kultur/budaya,  opini

Beda Pendapat di Barat dan Indonesia

Belakangan ini marak di berita dan di media sosial tentang isu kampanye-kampanye dengan berbagai story sesuai sumber masing-masing. Saya jadi deja vu.

Kalau dulu di negara Barat, bicara politik menjadi hal yang sangat disukai oleh teman-teman. Seperti kudapan risoles yang harus hadir setiap sore. Apalagi jelang pemilihan perdana menteri. Bisa sampai berbusa-busa kawan-kawan bule  kalau sudah bicara soal kandidat kesayangan.

Bila ada siaran langsung. Hukumnya wajib ‘ain nonton.  Maklum di negeri demokratis dimana setiap warga merasa harus mengaspirasikan suara, adalah hal aneh bila kita bangga bilang golput. Walaupun saya tahu ada juga yang suka kaburan dengan alasan sibuk ini-itu. Tapi mereka bisa merahasiakannya dengan teramat rapi.

Cuma mungkin ini hanya keberuntungan saya atau apa. Selama tinggal disana, pengalaman salama itu sebeda apapun opini atau pandangan politikmu, semua tetap teman baik.

Paling ejek mengejek saja kalau ketemu.

“Dasar …..-an.”

Tapi, ya, sudah gitu aja. No hard feeling. Apalagi sampai unfriend dan menolak berkomunikasi lagi sampai bertahun-tahun. That’s weird. Kayak anak kecil saja, kalau kata mereka.

Yup.Gampang buat mereka. Dari kelas dasar bahkan mungkin TK sudah dibiasaan beropini dan menghormati opini orang.

Itu bagusnya. Tentu saja dampak nggak bagusnya juga ada. Yang manapun, itu semua memperkaya pengalaman saya juga.

Bagaimana posisi saya sekarang?  Yang “katanya” pernah mengalami pemikiran demokratis barat yang diwajibkan untuk berpikir kritis? (kedengarannya kelewat gimana gitu wkwk). Padahal harus melebur kembali dengan pemikiran-pemikiran negara timur…

Eng…Biasa juga, sebetulnya.

Tapi bohong…..hahaha….

Jujur saja, di Indonesia, saya paling menghindari polemik, karena seringkali nggak ada ujung atau solusinya. Apapun opinimu, hasilnya malah menghancurkan banyak hal yang sudah lama terbangun.

Saya pernah mengalami bergaul, walau tidak terlalu dalam, dengan kelompok kiri dan kanan.  Yang paling kebaratan dan paling ketimuran. Agamis, atheis, sebutlah yang -is, -is (kecuali yang berbahaya dan mengundang resiko bagi masa depan tentu saja hahaha)..

Yang ada dalam menyampaikan pendapat harus main cantik supaya rasa saling menghormati tetap terjaga. Kalau sudah gejala jenuh dan akan berakhir jadi debat kusir paling pergi melipir. Reses. Silaturahmi tetap. Senyamannya saja tanpa perlu dipaksakan.

Kuncinya kalau di Indonesia itu, dengar dan hormati pendapat, tahan untuk tidak terlalu spontan bicara.  Karena disini tidak dibiasakan dari kecil untuk berbeda pendapat.  Jadi saat muncul era keterbukaan, orang baru memahami konsepnya, tapi perasaan dan egonya masih ikut main. Saya sering lihat kasus orang yang sebetulnya pintar tapi malah kok, kurang bisa logis dalam suatu kejadian …selidik punya selidik, oh, karena ternyata di area itu perasaannya sudah kena

Bisa, sih sampai ke level bisa to the point ke seseorang, tapi prosesnya lebih lama dan muter-muter dulu hahaha. Seperti seseorang itu harus percaya dan kenal dulu sama kita, tahu background, dsb. Di Barat. argumen apa sampai sore juga ok karena sudah jadi hal biasa

Lebih banyak mendengarkan, ini saya terapkan saat di Indonesia, atau dengan orang Indonesia (walaupun yang sudah lama tinggal di LN sekalipun). Menurut saya semua unggah-ungguh itu bukan hal yang buruk juga, karena orang Barat pun ada mengakui beberapa poin pergaulan, yang merupakan hasil kepekaan orang Timur. Kalau nggak percaya silahkan baca bukunya Dale Carniege, How to Win A Friends and Influence People.

Dampak positif dari “mendengar” itu bagi saya, kita jadi lebih mudah memahami kenapa orang bisa menjadi -is ini atau -is itu.  Tanpa harus setuju 100%, tapi setidaknya saya bisa membaca perasaannya, latar belakang sejarah, kenapa dia sampai mengambil langkah yang diambil sekarang. .

Dampak negatifnya, terlalu “mendengar dan menghormati” juga ada! Hahaha…

Bila lagi lintas kelompok, saya kadang suka garuk-garuk helm kalau ada orang bicara ekstrim tentang kelompok lain.

Misal saya ada di kelompok A. Nah, kelompok A ini tiba-tiba bahas kelompok B yang begini dan begitu. Padahal saya pernah bergaul dengan  di kelompok B, sehingga mulut rasanya seperti dikilik-kilik sapu lidi, kepengin nyeletuk,

“anu, mereka nggak gitu banget kok…”dan menjelaskan segala yang saya tahu….

Demikian juga bila saya ada di kelompok sebaliknya.

