sejarah

Kisah Selfie dan Branding Diri Kaisar Prancis

Saya selalu percaya, untuk paham cara berpikir sebuah kultur, selain mempelajari bahasa, juga mempelajari sejarah yang menjadikan kultur tersebut seperti sekarang.

Sebelum berangkat ke Prancis, saya cukup lama mempelajari dan melahap sejarah tentang negeri itu. Dari sekian tahun yang panjang para ancestors, The Maid of Orleans, atau terkenal dengan nama Joan of Arc, sampai masa pemerintahan Republik.

Walaupun banyak yang bilang itu adalah hobi aneh, tapi hampir semua kawan Indonesia disana akhirnya mengakui manfaatnya, bahkan ada yang agak iri-iri, ketika semua hanya foto-foto saat mengunjungi tempat-tempat wisata, saya bisa sedikit ngoceh tentang kisah sejarahnya (moga2 bener, sih, hahaha), tokoh-tokoh yang pernah berdiri disini, sampai bisa merasakan aura masa lalu yang cukup luar biasa. Kadang tanpa perlu hire guide yang mihil amir dan atau sewa guide telpon milik museum. Sensasinya juga beda dengan, misalnya, kita baru ngerti sejarahnya setelah sampai di TKP.

Walaupun pengetahuan saya, yang hanya baca buku random ini, tidak akan mengalahkan ilmunya ahli sejarah beneran – serta butuh koreksi sana-sini – minimal tahulah info yang umum-umum. Kalau mujur, punya bocoran info nyentrik.

Mungkin bisa disamakan dengan perasaan seorang penggemar K-Pop yang bisa menonton langsung pertunjukan di Korea?

“Pasti enak ya, berkunjung ke sebuah tempat dan lo udah tahu banget tentang tempat itu.”, kata seorang kawan Indonesia dulu, terbaper-baper.

Tapi ketika saya sodori referensi buku sejarah, atau guide touristique berbahasa Inggris yang dijual murah disetiap musee, seringkali pada bilang,

“Nggak terima kasih”.

Dan pilih menyambar beberapa souvenir made in Chinna sebagai kenang-kenangan #lapkeringet

Ok, jangan menuding bahwa orang Indonesia itu nggak menghargai sejarah, nggak mau baca, dsb, dsb dulu. Please. With all due respect….

Bahkan beberapa anak muda Prancis sendiri, yang saya kenal disana, ketika diajak ngobrol,

“Eh, tempat ini menarik. Tokoh sejarah ini blablablabla. …”

Mereka ternyata juga memasang ekspresi terpaku beku, yang SAMA seperti kawan Indonesia diatas:)) Kemudian mengangkat bahu sembari mulut membentuk huruf U terbalik–>ini khas gesture mereka.

“Ben, ‘sais pas..” (gue ga tau).

Spontan menghentikan topik. Karena mulai awkward dan rada2 kocak juga (lha, iyalah masa seolah-olah jadi tahuan gue yang notabene orang Indonesia??:)))

Sepertinya, itu bukan hal yang penting-penting banget perlu diketahui! Hahaha…

Kayaknya memang kembali lagi ke soal minat juga, ya. Tapi setidaknya mereka jujur bilang nggak tahu. Atau tidak berminat.

Saya pernah ketemu orang yang bahkan sampai membujuk rombongan sesama turisnya agar tidak usah pergi ke istana Versailles dengan alasan,

“Ngapain kesana mending ke Disneyland. Itu cuma istana yang terbuat dari batu”

GEDUBRAK. Ya, memang beberapa orang punya agenda tersendiri dalam wisata. Cuma memberi info yang salah, itu kan…. Andai rombongan itu, yang sebagian besar para lanjut usia dan honeymooners, tahu seperti apa Versailles….

download (3)

Saking luasnya Versailles sehingga paling cocok untuk menggambarkan

keseluruhannya adalah dari udara.

Image : wikipedia

Jadi sebelum kamu berangkat ke sebuah negara, ada baiknya benar-benar baca atau jaman sekarang googling tentang rupa sebuah tempat sebenarnya. Bukan dari mulut ke mulut. Supaya tidak menyesal.

Masa-masa yang menurut saya menarik untuk diikuti dan tidak ada habisnya cerita adalah era jelang revolusi yang temashyur sampai ke seluruh dunia itu, hingga runtuhnya kekaisaran pertama (dan kedua) Perancis. Banyak sekali ilmu dan pelajaran yang bisa diambil dari sana. Alhamdulillah, saya diberi kesempatan melakukan sedikit napak tilas dari beberapa tokoh sejarah utama. Mungkin saya akan ceritakan secara bertahap. Doakan ada waktu.

