cerita,  kultur/budaya,  opini

Ketika Orang Asing Lebih Menikmati Tinggal di Indonesia…

Ini nggak ngomongin turis ya. Kalau turis so pasti kelihatannya selalu ceria dan menikmati. Namanya juga cuma mampir sekejap. Muach…muach..kiri kanan. Lope all-lah pokoknya.

Saya bicara tentang orang asing yang sudah lama tinggal di Indonesia. Beberapa diantaranya kawan-kawan dekat, saudara, sahabat keluarga kami, guru, kenalan, dsb.

Kasus Saudara Jauh

Di silsilah keluarga saya ada keluarga jauh yang memang orang Belanda (tinggal disana) karena pernikahan turun temurun dan blasteran yang memang tinggal di Indonesia. Di acara hari besar saya sudah terbiasa dengan hadirnya beberapa wajah londo. Karena keluarga, mereka sudah nggak dianggap bule lagi. Ya, kayak ngobrol sama orang Indonesia saja.

Karena terlahir dengan kondisi dibiasakan dengan cara berpikir dua budaya Belanda-Indonesia. Semua sama asyiknya dan nyebelinnya. Ibaratnya kita, orang Indonesia, yang terbiasa dengan orang Jakarta dan orang Surabaya saja.

Mereka bisa bercerita dengan mimik lucu saat diikuti anak-anak kecil untuk dimintain duit. Atau bila di kepo-in sampai hal pribadi. Cuma senyum sambil mesem-mesem. Bahkan saat di gunjingin orang dengan bahasa Jawa pun mereka cuma bisa sabar sambil nahan tawa saja di belakang. Gimana nggak wong podo ngerti boso Jowo.

Mungkin sudah nggak kenal namanya budaya snowflake (sedikit-sedikit tersinggung dan protes bagaimana sudah diperlakukan). Urat syaraf mereka sudah kebal, menerima perlakuan sebuah masyarakat apa adanya.

Kehidupan di Indonesia lebih seru dan menyenangkan, kata mereka, meski dengan segala keribetan di belakang mereka sebagai WNA atau WNI keturunan yang mungkin orang seperti saya tidak bisa tahu dan merasakan. Dari mereka saya belajar, bahwa semakin kita bersikap rendah hati, tidak menganggap diri istimewa, semakin woleslah kita menghadapi perilaku manusia.

Kasus Teman

Saya dan suami punya teman bule Prancis sebut saja namanya Charles-Henri (kapan-kapan saya ceritain kisah lengkapnya ya). Kenal sejak dia masih mahasiswa culun, masa-masa jones (jomblo ngenes) sampai sekarang sudah jadi bapak-bapak.

Dia bekerja di sebuah organisasi internasional yang membuka cabang di Indonesia. Dia agak “beda” dengan bule- bule lain yang saya tahu disini, sejak pertama kali lihat sudah memancarkan aura “anak baik-baik”. Seperti tokoh-tokoh di tv seri “The Brady Bunch”. Sederhana, serius dan sopan. Bukan tipikal bule yang berasa jadi “bule”. Lebih mirip seperti orang Indonesia yang tertukar badan.

Saya ingat saat dia masih jones, suka makan di warung-warung sederhana, meracuni olahraga sepedaan. Sebagai ekspatriat bergaji Euro, Charles-Henri hidupnya nggak jor-joran.  Bahkan pilih sepeda saja bukan bermerk dan harganya selangit model Brompton, Strida, dan lain-lain. Dia pilih yang paling murah!

Jarang sekali mengeluh tentang berbagai hal di Indonesia. Malah senang kalau diajak keluar jalan-jalan, menikmati benar.

Kasus Teman Satu Sekolahan

Saya punya lebih dari empat kawan bule Prancis yang pernah magang di Indonesia, terutama ke daerah. Jangan tanya mereka suka apa enggak, seperti nemu paradise. Bahkan ada satu kawan yang setelahnya bikin tulisan khusus tentang Indonesia dengan bahasa yang sangat bagus. Sampai saya saat di Prancis jadi malu sendiri bacanya. Mereka ada yang keterusan kerja disini dan ada yang sudah mabur kerja di negara lain.

Pernah saya nanya, stress nggak dengan keadaan di Indonesia yang serba tidak beraturan (dibanding di Prancis, ya). Awalnya, sih,  bingung, tapi akhirnya, ya ngikut aja. Menyesuaikan diri. Bahkan dengan culunnya salah satu kawan bule cowok bilang, kadang dia kangen dengan ketidakteraturan di Indonesia. Dimana semua orang bisa berakrobat (maksudnya naik motor satu keluarga), sampai bisa berhentiin bus di sembarang tempat tanpa kuatir kena semprit hahaha..Mungkin karena anak muda, ya, jadi masih bisa mudah menyesuaikan diri. Kalau model emak-bapaknya diajak naik bus ngebut yang malas ngerem dan melanggar lampu merah bisa stress berat!

Kasus Orang Jepang

Bukan cuma ras kaukasian. Sesama Asia juga berpendapat sama.

Karena mengikuti sebuah aktivitas kebudayaan Jepang di Indonesia, saya pernah memiliki kenalan orang Jepang. Mereka adalah ekspatriat di beberapa perusahaan. Saya juga memiliki sensei (guru) orang Jepang.

Yang saya selalu ingat, adalah cerita mereka bahwa “Indonesia itu baguus.”. Bahkan merasa diterima sekali. Ada yang pernah bercerita bahwa orang Jepang itu semuanya kerja keras, orang Indonesia kerja juga, senang-senang juga. Jadi bagus, bukan. Soalnya di Jepang kalau mereka meninggal, sebagian besar harta warisan diserahkan kepada negara (semacam pajak warisan?). Sudah kerja keras, yang menikmati harta warisan bukan anak cucu. Kan mendingan mumpung masih hidup, senang-senang juga, ya? Hahaha…

Mungkin bagi orang Jepang, orang Indonesia lebih tahu-apa ya istilahnya- bagaimana menikmati hidup.

Kasus Bule-bule Yang Bikin Buku

Saya juga pernah membaca buku-buku tentang pengalaman para bule tinggal di Indonesia. Mulai dari bule Prancis hingga Australia. Ada yang tetap balik ke negara mereka, ada yang menikah dengan orang Indonesia dan menetap di negara ini. Mereka banyak berkontribusi dalam pertukaran kebudayaan selama di Indonesia.

Poin yang selalu suka dari konten mereka, meskipun ada kritik, mereka semua selalu optimis dengan masa depan Indonesia. Segar aja, sih dengernya, apalagi setelah mendengar pendapat berseliweran kebanyakan dari orang Indonesia sendiri, yang banyak sarkas tentang masa depan negeri ini.

“Udah nggak ada harapan, deh.”

Yang saya tangkap dari para bule yang bikin buku itu, pendapatnya gini, elo itu udah punya negeri kayak surga, harusnya lo bersyukur dan manfaatin bener itu.

Kasus Bule Yang Memanfaatkan Orang Indonesia

Tentu saja ini termasuk mereka yang menikmati Indonesia, walaupun bagian the dark side of the moon ya. Ada banyak kasus-kasus bule (atau orang asing lain) yang sengaja menikahi cewek Indonesia salah satunya agar bisa berbisnis dengan mokcer terutama menyangkut tanah dan properti. Karena sebagai orang asing mereka hanya punya hak guna bangunan, hak milik memakai nama pasangan yang WNI.

Sayang beberapa oknum memanfaatkan keluguan cewek Indonesia. Saat ada masalah hukum, coba tebak siapa yang cuci tangan dan siapa yang harus maju ke pengadilan? Lebih pahit lagi, mereka para cewek yang ditinggal bule bermasalah itu seringkali dalam keadaan sudah memiliki tanggungan anak, pailit, ditambah kena masalah hukum. Ada kasus-kasus seperti itu. Makanya, sebagai cewek, kita kudu pinter jangan langsung terpesona sama orang asing-terutama bule. Casing bisa beda, namanya manusia itu selalu ada yang bersifat jahat.

==

Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman, begitu lirik sebuah lagu lama.

Pertanyaannya kalau orang asing bisa mengatasi culture shock dan woles dengan kondisi Indonesia sekarang, kenapa kita yang notabene punya tanah air seringkali lupa cara menikmatinya dengan gembira, ya? Dan cenderung fokus pada segala yang kurang…sementara tic..toc..tic…toc…waktu kita semakin habis..

Menurut kamu kira-kira kenapa?

Gambar fitur : wikipedia.com

0 Comments

  • Abigail Tessa

    Tulisannya menarik 🙂 Menurutku semakin maju suatu negara, semakin damai dan bebas dari huru-hara juga. Sedangkan di Indonesia, banyak hal menarik (atau nyebelin) yang terjadi. Mulai dari gosip artis sampai masalah politik hehe Tapi paling kesel sama orang asing yang memanfaatkan orang Indonesia sih, karena memang sepertinya buka bisnis di Indo itu lebih ga ribet.

    Kalau masalah kenapa kita gak menikmati apa yang kita punya, sepertinya karena rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Jadilah kita bawaannya liat jeleknya mulu hehe

    Salam kenal dari Denmark 🙂

    • ExParisienne

      Hi mba Abigail. Terima kasih sudah berkunjung. Ya mungkin ketidak teraturan itu yang membuat hidup disini sangat dinamis haha…

      Betul, istilahnya rumput tetangga memang selalu lebih hijau..jadi bikin silau..😁

      Salam hangat juga..

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this:
Visit Us On TwitterVisit Us On Facebook