cerita

Kisah Dua Antoine II

Saat pertama kali bertemu dengan Antoine yang kedua-atau saya sebut Antoine kota besar (dia kawan sekelas di Paris), enggak ada yang terlalu istimewa.

Baca : Kisah Dua Antoine (1)

Wajahnya bule habis, dengan gaya rambut spiky tahun ’90 an. Rambut cepak pirangnya dipangkas pendek, memakai jelly hingga bisa kaku keatas. Kalau di Bali, mungkin banyak tipe seperti dia, melenggang santai di pantai dengan celana Hawaii. Bajunya di berbagai musim saya lihat selalu kaos lengan pendek putih polos. Jarang ganti. Mungkin pengagum milyarder techie Mark Zuckerberg atau Steve Jobs. Tangan penuh dengan tato.

Kira kira dia rambutnya kayak gini (agak lebih banyakan sih). Source : menshaircut.com

Menyeramkan? Sebaliknya. Menurut saya ehm agak tidak terlalu sesuai dengan usianya yang saya taksir sekitar 30 tahunan lebih – atau dia, wajahnya terlalu cepat dewasa saja seperti umumnya orang Barat hahaha-entahlah.

Dia paling doyan duduk di barisan pojok depan dalam kelas. Dan sampai akhir hayat akhir perkuliahan saya lihat dia tidak pernah berpindah-pindah. Seperti di bangku itu ada lem aibonnya.😂 Berbeda dengan kawan sekelas lain yang sibuk seperti setrikaan setiap ganti mata pelajaran, entah pindah tempat duduklah atau ngoceh bareng komplotan yang sepaham, Antoine tidak menunjukkan rasa berminat. Dia tetap anteng di tempat duduknya.

Orangnya, sih, termasuk ramah, ya, untuk ukuran Parisian. Maksudnya kalau saya ajak ngobrol tetap mau menanggapi. Sederhana. Cuma kelihatan dia cenderung menyendiri dan mandiri. Mungkin dia menganggap kami seperti anak-anak kecil yang riuh. Di singgasananya di pojokan ia berlaku seperti layaknya seorang tua yang baik. Memahami dan membiarkan semua berlangsung *gue enggak setua itu kali-digetok kalau dia dengar*

Suatu waktu, saya berkesempatan melakukan riset bersama si Antoine kota ini. Kami beberapa kali blusukan sambil ngobrol-ngobrol ke berbagai wilayah di sebuah distrik di kota Paris. Setelah usai, lalu ngopi-ngopi. Dia orangnya sangat humble. Banyak bertanya tentang asal muasal saya dengan penuh ingin tahu.

Dari sana saya melihat minat besarnya pada berbagai bentuk marketing yang rada “nyelenyeh”. Dia memberikan contoh sebuah brand. Saya langsung meneguk ludah, saat melihat brand campaign-nya. Er, untuk ukutan orang Asia terlalu…apa, ya. Kontroversial. Menurut orang sana pun sebetulnya juga gitu, sih, setelah terbongkar bagaimana mereka melibatkan anak di bawah umur dalam proses produksinya (tapi berita itu saya baru tahu belakangan, ya. Pstt).

Antoine mengajak saya untuk melakukan marketing research atas brand tersebut. Dia sudah saklek kepinginnya itu. Saya terpaksa menolak dengan halus, karena nggak kebayang akan ada yang telenji-telenji dengan banyak anting-anting di sekujur badan polos dalam portofolio saya.😅 Sungguh saya merasa tidak enak hati saat itu. Karena setelah tahu dia tampak sangat kecewa. Ya, saya kan baru ngerti seleranya…*sok-bodoh-polos*

Tapi Antoine bisa menerima penolakan. Dia nggak komplain sama sekali dan mengerjakan proyek itu sendirian (kita bebas mengerjakan secara individu atau berkelompok). Saya mengambil proyek dengan spesifikasi lebih ke anak kecil (kontras dengan brand-nya dia-saya baru sadar).

Di akhir mata kuliah itu, kami sama-sama dapat nilai yang memuaskan. Namun sejak kejadian ini, dia tidak pernah mengajak saya blusukan dan ngopi lagi. Bisa dipahami, sih.🙄

Walaupun sukanya mojok, Antoine bukan orang yang malas bergaul dengan kawan sekelas. Setiap ada kumpul-kumpul bareng di luar sekedar makan dan minum-minum, dia hadir. Tetap, beda dengan kawan cowok bule lain. Kalau cowok-cowok bule lain tuh, apalagi kalau sudah mabuk🙃, sering (sok) akrab pada semua, Antoine secara sadar masih menjaga jarak. Dia seperti pulau di tengah lautan. Ada, tapi berdiri sendiri.

Menjadi orang asing di kelas mayoritas bule Prancis, tidak selalu mudah. Karena kendala bahasa yang kompleks sering jadi kelemahan seorang untuk terpilih dalam proyek bersama yang berbau tulisan. Apalagi saya orang Indonesia satu-satunya.Walaupun demikian saya memiliki unggul dalam bidang yang tidak terkendala bahasa seperti hitung-hitungan, desain produk, dan penataan.

Orang Asia selain saya, mayoritas berasal dari daratan Cina. Mereka cenderung untuk bersatu erat, seperti magnet saat ada proyek kerja kelompok. Membuat professeur kami, yang gemas, “terpaksa” memisahkan mereka dengan paksa, serta menentukan siapa saja yang ada dalam kelompok. Mirip anak-anak SD yang terpaksa dipecah-pecah oleh guru supaya gak nge-genk. 🤣

Tapi kadang ada kalanya aturan itu di tiadakan. Kondisi seperti itu membuat saya seperti “berjodoh” dengan Antoine lagi. Antoine lagi. Karena dia biasa mojok dan menyendiri. Saya, setelah beberapa kali bekerja dengan berbagai kawan bule lain-akhirnya di lepeh rotasi kepadanya.😬😂

Saat berhadap-hadapan, Antoine menatap saya dengan pandangan jenaka.

“Hanya kita berdua. Kayaknya kita harus bekerja sama lagi, nih.”

Saya nyengir kuda…

“Kayaknya gitu” *mengusap keringat*

Avenue de l’Opera (gambar : wikipedia.org)

Beberapa waktu kemudian, kami pun melakukan rendez-vous di sebuah kafe di daerah Avenue de l’Opera. Ngobrol sambil membahas proyek kuliah. Saat itu kami membahas tentang penafsiran simbologi dalam desain.

Selama bekerja sama itu saya baru menyadari sesuatu, cowok bule spiky hair ini sangaaat telaten. Catatan dan tulisannya rapih, cara berpikirnya runut, kontras benar dengan penampilannya yang santuy (terlalu santuy mala 🤣).

Saya salut.

Dia juga mendengarkan semua pendapat saya dengan antusias. Nggak pernah sekalipun ada komentar atau kesan yang membuat saya merasa bodoh dalam keterbatasan bahasa. Padahal Antoine ini termasuk mereka yang nilainya paling atas terus di kelas. Don’t judge the book by its cover memang benar.

Saat sedang ngobrol gini, saya mulai memahami, cowok ini sikapnya memang jauh lebih dewasa dan mandiri dari kami semua sekelas digabungkan. Lepas dari berapapun usia fisiknya yang asli. Makanya dia selalu berjarak. Membangun barikade tidak tampak, yang membatasi saat orang asing menembus lebih dalam. Il est Parisien, pikir saya. Benar-benar khas orang Paris dewasa. Sangat individualis dan mandiri.

Saya masih ingat saat proyek kami mendapat nilai tinggi dan membuat professeur simbologi kami sangat terkesan. Ternyata bekerja sama dengan cowok itu sangat menyenangkan. Udah gitu dapat nilai gede juga 😂🤣 #penting

Bagi Antoine, kuliah tidak sepenting mendapatkan pekerjaan. Padahal nilainya tinggi-tinggi. Tapi dia memang kelihatan banget kebelet untuk itu.

Jelang akhir perkuliahan, dia mendapat tawaran kerja menggiurkan tapi dengan konsekuensi kehilangan kesempatan untuk lulus dan menerima ijazah. Apa yang dia lakukan? Jelas, dia menerima tawaran kerja.

Sejak saat itu saya jarang bertemu dengan Antoine lagi di kelas. Bahkan di pesta-pesta yang diadakan kawan sekelas. Pesta kelas setelah kelulusan pun tidak. Kontras dengan kawan-kawan yang mengambil langkah sama dengan Antoine (nggak lulus karena pilih kerja), masih semangat kumpul-kumpul lagi.

Saat sekelas ribut add facebook-facebook-an, Antoine satu-satunya kawan yang tidak ikut. Cowok bule spiky hair itu benar-benar seperti hilang ditelan bumi. Kawan-kawan bule lain, hanya mengangkat bahu bila ada yang tanya kabarnya. Padahal satu sama lain sudah saling kenal selama setahun. Bagi si Antoine kota itu, kuliah hanya transit saja. Jangan bandingkan dengan pelajar dari Asia kali, ya. Bisa dipanggang bila pulang-pulang nggak bawa ijazah!😡🤪

Mungkin saya belum sepenuhnya mengerti Parisian. Atau Antoine sendiri terlalu menjaga jarak dengan semua orang sehingga tidak ada yang merasa kehilangan saat dia sudah tidak ada. Terlalu mandiri juga untuk dicemaskan. Dulu saya kira diri ini sudah seperti serigala di rantau. Tapi saat ada di Paris dan berjumpa Antoine, saya seperti menyaksikan “serigala” yang sesungguhnya, a real loner. Saya nggak ada apa-apanya dibanding dia. Jauuh. Hahaha. Tapi memang itulah kehidupan di Paris. Orang bisa datang dan pergi tanpa penjelasan.

And like that. He’s gone. Pff…

Barangkali suatu saat saya akan menemukan wajah dia di media sosial (agak susah karena namanya terlalu pasaran haha). Kemungkinan besar, sih, tidak. Bagaimana mungkin orang yang suka mojok dan menjaga jarak punya facebook? Tetap saya pasti akan mengenali muka nyentriknya, dengan rambut ala spiky yang kaku karena gel dan gaya ala-ala milyarder media sosial.

===

Kamu juga punya kawan nyentrik yang berkesan?😀

Gambar fitur : pixabay.com by StockSnap

7 Comments

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: