kultur/budaya,  sejarah

Mana Yang Benar : Prancis atau Perancis?

Saat pertama kali membuat blog ini saya banyak menggunakan kata “Perancis” ketimbang “Prancis”. Itu berlangsung cukup lama, karena spontan saja menuliskannya.

Setelah selang beberapa waktu, baru sadar bahwa menurut KBBI daring :

Jadi kata Perancis memang sering digunakan, tapi itu bukan bahasa Indonesia yang baku.

Hiks. Langsung deh, editing sana-sini satu persatu. Ceritanya saya ingin setia pada bahasa Indonesia yang baik dan benar (cuih, padahal biasanya nge-slang melulu hahaha). Untung nggak jadi judul blog. Kalau sudah terlanjur apalagi jadi dot com, bisa nangis-nangis kalau gara-gara itu musti ganti domain kan. Gleg.

Asal kata Prancis sendiri dari kata France. Lidah Indonesia jadul menyerapnya menjadi Prancis.. bukan Perapatan Ciamis ya. Mungkin diambil dari “français” yang artinya orang Prancis. Bukan nama negara. Di Indonesia negara dan orang kan nggak dibedain bacanya. Nyebut negara tinggal dikasih kata “orang”. Kayak negara Inggris dan orang Inggris.

Kata-kata dalam bahasa Prancis sendiri, kalau kita perhatikan, banyak serapannya ke dalam bahasa Indonesia. Salah satu contoh kata serapan yang berasal dari bahasa Prancis : kamera, kondektur, pantomim, resume, brosur, sinema, suvenir, butik, anulir, bursa, kondite, korps, korset, krim, eselon, feminin, dsb.

Mungkin akan timbul pertanyaan, eh, memangnya Prancis pernah menjajah Indonesia? Kok, sampai ada kata-kata yang akhirnya diserap menjadi bahasa Indonesia?

Sebetulnya kasus ini mirip seperti rantai makanan, Siapa yang ada di posisi puncak. Belanda yang menjajah Indonesia dulu sempat dikuasai oleh Prancis. Banyak dasar-dasar dan tatanan di Indonesia yang pada sejarahnya merupakan pengaruh Prancis, Sebagai contoh yang paling terasa hingga saat ini tentu saja adalah hukum. Ibaratnya kalau belajar di Prancis = belajar dari penakluk negara yang pernah menjajah kita. Hahaha…

Napoleon Bonaparte saat menguasai Eropa menerapkan politik dinasti, untuk memperpanjang kekuasan. Yaitu dengan cara menempatkan saudara dan kerabatnya menjadi penguasa. Secara langsung maupun lewat pernikahan.

Salah satu negara yang ditaklukkan yaitu Belanda (otomatis jajahan Belanda=jajahan Prancis), sehingga Napoleon kemudian menempatkan adiknya, Louis Napoleon sebagai Raja Belanda.

Bahasa Prancis terkenal sebagai bahasa pengantar bagi kaum elit alias di kalangan Raja-raja. Orang-orang yang ditempatkan sebagai penguasa di negara-negara jajahan, salah satunya Hindia Belanda, tentu tidak sembarangan. Dia harus sepaham dan membawa kepentingan Prancis juga.

Saat itu yang terpilih adalah Gubernur Herman Willem Daendels (1808-1811).

Herman Willem Daendels, dilukis oleh Raden Saleh

Marsekal Daendels ini jelas punya ikatan yang kuat dengan pemerintah Prancis, seorang yang sangat mendukung ide revolusi Prancis, selain itu ia pernah dididik militer di Prancis. Saat ia berkuasa, bahasa Prancis berkembang di Hindia Belanda, bahkan ada surat kabar khusus berbahasa tersebut. Selama masa penjajahan itu terjadi interaksi antara penguasa dan orang Indonesia.

Soal Daendels kapan-kapan saya cerita tersendiri tentangnya. Cukup menarik bagaimana dia membawa sebersit ide Revolusi Prancis ke tanah Jawa.

Kembali ke kata “Prancis”, yang asal katanya adalah “France”. France sendiri berasal dari bahasa latin yaitu Francia (tanah orang-orang Frank). Berabad-abad lampau di tanah Eropa, yang suka gonta ganti kekuasaan, pernah berkuasa Frankish Empire. Demikianlah penyebutannya dalam bahasa Inggris.

Frankish. Hmmm….

Jadi sebetulnya pengucapan orang Indonesia nggak salah-salah amat ya hahaha…

Gambar fitur : pixabay.com by Tumisu

11 Comments

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: