cerita,  kultur/budaya

Back For Good Or Stay?

Menetap di luar negeri berbeda dengan traveling. Kalau traveling suasananya liburan, tidak tinggal dalam waktu lama. Cinta kepada negara yang dikunjungi bersifat platonik. Seperti jumpa bintang film.

Iya, nggak, sih?

Semuanya begitu indah, seperti lagu di jingle iklan-iklan :))  Seleb aja sampai ada yang gegulingan di tanah saat travel di luar negeri.

Gimana, dong, dengan yang stay dalam waktu lama di  luar negeri khususnya negara Barat?

Awal tiba disana, umumnya merasa sama seperti para traveler, sumringah…horee….gue pengin kesini-kesitu, ibaratnya masa-masa bulan madu gitulah. Penuh gairah.

Naah. Namanya jugaaa bulan madu, kan ya?  Akan ada ending. Setelah itu, bakal kembali ke realita. Semua jadi kebiasaan, kemudian rutinitas, lalu mulai kelihatan mana yang asik dan enggak asik di negara tersebut.  Muncul kilas balik ingatan  saat tinggal di tempat sebelumnya. Perbandingan. Kebosanan bisa melanda. Hitungan proses ini bisa tahunan, tergantung sikon  juga. Kalau berbakat melow bisa galau terus.

Tentu saja ada yang makin melebur dan semakin sreg tinggal.

Pertanyaan kemudian, bagi yang dewasa dan punya pilihan  : ingin tinggal disana seterusnya atau pulang?

Nah, saya bertanya-tanya pada kawan-kawan senasib yang memilih stay dan back for good dari negeri orang (ga berlaku bagi cewe yang memang udah punya pasangan hidup disana, ya..ikut suami adalah keputusan terbaik).

download

Mereka yang kembali atau tidak adalah karena :

  • Keluarga, umumnya, sih anak pertama atau anak tunggal. Niat mengurus orang tua. Kalau saudaranya banyak, biasanya jauh lebih fleksibel untuk memilih tinggal di luar. Kebanyakan yang memilih ini, sebagai alasan utama, adalah mereka yang memang memiliki hubungan harmonis dan sangat dekat dengan keluarga inti, di tanah air. Atau, bila diluar faktor itu semua, memang ia karakternya sangat bertanggung-jawab. Jadi punya unsur psikologis juga. Namun ada juga yang justru pilih stay supaya bisa kirim duit ke keluarga. Alasan ekonomi.
  • Kultur dan agama. Apalagi bagi mereka yang sudah merasa nyaman dengan budaya sendiri : bosan jadi orang asing. Di luar negeri juga lebih senang bergaul dengan teman sebangsa. Sementara  yang dari awal sudah bercita-cita tinggal disana karena merasa lebih klop dengan kulturnya yang bebas, akan lebih fleksibel untuk memilih tinggal. Untuk muslim, tantangan tinggal disana bakal lebih gede (daripada di Indonesia). Terutama kalo ingin ketat. Saya saja ngalamin selama  disana bagaimana pengaruh dari lingkungan sangat besar.

 

  • Membangun keluarga. Ini umum terjadi pada mereka yang sudah cukup umur, terutama pria. Dan pilihan biasanya dengan orang sebangsa.  Saya jarang liat cowok Indonesia yang punya pacar cewek orang Barat sampai ke pelaminan. Bukan nggak ada. Jarang ketemu aja. Yang banyak, sebaliknya, cewek2 dengan pacar setempat. Jadi perkara membangun keluarga, bagi cewek lokasinya bisa lebih fleksibel.

 

  • Cari kerja. Terjadi pada yang belum, tidak dapat (ijin), atau berhenti dari pekerjaan di luar negeri. Nah, sebaiknya, sih, balik sebelum terlalu nyaman tinggal disana dan network yang pernah dijalin memudar. Bagi yang dapet kerja disana, umumnya udah nyaman dengan fasilitas yang ditawarkan dari jaminan kesehatan, pensiun, dsb. Bisa biayai keluarga juga. Sehingga bayangan balik ke kampung bisa jadi sangat dilema. Selalu ada kasus single yang takut untuk balik, walaupun disana kerjanya, ya, biasa-biasa dan pas-pasan. Karena sebiasa apapun kerjanya, saat pulang kampung, lebih banyak yang menghargai karena kerja di luar, apalagi di Barat.  Back for good? Belum tentu dapat kerja dengan standar sama, dapat tekanan budaya disuruh kawin pula, oh noo…..Intinya, ada beban psikologisnya. Apalagi cewek.

Tentu saja banyak juga survivor, baik disana maupun disini Yang disini, mereka berhasil mulai dari nol dan menikmati kembali tinggal di Indonesia. Sudah sembuh dari reverse culture shock. Beberapa yang beruntung,  ga ngalamin itu sama sekali.

Bagi yang memiliki anak yang sudah sekolah,  penting untuk memantau perkembangan kejiwaan mereka juga. Apalagi target potensial anak yang disasar tindak bullying umumnya adalah mereka yang “berbeda”. Kita hanya perlu menjalani semua secara nyata, kok.

Yang bisa saya simpulkan,  keputusan kita sebetulnya dipengaruhi prioritas-prioritas hidup di atas. Dan segala permasalahan, entah itu soal penghargaan, penerimaan, ketakutan-ketakutan, tidak tergantung pada dimana kita berpijak, tapi disebabkan oleh yang disini nunjuk ke kepala menuju kesini nunjuk ke hati.

Itulah jarak paling jauh dan paling sulit ditempuh oleh seorang manusia.

Ngalamin, nggak, atau pernah punya kenalan melewati tahap diatas?

Gambar fitur : pxhere.com

0 Comments

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this:
Visit Us On TwitterVisit Us On Facebook