kultur/budaya

Kebiasaan Minum di Prancis

Hola, beberapa waktu absen nulis dimari…maaf kehidupan dunia nyata menanti.

OK mari lanjutkan cerita. Tapi kali ini istirahat dulu dari cerita individu. Mari agak “zoom out”, secara umum.

Selama ini saya cerita yang terdengar asyik-asyik. Sekarang mari bahas sisi lain yang sangat kontras dengan budaya kita.

Sebuah Tradisi Turun Temurun

Orang Prancis, seperti orang di negara Eropa pada umumnya, minum-minuman beralkohol adalah merupakan salah satu kebiasaan. Ya, samalah seperti kebiasaan orang kita “mangan ora mangan kumpuuul”, lalu ada minuman. It’s one of their tradition. Wine mereka yang disimpan selama bertahun-tahun di ruangan khusus pada daerah-daerah penghasil anggur sudah terkenal berkelas sampai pelosok dunia. Konsumsi wine mereka bisa lebih dari 50% dibanding jenis minuman beralkohol lain. Mereka juga punya banyak variasi minuman beralkohol lain selain wine.

Walaupun mereka mengonsumsinya dalam jumlah cukup besar (termasuk salah satu yang terbanyak di Eropa), saya nggak melihat semuanya tampak mencolok. Mungkin karena cara minum alkoholnya lebih moderat, nggak punya kebiasaan mabuk di jalanan atau minum habis-habisan. Yang terakhir ini adalah tradisi di beberapa negara barat lain (Anglophone) – seringkali membawa masalah.

Alkohol di Prancis bisa didapat di Cafe, Bar, dan Tabac. Namun bar tempat paling ramai dengan orang-orang dari Inggris, Australia, dan Amerika. Mungkin ada hubungannya dengan kebiasaan minum berlebihan itu kali, ya.

Cafe di Paris (image : piqsels.com)

Terkadang kalau saya naik metro, apalagi kalau malam minggu apalagi malam hari adalah satu dua orang yang sempoyongan dan berbau minuman keras. Tapi mereka tidak mengganggu kententraman umum.

Yang paling saya lihat adalah tunawisma di daerah stasiun Metro. Beberapa dari mereka membawa botol-botol panjang. Di negeri 4 musim, minuman keras jadi cara cepat untuk menghangatkan badan (nggak heran kan?). Kadang ada yang kena gejala flu saja langsung nenggak segelas, kejat-kejat sebentar karena leher seperti kebakar, tapi besoknya dia sembuh. Bye-bye parasetamol dan ibuprofin hahaha (don’t try this at home!)

Seorang tuna wisma di Haussmann Boulevard (Foto : AFP Gerard Julien)

Tentu saja ada banyak dampak negatif dari mengkonsumsi alkohol. Selain bisa menimbulkan kecanduan, mereka bisa mengurangi beberapa kinerja otak, yaitu kontrol diri. Seorang Indonesia yang kebagian kerja shift dini hari pernah tiba-tiba diserang pemabuk agresif dari belakang sampai lari pontang-panting. Trauma hingga berbulan-bulan.

Bila pulang malam karena ada kerja kelompok atau kerjaan saya seringkali harus mempertajam kewaspadaan sepanjang jalan. Bukan sama copet saja (khusus di Paris). Jangan terlihat mencolok atau mendekati segerombolan orang. Seringkali di daerah-daerah tertentu, dekat cafe, bars, dan tabac. Saat tahun baru atau pesta nasional tertentu (semacam piala dunia atau sepakbola), jangan tanya jumlahnya! Pada cengengesan sepanjang jalan dengan penampilan berbagai rupa. Lol.

Saya sampai diajari cara membela diri menghadapi pemabuk agresif di jalan. Jangan frontal hadap-hadapan, mereka itu kuat banget. Berlincah-lincahlah menghindar, lalu serang keseimbangan mereka (dorong dari samping, sleding kaki, dsb).

Suasana stasiun metro di malam hari (image :pixabay.com)

Bagaimana Saya Bergaul Dengan Kawan Prancis dengan Kebiasaan Minum Mereka

Bagaimana dengan kawan-kawan bule saya? Tentu saja rata-rata dari mereka minum. Jangankan yang bule, yang Asia saja saya lihat ada yang kuat banget minumnya. Saya ingat ada kawan cewek Asia saya yang sampai di soraki para kawan bule cowok dengan mulut ternganga, karena mereka nggak nyangka badan kecil tapi kuat mabuk hahaha.

Sebagai catatan, saya itu tidak minum alkohol, ya. Bagaimana saya sebagai muslim disana bergaul dengan kawan dan orang setempat sementara tidak makan/minum mengandung alkohol? Tetap bisa, kok. Dengan banyak catatan.

Btw. ini bukan untuk semua orang, ya. Ini murni pengalaman saya saja…

Yang pertama : kitanya sendiri memang sudah yakin tentang kenapa-kita-tidak-boleh-minum. Entah dari alasan agama, kesehatan, atau diet. Itu dulu yang paling penting. Kalau sudah punya prinsip, sisanya akan lebih mudah (selama nggak keseringan).

Kedua, usahakan punya tujuan dan niat yang jelas. Saya jarang ikut acara yang spesial untuk minum-minum doang. Selalu ada tujuan. Seperti acara kelas, acara untuk saling kenal, acara perayaan. Kadang diadakan di rumah salah satu kawan. Kadang di luar.

Ketiga, lihat tempatnya. Apakah ada pertukaran udara yang baik (bau alkohol itu sesuatu). Udara baik = chi yang baik. Kalau untuk kumpul-kumpul nyantai, saya lebih suka bila ada di tempat yang casual seperti kafe. Pilih duduknya juga selalu yang di teras (udara segar-penting). Lebih Perancis hahaha. Bila diajaknya ke bar atau tempat yang lebih tertutup, saya akan selalu nyari alasan supaya nggak ikutan hihihii.

Keempat, acara bersama kawan-kawan yang jumlahnya banyak. Saya juga memilih datang ke acara yang jumlah orangnya banyak. Bila kemudian ada botol-botol berkeliaran, saya bisa nyantai hanya minum une carafe d’eau (air putih) atau es jeruk dingin (kalau nggak salah namanya Citron Presse). Enaknya kalau datang rame-rame, orangnya lebih bervariasi, jadi terhindar dari rasa nggak enakan.

Tapi seramai-ramainya acara, kadang saya suka “terjebak” juga di interogasi oleh beberapa bule. Mereka kadang juga kepo lho. Bo’ong kalau ada yang bilang mereka enggak gitu. Bedanya kalau orang sana keponya dalam ati doang. Hahaha. Takut nyinggung. Bila sudah merasa akrab atau ada di zona nyaman (atau mabuk wkwk) mereka nggak ragu nanya-nanya..

“Lo enggak apa-apa, nih kita semua minum gini?”

“Lo baik, ya. Walaupun nggak minum tapi masih mau gaul jalan sama kita. Kenapa?”

Kalau sudah gitu saya cuma menjawab diplomatis, ya itu kan tradisi lo. Yang ini cuma salah satu bagian dari semuanya kan?

Mereka manggut-manggut. Paling-paling nggak paham hahaha. Nggak apa-apa besok-besok mereka juga lupa apa jawaban saya. Tapi mereka selalu menghormati sikap saya, bahwa saya muslim dan enggak minum. Mereka nggak bully, maksa, atau memandang sebelah mata.

Ini mungkin sulit dipahami bagi sesama kawan Indonesia yang memilih lebih bersikap konservatif. Menurut saya yang namanya pengertian dan respek itu memang perlu bersifat mutual. Selalu ada alasan mengapa seorang manusia menjadi manusia yang seperti sekarang ini. Kita tidak bisa memilih akan lahir dimana, dari siapa, dan kebiasaan apa yang mengiringi kita hingga dewasa.

Apakah Semua Orang di Prancis Minum?

Saya disana juga menemukan berbagai variasi muslim yang telah “beradaptasi” dengan kebiasaan setempat – mereka datang dari berbagai negara, India, Tunisia, dan beberapa dari wilayah Timur Tengah. Memang ada yang tidak menyentuh alkohol sama sekali. Tapi ada juga yang minum. Beberapa “minum sekedar untuk pergaulan”. Kembali ke orangnya dan value masing-masing.

Sebaliknya juga, tidak semua orang Prancis doyan minum. Beberapa orang kawan bule saya tidak minum (ehm tapi yang cowok semua minum sich).

Pernah di sebuah acara, di rumah kawan bule Yunani, seorang kawan bule Prancis, seorang ibu dua anak, mulai memandang dengan tatapan ingin segera pergi saat kawan-kawan lain mulai bermuka merah. Saya pun mengambil kesempatan dalam kesempitan, dong, untuk ngacir dengannya hihihihi. Pokoknya amanlah kalau kawan satu itu ikut hadir.

Tentu saja “tekanan” pergaulan bagi para bule Prancis yang nggak minum akan jauh lebih gede daripada saya. Saya kan masih bisa terlindungi dengan aman di balik identitas budaya dan agama.

Sebagai contoh seorang kawan bule cewek Prancis kawan saya, yang memang orangnya tidak minum, saya lihat dia itu seperti orang yang agak “tersisih”. Mungkin samalah seperti nasib seorang vegetarian yang bergaul diantara para meatarian. Ngapain-lo-ada-disini?...Kira-kira gitu. Kadang-kadang saya kasihan juga. Mungkin saya perlu mengajaknya jadi orang Indonesia. Kalau tinggal disini dijamin dia bakal banyak kawan hahahaha…

Piknik di bawah menara Eiffel (image : masterfile.com)

Bagi cowok lebih sulit pasti (makanya semua kawan cowok minum), karena namanya juga budaya dan pergaulan, ya. Sudah doyan. Hahaha. Bahkan piknik saja bisa sambil bawa wine. Hal yang demikian tentu jadi pertimbangan bagi mereka yang memutuskan untuk berkomitmen serius dengan orang Prancis. Terutama bila mereka sendiri memiliki prinsip tidak menyentuh alkohol. Karena tentu harus bisa bertoleransi pada kebiasaan-kebiasaan yang sudah ada lama.

Perkembangan Belakangan Ini..

Tentu saja semua yang diatas adalah kasus kawan saya yang anak-anak muda, ya. Biasalah. Mereka yang lebih dewasa sikapnya tentu bisa lebih bijak. Melihat bagaimana perjuangan mereka yang keluar masuk panti rehab untuk menyembuhkan kecanduan alkohol. Serta meningkatnya resiko penyakit-penyakit yang mematikan, menimbulkan trend hidup sehat.

Tingginya konsumsi alkohol mendorong pemerintah untuk mengadakan himbauan mengurangi jumlah gelas yang diminum. Dua gelas saja untuk cewek dan tiga gelas untuk cowok.

Oya. sebagai informasi, khusus untuk kota Paris, ada daerah-daerah dimana pengawasan terhadap konsumsi alkohol cukup ketat dimulai dari sore hari. Biasanya d daerah-daerah turis seperti Eiffel Tower, Champs-Elysees, Notre Dame, dll, lalu daerah-daerah sensitif karena banyak imigran dan rawan kejahatan seperti Stalingrad, Gare de Lyon, dll. Bila lewat dari jam tengah malam, jangan sampe kamu kelihatan sempoyongan di daerah sepanjang sungai Seine, apalagi sambil megang botol. Bisa jadi sasaran ninu..ninu..ninu..ninu…hahaha


Bagaimana menurut kamu?

15 Comments

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: