opini

Je Suis Charlie, Je Suis Ahmed

 12 orang tewas dalam pembantaian paling berdarah di Perancis dalam 50 tahun terakhir.
Berawal dari penembakan di kantor sebuah majalah satir Charlie Hebdo, yang  karikaturnya sering menyindir banyak pihak.  Sindiran tersebut sangat pahit sampai seolah bisa menelanjangi orang *keringat dingin*
Pembunuh ditengarai berasal dari kelompok Islam militan. Korban jatuh adalah editor, pekerja, media, orang-orang yang kebetulan berada disana, dan dua orang polisi.

Sejak menayangkan karikatur yang dianggap menghina, kantor Charlie Hebdo dijaga oleh petugas polisi. Salah satu polisi patroli bernama Ahmed Merabet, seorang muslim, salah seorang korban. Dia jatuh di trotoar dengan luka-luka, mencoba berdialog dengan para teroris, namun berakhir dengan ditembak dari jarak dekat di kepala.

“Dibantai layaknya seekor anjing.”, ucap rekan polisi yang melihat kejadian di video amatir.

Aneh, bila saya tidak tergerak menulis kejadian ini, karena pernah menjadi minoritas disana, dan sedikitnya paham seperti apa kondisi masyarakat Paris

Ijinkan saya mendongeng sebentar…

etoile

 

Sekilas Tentang Paris

Paris yang terkenal akan keindahan sebetulnya adalah kota megapolitan dengan penduduk multietnis.  Sama dengan penyakit kota-kota besar di dunia, mereka individualis sekali. Yang tinggal di jantung kota Paris biasanya hidup dengan  di apartemen-apartemen tua (bukan milik sendiri), dengan harga sewanya tergantung arrondisement (wilayah).

Di wilayah elit, harga sewa apartemen bisa meroket. Tapi kita dimanjakan oleh hal-hal cantik, seperti fasilitas-fasilitas, transportasi,  pemandangan, sampai tetangga-tetangga- yang meski ada seolah tiada- taat peraturan

Di wilayah yang biasa-biasa, kita bisa melihat sedikit kekumuhan disana sini (beda dengan kelas kumuh dengan kita ya), tempat penduduk dari ras multi etnis, imigran, dengan segala intriknya.

Kemudian melipir ke daerah banlieu, pinggir kota Paris. Suasana jauh lebih “tenang”, karena wilayah tempat tinggal, serta supermarket-supermarket raksasa. Penduduk asli banyak tinggal di daerah sana,  jauh dari hiruk pikuk. Walaupun mereka dalam keseharian bekerja di dalam kota Paris, setiap pagi mereka bangun pagi dan naik kereta luar kota RER yang selalu ontime (kecuali ada pemogokan).

Masalah Imigran

Itu adalah isu pelik sejak pemerintahan Jacque Chirac.

Para imigran ada yang berstatus sans papier, tidak ber-KTP.  Tanpa papier, sulit mendapat pekerjaan, jaminan, tunjangan kesehatan, dsb. Belum diuber-uber petugas imigrasi.

Imigran yang resmi menjadi warga negara tetap minoritas di kota itu. Bagi semua warga negara berlaku  liberte egalite fraternite. Namun bagi yang melanggar aturan, hati-hati saja. Para sans papier  beretnis tertentu dalam sejarahnya seringkali melanggar peraturan, sehingga mendapat “cap” tidak terucap dari masyarakat, prejudice, dalam jangka panjang sangat menyulitkan keturunan-keturunannya untuk mendapat penilaian yang adil. Terutama di mata calon pemberi kerja.

Makin rumit, penduduk asli Perancis berpikir dua kali untuk menikah dan memiliki anak. Populasi mereka mulai mengalami penurunan, dan pemerintah memberi banyak iming-iming agar mereka ingin punya anak, seperti jaminan-jaminan. Di sisi lain, kaum imigran  tidak terlalu pikir-pikir untuk menambah jumlah anak. Etnis imigran tertentu juga kaum-kaum yang gigih.  Perusahaan-perusahaan banyak suka, meski mereka ada kebijakan sendiri soal pemberian kerja.

Tetapi ada juga etnis imigran yang sulit melebur sepenuhnya karena memiliki budaya yang bertolak belakang dengan kebiasaan penduduk asli. Mereka membentuk kelompok-kelompok sendiri yang sebagian kecil tidak bicara berbahasa Perancis.  Semakin banyak populasi, semakin nyaman dalam kelompok sendiri.  Maka tidak heran, setelah isu imigran, isu berikutnya adalah masalah perut seperti, perebutan lapangan pekerjaan, baru populasi, serta penetrasi kebudayaan.

Karakter Orang Prancis

Permasalahan-permasalahan inilah topik lezat majalah satir (selain politik tentu saja) seperti Charlie Hebdo. Mereka gemar menyindir tentang kebiasaan, pola pikir etnis lain, yang di mata mereka ajaib sampai ke tingkat ekstrim. Majalah ini tentu punya target audiens yang setia, niche-nya di masyarakat Perancis.

Karakter orang Prancis sendiri, terkenal blak-blakan dalam mengekspresikan sesuatu, melebihi orang Amerika,  menurut saya.

Mereka suka ceplas-ceplos, suka debat, penuh kritik dan keluhan. Itulah darah mereka.  Sesuatu yang membuat mereka unik.

Untuk kaum wanitanya sedikit agak “mahal”, senang  menjaga jarak, tapi kalau sudah kenal banget, mereka akan ingat kamu sampai bertahun-tahun.  Kaum prianya,  sedikit komikal, tapi mengobrol dengan mereka, mengasyikkan,  saya suka teringat tokoh-tokoh di komik Asterix.

Walau keliatannya malas-malasan dan nyantai, generasi muda Prancis super kritis, ingin tahu, mempertanyakan segala hal. Bagi yang punya darah petualang mereka tidak ragu untuk melempar segalanya untuk bisa pergi mengeksplorasi  dunia, dari Afrika sampai Cina. Demi penelitian atau sekedar merasakan adrenalin lebih.

Namun kehidupan sehari-hari mereka sebetulnya nggak beda jauh dengan kita.  Jadi nggak seperti yang digambarkan di TV, kalau patokan kamu adalah keluarga Kardashian. Mereka yang berasal dari “kampung”, umumnya dekat sekali dengan keluarga. Dan keluarga mereka juga biasa sekali.  Ada yang taat beragama, ada yang tidak.

Jadi, orang Perancis itu sangat berbudaya dan kritis. Mereka memang memberi kebebasan lebih dalam berekspresi karena sadar, apa yang membentuk peradaban mereka, sumber dari penemuan-penemuan.

Dalam sejarahpun, mereka mengalami banyak penjajahan menyakitkan. Dari penguasa seberang lautan, raja yang semena-mena, sampai pemerintahan tiran. Jangan lupa, rakyat Perancis adalah rakyat yang pertama, di masa lalu, yang memenggal kepala Raja dan Ratunya sendiri, untuk memulai pemerintahan yang jauh dari kata absolut.

Kota Paris sendiri adalah saksi sejarah peristiwa-peristiwa brutal dan berdarah melihat proses warganya menemukan  bentuk “liberte egalite fraternite”, yang tepat. Contohnya adalah di masa pemerintahan teror, dimana banyak orang bakal kehilangan kepala bila di cap sedikit saja sebagai penentang revolusi *leher mendadak gatal2*

guil

Masa pemerintahan teror di Paris (sumber : britannica.com)

Jadi bagi orang Perancis kebebasan berekspresi adalah segalanya.

Bagi mereka kebebasan itu telah  melahirkan seorang J.J.Rousseau, Voltaire, dsb.

Kalau kamu enggak setuju dengan yang mereka katakan, silahkan debat.  Kasih kita argumen kenapa, dan kalau perlu balas kita dengan tingkat pemikiran yang sama.

Kita bisa memahami bagaimana terpukulnya perasaan mereka ketika terjadi penembakan itu.  Mereka bukan hanya shock oleh kekejaman yang hadir, tetapi juga merasa “diserang” secara darah dan daging (sakitnya, tuh, disini). Walaupun memang itu atas sesuatu tulisan yang tidak terpuji, bahkan kadang menyakiti perasaan orang lain.

Padahal beberapa dari mereka, yang  jarang bergaul dengan budaya lain,  sehingga sulit sekali menerima, bahwa ada yang tidak berpikiran bebas seperti mereka. Sama seperti saat mereka heran kenapa kami orang Asia kebanyakan tersenyum.
Namun di sisi lain mereka harus menghormati itu.
Jadi ketidaksetujuan, kenyinyiran, dan paranoia,  kebanyakan juga disalurkan lewat  ekspresi dalam bentuk karya seperti tulisan, satir, dsb. Setiap media memiliki segmen konsumennya sendiri. Dan Charlie Hebdo juga.
Umat Muslim di Prancis

Mereka umumnya pasif, keturunan imigran. Seringkali generasi muda mereka sudah mulai tertular oleh budaya setempat. Seperti baju yang bebas untuk berjemur, di bulan Ramadhan masih berpuasa dari pagi hingga malam. Atau ada yang sholat 5 waktu namun masih minum-minum.  Bagi yang taat, mereka saya lihat lebih tertarik pada ibadah, bersama kaumnya masing-masing, kebanyakan berkumpul di masjid.

Masjid disana memang tidak sebanyak di Indonesia, tentu saja. Kadang hanya ada satu di satu kota. Saat saya berada di daerah , bila mesjid satu-satunya sedang di renovasi, kita umat Islam memanfaatkan sebuah bangsal besar di tempat terpencil untuk sholat Ied. Ketimbang mengeluh, saya melihat kesantunan dan kekhusyukan yang  sangat bagus dari mereka, yang kebanyakan imigran.

Saat terbit komik yang menghebohkan umat muslim itu, umat Islam disana protes keras sesuai peraturan dan jalur yang ada.  Memang kalah, karena sekali lagi gara2 kebebasan berekspresi itu. Namun apakah merasa perlu melakukan tindakan sampai demikian ekstrim?  Mereka pasti sudah cukup disibukkan menghadapi anggapan2 masyarakat dan berbagai persoalan hidup sebagi minoritas, sejak peristiwa 911. Dan karena sudah  lama tinggal disana, umumnya juga sudah terbiasa. Berbeda dengan di negara2 lain, seperti negara kita contohnya.

Bila penyebab peristiwa itu adalah politik dan kebijakan luar negeri pemerintah Perancis,  yang akan menderita kerugian adalah kaum imigran dan umat muslim disana.  Masih banyak yang masih melihat umat muslim sebagai satu simbol, bukan individu. Tindakan pemuka agama yang reaktif, cepat, mengutuk tindakan itu sebetulnya sangat dibutuhkan, untuk memisahkan diri dari perbuatan entitas yang mengaku-ngaku muslim itu. Hanya media-media tertentu jarang mempublikasikannya. Tidak seru, mungkin, bagi mereka.  Dan islamophobia berkembang.

Ketika ada pendapat disini yang mengatakan bahwa majalah itu perlu “belajar untuk tidak memburukkan keyakinan orang”. Saya merasa hal tersebut sangatlah sulit. Karena seperti yang sudah saya jelaskan panjang lebar diatas, itu bukan “darah dan daging” mereka, yang haus akan kebebasan berekspresi.

Konsekuensinya adalah, bila yang diekspresikan adalah hal yang provokatif,  akan lahir banyak ketidak-setujuan, kebencian, dsb. Kebebasan berekspresi provokatif dan mengolok-olok harganya adalah represi keras atas perasaan2 manusia yang mendasar, yaitu  rasa tidak nyaman, sakit hati dan marah. Hal yang akan mudah sekali dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Kita boleh menulis dan menggambar apa saja, tetapi seharusnya hanya KITA yang  bertanggung jawab sepenuhnya atas  apa yang kita tuliskan.  Namun pada faktanya dunia tidak berjalan demikian. Pasti akan ada orang2 yang harus menjadi “tumbal”.  Setelah apa yang dia tabur, si sasaran kebencian harus dijaga lebih ketat lagi dan lagi dan lagi. Itu sudah terjadi sejak berabad-abad dalam sejarah.
Bagi saya, tanpa mengurangi rasa respek, Charlie Hebdo, sebelum kejadian ini, ya, sebetulnya majalah satir biasa-biasa saja, cenderung naif.  Tentu saja memperolok minoritas di negara sendiri bukan tindakan orang besar, apalagi  heroik. Namun membunuh, selain keji, hanya akan membuat mereka  menjadi legenda.  Suka atau tidak, sekarang Charlie Hebdo menjadi terkenal ke seluruh dunia.

Dan akan berjatuhan korban-korban sebenarnya, seperti seorang polisi bernama Ahmed dan masyarakat imigran. Tidak, mungkin akan lebih banyak lagi yang tidak terlihat.

“Je Suis Charlie” adalah hastag  solidaritas yang mewakili  dunia untuk bilang “Saya juga seorang Charlie”.   Yang tidak melakukan itu bisa seolah dianggap “lawan”.   Padahal tidak semua orang mau jadi “Charlie”.  Bebas berekspresi setuju, namun mengejek keyakinan orang lain, belum tentu ingin.

Sebagai respon, muncul hastag baru “Je Suis Ahmed”, yang tampak mulai banyak di retweet.  Setidaknya bisa memberi alternatif  bagi mereka yang bertanya-tanya seperti apa sebetulnya tindak kepahlawanan.  Berawal dari sebuah tweet yang  mewakili  tragedi yang sesungguhnya.

 

  “Saya bukan Charlie. Saya, Ahmed, si polisi yang tewas. Charlie telah mengolok-olok keyakinan serta budaya saya, dan saya kehilangan nyawa demi menjaga haknya untuk melakukan itu.”

 

 image : rt-com,britannica.com, atlantic-community.org, nyhabitat.com

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: