cerita,  kultur/budaya

Kenangan Ramadhan di Prancis

Ramadhan tidak pernah sama. Selalu ada yang lain di setiap tahunnya. Kenangan Ramadhan yang berbeda dan sampai sekarang menjadi pelajaran bagi saya, adalah saat berada di negeri asing.

Beruntunglah kita yang tinggal di Indonesia karena hampir selalu sama dalam cuaca dan suasana. Kondisi yang sulit seringkali terjadi pada mereka yang tinggal di luar negeri.

Saat dahulu masih tinggal di negara 4 musim, Paris, Prancis, lamanya berpuasa itu tergantung musim betulan!

Paling berat itu, bila jatuh berpuasa di musim panas cukup panjang.Harus diwaspadai karena serangan panasnya saja terkenal menewaskan orang-orang tua yang tinggal sendirian. Dehidrasi tanpa sadar….

Kita bisa mengalami sahur sangat pagi-pagi buta dan baru berbuka sekitar jam 9-10 malam! Asoy geboy ya…hahaha…Apalagi kalau kita tinggal sendirian, maksudnya tidak punya teman sekamar atau tetangga sesama muslim. Niat harus kuat banget, ya. Karena nggak ada yang saling mengawasi semangat puasa, dan saling mengingatkan.

Saya masih ingat bagaimana saat bangun pagi itu akan selalu terhuyung-huyung laksana zombie….gerubukan di dapur menggapai-gapai benda-benda yang bisa dimakan. Biasanya yang praktis-praktis saja…pokoknya makan minum cukup.

Bawaan ketika siang itu pasti ngantuk luar biasa. Apalagi buat orang Indonesia yang telah terbiasa dimanja dengan jadwal fix subuh jam sekian magrib jam sekian. Paling geser-geser dikit waktunya ‘kan ya. Disana nggeser magribnya kan bisa lima jam.

Karena mayoritas pergaulan adalah orang kaukasian yang tidak berpuasa, jadi kondisinya seperti puasa Senin-Kamis atau puasa sunnah kalau di Indonesia. Harus bertahan dengan bunyi kerucuk di perut ketika mereka mengeluarkan bekal atau makan-makan lezat. Bahkan sandwich pun jadi keliatan ueanaak…Mereka, sih, paham ada yang puasa. Tapi, ya, hanya sebatas itu. Makan, sih, makan aja di depan kita..hahaha. Beberapa yang tertarik suka bertanya-tanya, kemudian membayangkannya saja mereka sudah merasa lemas.“Beneran nggak makan dan minum sama sekali??”

Kondisinya mirip di video inilah..

Kawan muslim keturunan imigran tidak mengalami masalah berarti. Bahkan mereka santai-santai dan tampak berpenampilan prima, lho. Contohnya kawan-kawan asal Maghreban. Padahal jelas-jelas aktivitas kami semua dari pagi sampai sore.Salut dengan fisik mereka, soalnya saya sendiri berasa banget waktu sorean dikit otak ini mulai lupa-lupa ala Dian Sastro – agak dehidrasi #inilebaysih hahaha..

Ya, mereka udah biasa kaliiiiii….

Ketika saya tanya kepada salah seorang dari mereka yang paling segar cerah, “Kamu puasa?”

“Iya”. Lalu ia bercerita bahwa puasa juga merupakan tradisi. Ketika buka puasa sekeluarga rame-rame makan bersama di rumah dengan menu khusus.

Ooh, jawab saya. Langsung membayangkan.

Nggak jauh beda ya dengan di Indonesia. Tradisi…

Saya lupa bertanya lebih lanjut waktu itu, bagaimana mereka biasanya kalau sholat tarawih.

Karena untuk sholat tarawih harus lebih kuat lagi niatnya, mesjid nggak banyak seperti di Indonesia. Di Paris cuma ada di beberapa arrondisement. Alternatif untuk terawih selain disana ya, di KBRI. Bisa juga janjian dengan sesama kawan muslim Indonesia (lebih bagus kalau ada cowo yang layak jadi iman).

Itu kalau di kota besar. Kalau tinggal di kota kecil atau daerah lebih nelangsa, karena lebih terbatas lagi. Apalagi kalau mosquenya jauh. Kebayang kalau kamu orang Indonesia SATU-SATUNYA.

Jadi bukan kita muslim dipersulit, ya memang kondisi sebagai minoritas disana memang demikian. Harus saling bekerja sama dan mengakali dengan niat sungguh-sungguh.

Untuk sholat saja, di kota metropolis seperti Paris, perlu akal-akalan. Apalagi dengan segala kesibukan, misalnya harus mobile. Nggak mungkin juga sholat di qashar atau jama’ melulu’kan. Lebih-lebih bila notabene status kita sudah menetap, nginap, apalagi tinggal. Sudah bukan musafir lagi. Agak ribet, kalau berkutatnya selalu di wilayah yang memang nggak ada mosque sama sekali.

Pernah pakai cara mengakali kejadian demikian dengan taktik koneksi (haha). Ketika itu kondisi benar-benar mobile dan jauh dari wilayah mosques. Janjian dengan kenalan yang tinggal di arrondisement sekian, apakah bersedia menerima makhluk-makhluk ini mampir untuk sholat bentar. Kemudian di waktu selanjutnya di wilayah lain, janjian juga sama teman lain yang kebetulan ada di apartemen, dan seterusnya. Atau bisa saja diatur kapan waktu melewati Mosque, kalau perlu KBRI.

Grande_Mosquée_de_Paris

Mesjid Besar Paris (image : wikipedia)

Mosque paling sering dikunjungi adalah Grande Mosquée de Paris. Karena berada di daerah yang posisinya strategis banget, setidaknya dibanding yang lain. Yang lain terlalu ke selatan.

Saya diceritakan teman, ada anak muda Indonesia (mungkin baru datang) yang nekad sholat dijalan raya ketika masuk waktu. Akhirnya jadi tontonan semua orang lewat. Untung nggak ditangkap polisi.

Ya, ibadah hak individu, mungkin anak muda itu kepepet atau masih baru. Tapi nggak mungkin begitu terus. Akan lebih bagus lagi bila memperhitungkan waktu dengan lebih baik. Akan selalu ada cara agar bisa sholat tanpa mengganggu kepentingan publik. Lagipula kan mosque bukannya tidak ada sama sekali ‘kan. Naik metro (subway) juga cepat bila memang sudah benar diatur waktunya.

sosishalal

Sosis halal favorit…gedenya seperti ini. Kenyang?

Mencari makanan halal butuh seni tersendii, tidak segampang di tanah air. Hanya ada di supermarket-supermarket tertentu untuk daging-dagingan (yang disembelih sesuai Islam). Produk kalengan dan instan sebaiknya yang ada label halal. Tapi produk-produk itu memang benar-benar mwahaaall. Jadi belinya saat-saat khusus saja. Bisa diakali dengan makan sayur, buah atau ikan yang kita masak sendiri. Ya, ‘kan lucu juga kalau cape2 puasa tapi sholat nggak diterima 40 hari, karena salah masukin makanan ke perut lap keringet >_<

Saat buka puasa disana juga jauuuuh dari hiruk pikuk…kalau kepengin kolak atau yang berbau Indonesia hanya pas ada acara buka di Kedutaan Indonesia. Saat buka, di musim yang cukup panjang, ah, udah nggak mikir mau yang belibet-belibet. Pokoknya minuuum dan makaaaan hahaha….Syukur-syukur ada sesama teman muslim yang ngajak buka bareng, jadi menghilangkan rasa jenuh.

Namun kadang ada penduduk muslim yang baik, mau memberi “hadiah” buka puasa bagi kami para perantau muslim. Contoh, waktu dikasih kue dari Egypt untuk berbuka oleh penduduk keturunan imigran Mesir.

letrre-1.jpg

Pesan yang ditinggalkan pemberi yang baik hati…

buka.jpg

Kue dari Mesirnya manis banget..Cocok untuk buka puasa.
Ini namanya memang lagi berkah…..

Saya juga belajar banyak dari sana dan masih harus belajar. Terutama belajar bersyukur ya…

Sekali lagi, menjadi muslim Indonesia beruntung sudah dimanja dengan banyak kemudahan, ini juga sebagai self-reminder, agar selalu ingat untuk memanfaatkan momen dengan maksimal. Masih banyak muslim di belahan dunia lain yang memimpikan kondisi seperti kita sekarang. Bisa jauh lebih fokus dengan berbagai dukungan.

Semoga Ramadhan kita semua kali ini lebih baik dari kemarin. Barakallah..

===

Bagaimana pendapatmu tentang puasa di belahan dunia lain? Apa yang kamu suka dengan puasa di Indonesia?
**Foto dari dokumentasi pribadi

0 Comments

  • sinyonyanyablak

    Ih seru banget cerita puasa di berbagai negaranya, aku sih belum pernah nyobain puasa di belahan dunia manapun, wong naik pesawat aja belum pernah, naik bajaj aja udah berasa jetlag 😅😅

    Tapi nanti akhir september aku mo ke Bali naik pesawat, haha.. norak ya usia udah senja gini baru mo naik pesawat 😆😆

    • Ex-Parisienne

      iya seru panjangnya itu lho mba. kepengen nyoba? di indonesia udah paling asik banget kok…jelang buka udah ada ada kolak pisang, cendol dkk tinggal nyamber di pinggir jalan..hahaha.tapi gapapa semoga suatu saat mba bisa mencoba ya..ah selamat naik pesawat…first time itu seru lho…ditunggu ceritanya yg bikin ngakak …

  • sinyonyanyablak

    Hahaha.. iya emang tmen aku ada yg pernah puasa di Frankfurt Jerman, dia bilang waktu puasanya lama banget krn jam 19:00 aja dsana masih kliatan terang banget kayak sore, aku sendiri juga ga tau deh bs kuat apa enggak, nyobain naik pesawatnya dlu aja deh, kalo emang nyaman mungkin aku bakal ketagihan dengan destinasi yang lebih jauh, tu juga kalo ada duitnya sih 😅😅

    • ex-Parisienne

      Org yg saya tahu ada yg lbh total lg…nyari daging halalnya sampai nyari penyalur utk menyembelih sendiri ayam buat mkn bareng keluarganya…bosan jg sih kl mkn ikan terus ya

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this:
Visit Us On TwitterVisit Us On Facebook