Nah, yang paling menonjol bila kita visit musee di Prancis adalah demikian banyaknya lukisan dari berbagai tema. Seperti yang terlihat di foto paling atas, lukisannya besar besaaaar….Pengunjung juga sangat ramai.

Ketika kamu mengikuti biografi seorang tokoh, kalau kepo kayak apa sih rupanya, tinggal cari saja lukisan model potraitnya. Mereka biasanya punya painter pilihan yang diminta untuk melukis diri mereka sesuai image yang diinginkan.

Kalau ada yang bilang generasi kita sekarang adalah generasi selfie…kayaknya bibit doyan selfie, tepatnya narsistik, memang ada dari jaman dulu (bukan melukis diri sendiri, dilukisinlaaah, kan nggak semua orang bisa gambar) Tentunya dengan tujuan berbeda-beda, ya.

Sebagai contoh kaisar Prancis Napoleon Bonaparte.

Bagi yang belum tahu, Napoleon ini menjadi Kaisar atas perjuangannya sendiri, bukan karena punya darah Raja. Aslinya malah dia berasal dari Korsika, jajahan Prancis. Berawal dari kudeta Brumaire, jadi kepala negara, hingga mengukuhkan diri jadi Kaisar (ironis) dan menyerahkan diri kepada Sekutu. Selama masa itu, demi membangun dan mengukuhkan posisinya di Prancis,melakukan banyak hal.Dari segi publisitas antara lain habis-habisan membangun imej.

lukisan-napoleon-messiah-1.jpg

Lukisan di atap Istana
Hal itu terlihat, bila menelusuri lukisan-lukisannya yang selama ini hadir, bagaimana Napoleon memang sengaja melakukan “branding” atas sosoknya, dengan tema seperti Julius Caesar-nya Prancis, penyelamat Prancis, cinta anak-anak, dsb. Ingin memahatkan sejarah keagungan pada semua khalayak. Bahkan Napoleon ini bisa mengalahkan kepopuleran pendahulunya, sosok Le Roi du Soleil, Sang Raja Matahari, yang lebih dulu sudah menorehkan tinta emas di negara Prancis, yaitu Louis IV.

Ah, bedalah, jaman dulu, nggak kayak sekarang, nggak ada edit-editan macam-macam! SIAPA BILANG?? Hahaha.

madame mere

Ibunda Napoleon yang “dihadirkan” dalam lukisan penobatan Josephine

Image diambil dari situs musee du louvre.

Di lukisan Coronation of Empress Josephine ini, ibunya Napoleon harusnya ENGGAK ADA, lho. Tapi lihat dia hadir di lukisan atas ini, dengan wajah keibuan. Itu karena Napoleon menyuruh pelukisnya, Louis David untuk membuat ibunya HADIR disana. Jadi kalau jaman sekarang, ya, namanya di CROPPING. Atau di Photoshop.

Abis lucu ‘kan masa penobatan anaknya si ibu nggak hadir!

Sebetulnya itu terjadi gara-gara si ibu nggak terlalu akur dengan menantunya Josephine ini. Dia nggak suka Josephine dinobatkan jadi Empress. Sementara Napoleon ngotot ingin menobatkan karena Josephine memang banyak berjasa. Versi lain juga menyebutkan, ini adalah salah satu bentuk protes si ibu yang tidak setuju Napoleon mengangkat diri jadi Kaisar.

Setiap lukisan ada dramanya sendiri-sendiri juga, yang seringkali lebih SERU dari cerita fiksi. Asyik, ya?

Yang nggak kebayang kalau dilukis jaman dulu itu obyeknya harus diem NGGAK BOLEH GERAK sampai lukisan selesai. Pegal linu membayangkannya. Tetapi beberapa pelukis terkenal semacam Louis David, Delacroix juga tidak selalu pakai metode itu, lebih banyak imajinasi, ingatan dan materi yang ada juga. Seperti misalnya lukisan pertempuran.

Louis David sendiri pernah menggambar sketsa wajah Ratu Maria Antoinette sebelum dieksekusi pancung Guillotine.

Jadi manusia di berbagai jaman itu sebetulnya banyak miripnya. Hanya orang-orangnya yang berbeda. Harusnya, sih, kita bisa belajar dari kelakuan manusia jaman dulu, bagaimana akibatnya dan tidak mengulangi kesalahan sama. Itulah sebetulnya fungsi sejarah.

Harapannya bagian itu semakin mendapat perhatian di era booming travel dan keliling dunia, ya? Tidak harus di luar negeri juga, Indonesia juga punya banyak, kok, hidden treasure yang bisa jadi cerita unik menarik. Semoga menginspirasi dan bermanfaat!


Jadi seberapa minat kamu dengan sejarah? Atau hanya tertarik jalan-jalannya sajakah? Pernah tahu kasus serupa seperti diatas?

Image : free image.com, wikpedia, wallpaperflare.com

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: