cerita

Jean, si Bangsawan

Dari kemarin saya cerita kawan cowok Perancis yang serius-serius ya. Ganti tone, ah, biar nggak bosen. Sebetulnya banyak banget yang konyol, sih. Hahaha..😁

Kali ini adalah kawan sekampus saya yang lain di Paris, sebutlah namanya Jean.

Setelah lama bertemu kawan cowok demi cowok di Perancis dari satu tempat ke yang lain, saya mikir-mikir, tidak ada satupun tampilan dari mereka yang mirip di film-film (film Perancis lah, paling nggak, bukan Hollywood).

Rata-rata dari mereka tipikal mahasiswa dengam tampilan santai, baju standar sweater lengan panjang agak kedodoran. Kadang wajah seperti baru bangun tidur (apalagi musim dingin). Eh. Kecuali lagi acara di luar ya, pergi dengan ciwi ciwi, kalau itu sih mendadak jadi ganteng hahaha.

Semua itu sebelum saya bertemu Jean.

Belum pernah saya lihat kawan cowok Perancis sepertinya. Rambut cokelat kehitaman yang halus, rapi dengan potongan pendek model terbaru, wajah maskulin putih bersih, bola mata gelap, alis yang proporsional, lalu …padanan bajunya itu…TIDAK PERNAH kelihatan jelek! Nggak ada itu namanya jaket atau t-shirt yang seolah menjerit minta disetrika. Koleksi bajunya kelihatan bukan dari brand kaleng-kaleng juga. Sepatu selalu bersih.

Kalau dia duduk, sosoknya kelihatan paling kinclong. Ter-stylish. La classe. Jean itu…seperti tokoh yang muncul dari majalah-majalah mode pria. Ciri khasnya adalah segaris senyum tipis di wajah. Mirip senyuman Sean Connery di film jadul agen rahasia James Bond 007.

Tapi figurnya sendiri secara keseluruhan lebih persis tokoh Eames (Tom Hardy) dari film Inception- versi yang lebih mudaan dan rapih, ya.

Pokoknya segerlah kalau lihat tampilan dia di kelas. Nggak bikin mata jadi belekan…

Saya beberapa kali kebagian tugas kelompok bersamanya (dan satu orang lagi). Yang pertama saat riset blusukan di sekitar daerah Place Vendôme. Saya suka ngeliatin caranya bicara yang cuek, dengan dagu yang selalu terangkat dan manner yang terjaga sekali. Saya menebak-nebak, dia ini kalau nggak anak orang kaya mungkin keturunan bangsawan daya khayal cewek up to 100%.

vendome.jpg

Place Vendôme sumber : commons.wikimedia.org

Kalau di Indonesia dia bakalan habis tak bersisa jadi target ciwi ciwi bule hunter!

Kami lanjut ngopi-ngopi di kafe daerah situ. Jean senang bercerita tentang tempat-tempat yang keren di sekitar lingkungan ini. Keliatan dia doyan kongkow-kongkow disana (saya mah gak akan kuat, 1ere arrondisement sini daerah mahalll). Menjelang malam, cowok itu masih semangat- ingin mengajak kami “lanjut” ngopi-ngopi di tempat lain. Tapi, nggak deh, saya pilih pamit duluan, bisa bangkrut kalau kelamaan di daerah borju gini. Malu juga kalau tiap kali minumnya une carafe d’eau (air putih, bisa minta gratis). Wkwkwk….

Di awal-awal Jean itu terkesan angkuh (apa karena dagunya keangkat terus ya?). Tapi semakin lama bikin proyek bareng, dia mulai mau mendengarkan walau tetap terlihat cuek. Saat itu saya mulai merasakan selera humornya yang khas. Hm. Mungkin kemarin-kemarin itu dia masih ja’im abis!

Dalam kerja kelompok, Jean juga selalu tampak menonjol dan memegang kendali. He’s not the sharpest guy in the drawer, but he has charisma.

Dan itulah Jean di bulan-bulan pertama.

Di bulan-bulan kelima dan keenam…

..…dia nyaris tak pernah hadir.

Kami sekelas saling berpandangan, setiap habis absensi.

Ini cowok kemana, ya?

Maklum, absensi juga bagian dari syarat kelulusan. Tapi anak Parisian-nggak terlalu nosy sama urusan orang. Hidup-hidup dia ini. Lagipula semua sudah sama-sama gede.

(Mata) saya agak kehilangan Jean, sih. Nggak ada lagi permainan tebak-tebakan dalam pikiran saya : si “bangsawan” hari ini akan pakai outfit kayak apa. Dior kah? Saint-Laurent kah? Haha kok demen banget saya sama koleksi bajunya, ya. Sulit memang menghapus image la classe cowok bule itu.

Hingga suatu hari..

Professeur kepala jurusan kami agak telat mengajar. Dia kelihatan sibuk berbicara dengan beberapa orang. Saat beliau tiba, wajahnya lumayan kusut. Bertanya kepada kami semua dari depan kelas..

“Kalian ada yang tahu Jean dimana?”

Hening. Semua orang bertatap-tatapan.

Professeur mulai menghembuskan nafas masygul.

“Tadi orang tuanya datang ketemu saya, nyariin dia. Kata mereka selama ini dia ngakunya datang ke kampus.”

Bayangan Jean, dengan figur bangsawan anggunnya, penampilan berkelas yang keren dan so stylish…langsung pecah berkeping-keping di hadapan saya.

download (3).jpeg

PRANG!

Saya menggigit bibir kuat-kuat…

Jean itu…

…ternyata..
.
.
.
.
.
.

…anak bandel??

YAK AMPUN!

Saya suka geleng-geleng kepala sendiri kalau ingat ucapan dan ekspresi pusing professeur di hari itu. Ya. Kita semua anak-anak sekelas pada nggak nyangka. Karena dia kelihatan dewasa banget. OK, OK. Orang bule memang kelihatan cepat dewasa, sih. Tapi tapi kaaan…wkwkwk..

Dan sejak saat itu Jean tidak pernah datang lagi ke kampus.

Agaknya memang ada drama di keluarga dia. Biasalah. Cerita anak yang menolak terlalu diatur oleh orang tuanya, padahal dia sendiri emoh melanjutkan kuliah. Saya baru tahu hal yang seperti itu ada di Perancis. Kirain cuma ada di sinetron-sinetron Indonesia. Wahahaha..

Apakah itu terakhir kalinya kami mendengar berita tentang Jean?

Ternyata sebaliknya.

Jean masih sering kontak-kontakan dengan beberapa sohib bule cowok di kelas. Dia selalu dikabari jika kami semua ada proyek blusukan di luar, atau kumpul-kumpul ngopi bareng. Tiba-tiba saja PLOP dia akan hadir di TKP- bergabung dan ngobrol-ngobrol dengan kami seolah tidak pernah ada kejadian apapun.

Saya sampai terheran-heran.

Ampun, deh, pikir saya saat itu, memandang sosok Jean yang tiba-tiba nongol- sibuk menyapa semuanya. Ini cowok kemana aja…dan kenapa enggak ada malu-malunya sama sekali? Padahal udah cabut kuliah, dengan klimaks yang heboh bawa-bawa ortunya. Masih cuek aja untuk tetap ngintil dengan acara kawan-kawan sekelas.

Namun setelah saya pikir-pikir.

Kenapa tidak?

Memangnya orang Asia…yang gengsinya kadang selangit kalau merasa gagal, lalu langsung ngilang, nggak pernah keliatan lagi? Khawatir di bully atau, dijauhi karena dianggap orang kalah dan bermasalah.

Saya angkat topi dengan sikap Jean. Cowok itu benar-benar cuek bebek sportif. Dan di luar dugaan…dia setia kawan. Dia memang meninggalkan kampus. Tapi bukan meninggalkan kawan-kawan sekelasnya.

Saya juga salut pada kawan-kawan sekelas disini, para bule Perancis, Jerman, Italy, dan Spanyol (kita mah Asia cuma nonton). Dari hari pertama ketemu Jean lagi, nggak ada sedikitpun nada bully, kepo, mempermalukan, ataupun merendahkan keluar dari mulut mereka. Dia tidak dianggap anggota yang gagal.

OK. Jean memang sudah keluar. Tapi dia pernah jadi bagian dari kelas. He’s one of the guys. Tidak ada seorangpun yang meenyinggung-nyinggung urusan masa lalu Jean.

Lo nggabung ya, nggabung aja sini. Kita semua senang-senang. Kira-kira begitu.

Mungkin itu sebabnya jarang ada berita anak muda Perancis yang bunuh diri karena gagal studi. Bandingkan dengan di Asia. Dimana orang tua punya ekspektasi kelewat tinggi serta terlalu berpatokan pada pandangan masyarakat sehingga membuat anak jadi tertekan.

Walaupun anak orang kaya, Jean bukan pemalas juga. Dia cerita lagi sibuk cari kerja. Orang tuanya punya perusahaan yang bergerak di bidang fesyen kalau nggak salah, tapi dia nggak mau kerja sama mereka. Mau mandiri aja.

Itu cukup menjelaskan semuanya.

Dan makin kemari hilang pula imajinasi liar saya tentang kebangsawanan Jean. Lol. Yang saya lihat sekarang, dia sama seperti cowok sekelas lain, cuma memang agak bandel sekaligus… konyol. Ember. Aslinya Jean ternyata nggak pernah serius! Ngebanyol melulu. Hidupnya sangat laissez-faire!

Jean rajin berkomunikasi dengan kami. Dia juga nggak ragu bantu banyak hal juga yang berhubungan dengan tugas kampus. Itu sebabnya ia disayangi kawan-kawan sekelas. Merasa aneh kalau setiap acara kumpul kami nggak ada Jean.

Beda dengan di awal-awal perkenalan, sekarang cowok bule itu kelihatan lebih lepas dan tidak ja’im. Mungkin beban dan masalah keluarganya sudah selesai, ya. Entahlah. Yang jelas sejak memutuskan berhenti itu, dia sibuk mencari pekerjaan. Tahu sendiri, bila hanya menganggur di rumah, di kota besar macam Paris ini, kamu akan merasa sangat kesepian, bisa sampai depresi benar. Barangkali itu juga sebabnya Jean tidak ingin melepaskan pertemanan dengan kami semua.

download (2).jpeg

Châtelet Les Halles (sumber: en.parisinfo.com)

Saya terakhir kali melihat Jean saat acara perpisahan di sebuah kafe di daerah Châtelet Les Halles. Seperti biasa dia selalu ada di setiap acara. Hadir dengan gayanya yang manly, necis, stylish…dan dagu terangkat. Dia bercerita telah memulai bekerja di sebuah perusahaan besar…. sebagai asisten “seksi sibuk” yang “Tiap hari kerjanya angkat-angkat telpon melulu.Pff…” . Saya pun nyengir membayangkannya.

Bertahun-tahun kemudian, Jean pindah ke sebuah kota di daerah Brittany, namanya tercatat di sebuah perusahaan retail fesyen. Saya tidak tahu apakah di perusahaan milik orang tuanya atau usaha dia sendiri. Tapi melihat sense of fashion-nya saya yakin dia pas benar ada di dunia itu. Kabar terakhir, dia sedang aktif memposting fotonya….. di aplikasi biro jodoh! Lol. Iseng-iseng doang. Cowok seperti dia sih gampang dapat cewek.

Karena penasaran, saat ada waktu lowong saya melihat.

Et voila, tampaklah dia di situs itu, dengan jas hitam dan t-shirt putih yang stylish, pose anggun ala model, sambil memegang….papan bertuliskan namanya sendiri, dengan background ruang interogasi kantor polisi! Dia, di foto itu, menghadap ke depan, seolah melihat saya, dengan senyuman ala James Bond dan tatapan bandel.

Kalau dulu sekali saya terpana, sekarang rasanya…. beneran kepengin jitak!

Dasar bangsawan. Hahaha…

====

Menurut kamu Jean itu tipe cowok kayak apa?

Gambar : Tom Hardy – Inception Movie Legendary Pictures, pxhere.com

0 Comments

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: