banget lagi. Enggak apa-apa, pengalaman seru bagi saya.

boche.jpg

Bagaimana dengan Natal? Ah, kalau perayaannya jelas sama seperti di berbagai negara. Ramai sajian kue-kue macam Bûche de Noël . Kawan-kawan Prancis saya yang muda-muda tidak semua pergi ke Gereja. Lebih banyak kawan Indonesia yang merayakan itu lengkap dengan seremoni keagamaannya.

Orang Indonesia di Paris yang saya ingat dulu toleransi antar beragamanya gede. Saya ingat saat acara-acara PPI ada beberapa kali mengadakan kumpul-kumpul makan outdoor di halaman kompleks gereja. Saat acara beberapa kawan muslim hadir berdiskusi dengan Romo asal Indonesia yang memang tinggal disana mengakomodasi, terutama bila ada acara-acara kebudayaan. Saling membantu begitulah.

Berarti benar kan 93% angka diatas itu punya orang Indonesia ya hahaha…

Prancis adalah negara yang sangat kaya dengan kisah sejarah. Bila weekend atau libur salah satu hobi saya menjelajahi tempat-tempat bersejarah. Dari sana saya belajar pengaruh agama di Prancis jaman dulu itu kuat sekali. Terutama jejak-jejak kultur Katolik. Ingat buku The Da Vinci Code? Sampai habis saya berusaha menelusuri napak tilasnya…hahaha.

sulpice.jpg

Yang unik itu saat saya mengunjungi Saint Sulpice, mencari Rose Line. Mungkin pengurusnya sudah sebel banget sama kekepoan turis fans buku Dan Brown sampai ada pengumuman bahwa Rose Line itu fiktif. Nggak mungkin gereja dibangun di tempat pemujaan Pagan.

Intinya adalah semakin kemari, orang Prancis menjadi bersikap laicité atau sekuler. Dan mereka nggak berpura-pura religious juga. Tercermin dari sikap para politikusnya yang tidak terlihat di mata publik mempraktekkan itu. Nggak ada namanya sebelum maju ke pemilu sowan-sowan ke segenap ulama atau pemuka agama hahaha…

Karena sekuler, maka nilai-nilai agama yang dianggap “kurang sesuai jaman” dan “nggak masuk akal” banyak ditinggalkan. Di satu sisi ada positif, seperti berkurangnya konflik atas dasar agama, di sisi lain ada juga negatifnya. Yaitu jadi menganggap kecil nilai spiritual dan hal-hal di luar nalar dan logika manusia. Padahal dalam hidup kan banyak juga ya kejadian yang diluar pikiran manusia.

Lalu segala hal -yang seharusnya menjadi pelajaran karena sudah berungkali terjadi dalam sejarah- dianggap tidak ada. Kembali ke titik nol dengan pemahaman baru. Artinya ya..banyak manusia yang mencoba-coba lagi berbagai gaya hidup. Padahal waktu kita di dunia kan singkat banget, ya. Ah. Ok. Itu menurut saya,saja, sih.

Ini berarti tantangan besar bagi orang tua yang ingin anaknya dibesarkan sesuai keyakinan yang di anut. Karena nggak mendapatkan pelajaran itu di sekolah publik, biasanya diadakan di luar. Kalau untuk muslim Indonesia, saya melihatnya pada acara-acara keagamaan yang diadakan atas inisiatif orang tua disana, belajar mengaji, pelajaran agama, biasanya dibantu oleh mahasiswa-mahasiswa yang punya pengalaman. Bisa di kedutaan atau di tempat salah satu tokoh. Tentu saja itu perlu konsistensi, ya. Terutama bila pengajar datang dan pergi.

Kira-kira bagaimana menurutmu ?

Gambar : wikipedia.org.

7 Comments

  • Titik Asa

    Terima kasih atas tulisannya yang memberikan gambaran kpd saya bagaimana kehidupan beragama di Prancis. Bahasan lugas yg disampaikan dengan bahasa yang cukup simple.

    Asik juga bisa napak tilas dari Da Vinci Code. Saya hanya bisa menyimak film-nya saja.

    Salam dari saya di Sukabumi.

  • Ai

    Wah, menyenangkan kalau dosennya bertanya krn ingin tahu, bukan ngeles.

    Wow, mantaaap Mba, sampai menelusuri jejak buku Davinci Code, saya pengen lihat lukisan Monalisa aja, waktu itu museum Louvre-nya lagi tutup 😂
    Sudah baca buku berjudul Origin karya Dan Brown, Mba?

    Saya tau sedikit tentang sejarah dan perkembangan Islam di Prancis saat baca buku 99 Cahaya di Langit Eropa. Senang sekali baca artikel dari yg sudah pernah merasakan langsung tinggal di sana.

    • ExParisienne

      Pak dosennya baik. 😁
      Origin sudah dong. Cetakan pertama. 😂#diehardfans. Kpn2 bikin tulisan ttg napak tilas Da Vinci Code di Louvre. Asli. Mengejutkan.

      Sdh baca 99 Cahaya. Hm. Ada beberapa part yg setuju soal Paris tp ada part yg mengundang bnyk tanda tanya bagi saya ttg kebenaran sejarahnya. Kadang kita harus crosscheck dari banyak referensi. Sayangnya, cara berpikir dalam buku ini sangat sensitif untuk diterapkan di Paris

      • Ai

        Alhamdulillah dapat pak dosennya baik 😁

        Wow, super mantaaap 👏👏👏👏 seneng nih ketemu #diehardfans. Saya suka buku-buku DB, baru sebatas penikmat karyanya tanpa memusingkan pro dan kontra dengan karya DB.

        Ayo dong Mba, ditunggu banget tulisan dan ceritanya pasti menarik. Biar nambah pengetahuan, dan bisa bedain mana fakta sejarahnya dan mana yg bukan.

        Oh gitu…
        Terima kasih sarannya, Mba 😊🤩
        Saya belum banyak referensi dan semoga next ditulisan berikut-berikutnya Mba bisa sharing referensi.

  • Frany Fatmaningrum

    Ini sebab saya suka blog ini, mengulitinya dengan elegan dan terlihat well educated. Gak hanya bisa nyalahin / nguprek borok bangsa sendiri & bandingin dgn budaya di negara maju yg mayoritas bukan muslim seolah orang Indonesia busuk semua. Haha.
    Ternyata sekelas Prof di luar sana bisa kepo dengan caranya juga ya. Hehe.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this:
Visit Us On TwitterVisit Us On Facebook