cerita

Kisah Dua Antoine I

Saya kenal dua orang bernama depan sama di Perancis. Nama panggilan mereka memang cukup populer sebagai nama cowok di negara itu. Saya sebut saja sebagai Antoine. Yang pertama dan kedua.

Ini adalah kisah mereka.

Antoine yang pertama adalah cowok yang berasal dari sebuah kota kecil. Orangnya kurus pendiam, rambut hitam lurus yang halus , mata tajam, kontras dengan kulitnya putih. Walau termasuk ras kaukasian (bule), garis wajah serta warna rambutnya menunjukkan dia masih ada keturunan Italia. Tentu saja jiwanya adalah Perancis asli. Suka bersantai di bar setempat bersama kawan-kawan seangkatan setelah sepulang kuliah. Ia adalah salah satu dari gerombolan kawan kuliah saya yang pertama.

Berbeda dengan yang lain, kehadiran Antoine tidak terlalu menonjol. Orang sering kali lupa kalau dia itu ada, tapi kalau nggak hadir rasanya ada yang kurang. Sering kan ada orang-orang yang seperti itu? Walaupun bicaranya tidak banyak, dia adalah pengamat ekspresi yang sangat baik.

Dia juga orang pertama yang berempati saat ada orang yang kesusahan.

Saya sempat diterjang rasa homesick di suatu musim gugur. Saya ingat, Antoine adalah adalah kawan pertama yang merasakan hal itu. Ketika itu kami berpaspasan di luar Universitas.

“Kamu baik-baik saja?”

“Oh? Nggak, Nggak apa-apa!”

Gengsi saya hahaha. Dia melihat dengan sangsi, membaca habis ekspresi saya.

“Kamu yakin, kamu nggak apa-apa?” lanjutnya, menyelidik. “Butuh ditemani?”

Saya kaget, tapi saya tolak halus.

Inquiète-toi pas, ça va bien aller.

Kamu nggak usah kuatir, saya OK, kok.

Sambil mengacungkan jempol (bukan kampanye loh-red)

Kami berpisah karena arah yang dituju berbeda. Saya masih melihat tatapan mata cowok Perancis itu mengikuti langkah-langkah saya.  Mungkin dia takut tiba-tiba saya terjun ke laut – sungguh, saya cuma ingin pulang ke kamar yang hangat, ngemil, dan rebahan.

Ya. Saat itu saya tahu nggak mungkin membohongi Antoine, si pengamat mikro ekspresi yang handal.

Dari Antoine juga saya paham bagaimana cara cowok Perancis memperlakukan cewek (ini nggak cuma soal sama pacar, ya). Semua kawan cowok saya disana sangat perhatian dengan cara mereka sendiri. Tapi diantara mereka semua memang Antoine yang paling halus.

Mereka nggak takut mengemukakan pendapat kalau merasa ada yang nggak bener (nggak ada rasa unggah ungguh atau takut), tapi sekaligus sangat sopan dan memperlakukan cewek dengan hormat. Bagi beberapa cewek Asia yang jarang diperlakukan istimewa, bisa GR habis-habisan. Padahal it’s their nature.

Perilaku Antoine yang dia tunjukkan di hari itu, bisa saya maklumi, benar-benar khas French man. Perhatian tapi tahu diri. Tidak pernah jatuh menjadi terlalu kepo, atau ikut campur urusan orang lain, apalagi sok-sok menasehati. Selalu menganggap semua orang punya batas pribadi dan kebutuhan untuk menyelesaikan masalah dengan kemampuan mereka sendiri.

Di balik perilaku yang gentle dan pendiam, fisik Antoine kurang baik. Entah dia pandai menyembunyikannya, atau kami yang memang terlalu acuh tak acuh hingga melewatkan itu di saat terakhir. Saya baru tahu belakangan setelah berpisah dengan semua kawan seangkatan.

Beberapa lama setelah semua orang lulus, dia sakit, dirawat di sebuah daerah Swiss untuk pengobatan. Lewat komunikasi media sosial saya melihat bagaimana dia telah berubah. Rambutnya yang hitam mulai menipis. Muka semakin pucat dan tirus. Hanya mata tajamnya yang tak berubah. Dengan bersemangat dia menanyakan selama ini saya kemana saja.

“Saya sedih, nggak bisa ketemu kalian. “

Para kawan seangkatan kami memang telah berpencar-pencar dan pergi jauh dari Perancis. Ada yang kerja di Maroko atau pulang ke negara Skandinavia. Dan tahu sendiri saya kemana kan?

Saya ingat perhatian-perhatian kecil dari Antoine dulu. Andai dulu saya memiliki kemampuan seperti dia, mungkin sebelum berpisah saya bisa melakukan sesuatu atasnya, setidaknya menanyakan hal sama yang pernah ia tanyakan,

Kamu yakin, kamu nggak apa-apa?”

Kepekaan  mereka yang terlahir dengan kondisi fisik kurang baik. Merasakan banyak hal dalam diam, mengamati orang lain dengan ekspresi teramat minim. Sesuatu yang sulit dimiliki oleh tipe serampangan hantam kromo ala saya, kecuali rajin dilatih setiap hari ah susah deh

Semoga kamu diberi kesembuhan dan kesehatan, demikian harapan saya padanya. Sayang jarak Perancis dan Swiss itu lebih dari 11 ribu km, tidak seperti jarak Jakarta-Bandung.Kalau di Indonesia kita biasa ngajak orang sedesa untuk besuk (eh ini sih malah yang sakit nggak bisa istirahat kali ya)

Waktu berlalu.

Di Indonesia, di hari-hari sekarang, saya banyak belajar tentang ilmu terapi dan psikologi. Salah satu yang saya senang pelajari adalah tentang ekspresi, tepatnya mikro ekspresi. Mungkin ada bagian kecil dari diri saya yang terpengaruh oleh kasus Antoine. Entahlah. Saya tidak bisa sepertinya, tapi setidaknya bisa belajar.

Terima kasih pada kemajuan teknologi, sekarang kita bisa dengan mudah mengetahui setiap kabar terbaru tentang kawan lama, yang still photo atau bahkan yang live.

Tanpa banyak ribut-ribut, Antoine akhirnya menikah dengan seorang cewek ceria yang tampak lincah dan kuat. Mereka, saya saksikan dari layar medsos, menari dengan serasi. Cowok Perancis itu terlihat bahagia, tampak jelas dari ekspresi wajah dan caranya menatap si pasangan. Walaupun fisiknya telah jauh berubah tapi gayanya yang gentle khas seorang Antoine, si cowok Perancis, yang pernah saya kenal.

Saya mengucapkan selamat padanya. Senang.. Mungkinkah saat itu dan suatu hari nanti saya akan berhasil menyamai Antoine? Tanpa banyak ikut campur, mampu membuat seorang merasa nyaman, karena tahu di belakangnya ada kawan yang memperhatikan. Bisa menebak apa perasaan yang seseorang ekspresikan, bahkan dari jarak 11.720 km jauhnya.

==

Apakah kamu pernah memiliki kawan seperti Antoine juga?

Gambar : mobile.abc.net.au

3 Comments

  • Ai

    QOTD favorit saya:

    “Walaupun bicaranya tidak banyak, dia adalah pengamat ekspresi yang sangat baik.”

    saya sempat berfikir apakah penulis artikel-artikel blog ini seorang psikolog. Ternyata mempalajari ilmu terapi dan psikologi, pantesan saya selalu betah bacanya.
    Tapi keliatannya mba ini pengamat yg baik juga, soalnya tulisan-tulisannya sangat menyenangkan utk dibaca…

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: