kultur/budaya

Aïd Moubarak 2020

“Bonne fête, Aïd Moubarak

Que cette belle journée vous apporte le bonheur”

Demikian salah satu kartu berbahasa Prancis yang saya dapatkan di hari pertama Lebaran.

Artinya kurang lebih : Selamat hari Raya Idul Fitri. Semoga hari yang indah ini membawa kebahagiaan bagimu.

Karena pakai bahasa Prancis kedengarannya jadi romantis seperti di puisi-puisi hahaha..

Walaupun tengah dalam kondisi stay at home dan work from home, suasana lebaran di Indonesia tetap berasa. Paling diganti dengan berkunjung dalam jumlah terbatas, atau dengan menggunakan alat komunikasi macam Zoom

Dulu waktu saya Idul Fitri di Paris, kalau nggak pergi ke kedutaan atau di tempat yang ada orang Indonesianya, rasanya sehari itu kayak hari biasa saja. Orang tetap menjalani kegiatan sehari-hari. Paling ramai di dekat-dekat mesjid. Banyak orang pakai hijab, syal, dan tutup kepala berkumpul. Orang Islam dari berbagai bangsa. Mereka dalam masjid tumpah ruah beleber kemana-mana sampai ke area luar.

Sekarang karena COVID-19 orang bakal mikir-mikir juga, kali, ya. Apalagi Union des Mosquées de France (UMF), alias perkumpulan mesjid-mesjid seluruh Prancis, sejak awal adanya pandemi ini paling lantang menyarankan agar kesehatan penduduk jadi prioritas. Menyerukannya kepada semua pengurus mesjid seluruh dunia.

Bagaimana enggak, hadisnya menurut saya, sih, sudah jelas, ya, tidak bertentangan dengan logika keilmuan manapun. Nabi melarang umatnya meninggalkan wilayah wabah atau bila seseorang ada di luarnya, maka ia tidak boleh masuk ke dalam wilayah wabah itu. Mereka yang sakit dan tidak dipisahkan.

Bila melanggar tentu jatuhnya berdosa besar, karena selain membahayakan diri sendiri, bisa menyebarkan dan menulari orang banyak. Kenyataannya, di Indonesia orang masih ada saja yang pulang mudik, sampai ada bikin travel menyelundupkan pemudik segala. Hal yang sampai dibahas di media Barat termasuk Prancis France24.

Otoritas Paris bukannya nggak peduli dengan hari perayaan umat muslim sedunia itu. Biasanya tiap tahun ada ucapan-ucapan dari para petinggi dan politikus. Kalau kemarin, di Paris ada pertemuan antara imam besar Mosque de Paris dengan tokoh-tokoh penting di Paris setingkat Mayor (le marie), Anne Hidalgo dan Valérie Pécresse.

mos

Sumber gambar : grandmosquedeparis.net

Banyak hari raya yang harus dirayakan dalam jumlah manusia yang lebih sedikit. Tapi di Arab Saudi sendiri Idul Fitri sebelum masa Covid nggak dirayakan sampai heboh hingar bingar kayak kita. Relatif lebih sepi. Ramenya pas Idul Adha.

Mungkin sekarang kita perlu mempertanyakan juga, apa makna hari raya itu sendiri-lepas dari segala atribut budaya yang dari tahun ke tahun mengikuti. Apa saja yang sesungguhnya jauh lebih perlu dihayati…

Kepada teman-teman pembaca blog in yang merayakan, selamat Idul Fitri mohon maaf lahir batin bila ada salah kata dan perbuatan.

Bagaimana perayaan di tempat kamu?

Gambar fitur : actu.fr mosque de paris

7 Comments

  • ndu.t.yke

    Maaf lahir batin ya mbak Phebie. Di tempatku ada sedikit hidangan spesial (pesen katering wkwk). Tp lainnya ya biasa. Sholat Ied sendiri-sendiri, meski serumah. Lalu bermaaf2an. Lanjut komunikasi dgn keluarga besar via handphone.

  • Chamomile

    Mudik slundupan sampai masuk France24? Wow 😆 Selamat Idul Fitri mba. Saya anak kos yang lebaran sendirian gak bisa pulang dan ortu juga gak bisa mudik. Tapi masih dapat hantaran dari keluarga yg tinggal tidak jauh hehe

  • Ai

    Eid Mubarak Mbak Phebie, mohon maaf lahir batin.

    Di rumah sambil menikmati hidangan Khas lebaran. Habis salat eid bermaaf-maafan, makan, telpon dg keluarga.

    Susah ya Mbak kalau sudah tradisi dan budaya, meski tdk dicontohkan oleh Nabi, momen lebaran sepertinya masih tidak lepas dari mudik, kumpul-kumpul bersilaturahmi, dsb. Dan pandemik ini memberi saya pelajaran bahwa meski tidak kumpul langsung dg keluarga besar, momen lebaran tetap istimewa

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this:
Visit Us On TwitterVisit Us On Facebook