Tentu saja saya nggak mungkin melakukan penyanggahan.  Kesannya kayak ngetroll kalau beda opini saat berada di kelompok mayoritas bilang yes.  Jelas nggak tahu juga bagaimana kondisi mereka yang lagi semangat bahas, lagi stress kah atau lagi main di pantai kah, atau lagi kena macet?  Jadi saya gigit lidah saja kuat-kuat, menonton sambil menikmati cemilan dingin apapun yang terhidang di depan mata.

Dulu saya begitu, sekarang sih sudah nggak perlu cari cemilan dingin lagi supaya tutup mulut hahaha.

Moga-moga bukan ignorant, tapi  namanya pendewasaan (keren ya)  Katanya, sih, kalau sudah lama beradaptasi tapi masih ada rasa panasan artinya ada sesuatu yang belum selesai di diri kita. Harus dituntaskan permasalahannya.

Kesimpulan, banyak hal di dunia yang lebih banyak bermain di permainan prasangkanya. Proses untuk mendengar dan memahami itu dipersulit, mungkin karena takut kalau memahami itu berarti  jadi lemah, lalu goyah dan setuju. Padahal kan bukan berarti begitu. Apalagi bila kita pada dasarnya sudah yakin.

Ya. Kadang manusia sendiri, termasuk saya, yang sering menjadikannya begitu rumit.

Gimana menurut kamu soal menghargai perbedaan bependapat di barat dan disini?

Gambar fitur : tharawat-magazine.com

11 Comments

  • denaldd

    Sampai pernah ada yg nulis di twitter kalau di Indonesia hubungan pertemanan akan berubah kalau sudah memasuki musim pil pil-an.
    Aku pernah lho dicap sebagai “Si Sesat” oleh yg Is Is itu. Nelongsonya bukan karena tuduhannya, tapi karena yg melabeli itu adalah teman dekat sendiri. Ah, aku kalo mengingat hal itu jadi sedih. Karena memang pada akhirnya kami memilih jalan yg berbeda setelah pergumulan pendapat. Aku yg terlalu speak up dan selalu berpikir dengan logika, realistis dan berdasarkan data yg ada, ga bisa “ketemu” dengan mereka yg selalu bawa ayat2 dan dalil agama.

    • ex-Parisienne

      Ikut sedih..tapi ya yg kyk gitu sering kejadian..ya krn ada sedikit rasa tinggi itu..pdhl kita itu siapa, ya, sama2 mns jg..Tapi pengalaman, diantara teman2 yg jadi spt itu suatu hari tau2 suka ada rasa kangen lalu mulai ingat yg baik2 lg dr tmnnya, kesamaan2 selanjutnya cari2an lg. Walaupun ga secepatnya bisa tahunan..biasanya jg sdh lupa dulu tengkarnya krn apa…moga2 kejadian ya

  • Crossing Borders

    Saya lupa pernah komentar di blogmu ini gak ya.. Tapi salam kenal ya.. Tulisan ini “gw banget”😄 Maksudnya saya juga sering mikir-mikir hal begini.., sambil bertanya dalam hati, ini orang lain ada gak ya yg berpikiran sama.. Kalo lagi di Indonesia atau bersama orang Indonesia sering saya merasa harus lebih “hati-hati” ngomong supaya gak nyinggung.. Tapi anehnya banyak orang yg ngomong negatif tanpa peduli perasaan orang lain..

    • ex-Parisienne

      nggg…maaf saya lupa juga bows haha..salam kenal ..tenang, ini ada temennya kok disini…ya ngomong negatif itu mudah kl org merasa ada di posisi aman…tp kl tnyt ada resiko, atau prnh pengalaman ada di posisi org lain, mgk beda lagi ceritanya…:)

  • Frany Fatmaningrum

    Salam kenal. Kalo saya malas bicara politik, amati, dan pilih. Gak usah banyak cing cong. Ngebelain sampe segitunya memang dibayar berapa?! Apa untungnya juga?! Apapun itu kan pilihan masing2. Yg pasti terlihat jelas Indonesia belum siap berdemokrasi.

  • penulismalas

    Mbaa, baca ini aku merasa kalau unek-unek aku terwakilkan untuk dicurahkan #semogakalimatnyabener

    hehehe kalo aku pribadi menilainya yaa justru kalo diskusi dengan orang barat tuh enak aja karna jarang mereka pake perasaan dan ego untuk mendominasi dalam pembicaraan, mungkin karna mereka paham dengan ‘menghargai perbedaan pendapat dan pilihan hidup’ masing2 orang yaa… jadi apa pun yang ingin aku katakan, enteng aja sih dikemukakan tnpa harus merasa ‘ditolak’ atau ‘dihakimi’ heheh

    trus, kalo misalnya diskusi dengan sesama orang Indonesia..hmmm gimana yaa heheh (maaf-maaf nih) emang sih harus pinter2 kontrol opini karna takutnya bisa baper, they’ll gonna feel bad, dan yaa gitu deh mngkin bisa mndapatkan penolakan.. karna ‘harusnya kamu begini, karna kamu orang sini’ #eaaahhmintamaafkarenacurhat 😀 😀

    • ex-Parisienne

      gapapa hehe….iya, semua ada efek positif dan negatif, tapi semua orang pada dasarnya ingin didengar dan diterima dulu apa adanya opini mereka, sayangnya banyak dari kita masih suka “kurang sabar” dan lebih cepat menghakimi.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: