cerita

“Matalik Na Kaibigan”

Saya tahu saat ini beberapa orang Indonesia sekarang sedang kurang simpatik mendengar kata “Prancis”. Karena berbagai kasus dalam lingkup yang makro.

Tapi kita sering lupa lingkup mikro, bagaimana manusia-manusianya secara individu. Lebih sulit lagi melupakan itu, bila kamu pernah bergaul dengan mereka.

Ini adalah salah satu cerita saat saya kuliah di Paris, Prancis.

Seperti yang sudah saya ceritakan kelas yang saya ambil adalah sub spesialis sehingga tidak terlalu besar.

Disana memiliki beberapa murid dari berbagai negara. Ada dari Belgia, Yunani, Tunisia, Perancis, Taiwan, dan Filipina.

Yang dari Asia hanya beberapa orang dan dari Asia Tenggara hanya dua orang. Saya dan (sebut saja) Daisy, orang Filipina.

Dia adalah salah satu kawan pertama saya, bersama salah satu orang lain (sebut saja) Mei, yang berasal dari Hongkong, Cina.

Daisy suka bercerita-cerita bagaimana dia tinggal di negara ini, bersama tunangannya seorang Prancis. Kami biasa ngobrol-ngobrol di sebuah kafe, saat musim panas. Ngobrolnya dalam bahasa Inggris karena itu bahasa pemersatu kami.

Ketika kuliah mulai, semua tersentak setelah melihat skedul ketat dan tugas-tugas yang ada. Sekolah saya memang terkenal dengan skedul kerja rodi namun ternyata untuk kelas lanjutan lebih parah lagi.

Jadi bisa dipastikan sepanjang semester tidak ada yang namanya leha-leha di rumah. Dihajar tugas pribadi plus tugas kelompok.

Suasana yang nyaman, santai, menikmati musim panas, berubah jadi beringas. Semua murid bergegas-gegas berusaha satu kelompok belajar dengan orang-orang cerdas dengan potensi nilai.

Yang favorit menjadi teman kelompok, tentu saja orang Prancis asli, atau mereka yang bahasa Prancisnya jago dan mahir membuat kerangka studi kasus.

Nasib kami orang-orang Asia sudah ditentukan : bukan favorit-favorit banget, karena kemampuan bahasa kami. Kecuali punya kemampuan lebih seperti misalnya, kreatif dan pandai mengedit gambar. Dalam tugas kelompok, umumnya orang Asia hanya jadi “penggembira” di kalangan mereka yang kemampuan debat berbahasa Prancisnya fasih.

Saya, sih, pasrah dengan kondisi bahasa. Dan itu artinya tugas mandiri harus bergadang berkali-kali lipat. Setiap malam sibuk dengan membuat slide karena hampir setiap hari ada presentasi, tidak pandang bulu kamu mahir bahasanya atau tidak. Minimal hanya mampu berbahasa Tarzan di depan audiens. Yang penting mereka menangkap kemauanmu. Semua orang sudah pernah khatam dimarah-marahi professeur didepan kelas.

Kalau kamu orang pandai di sekolah terbaik di Indonesia pun, ketika ada di Prancis, bisa mendadak jadi “Lost In Translation”. Kecuali sudah bertahun-tahun belajar bahasa dan tinggal disana. Jadi jangan terlalu sedih kalau kenyataannya sering sulit sekali meraih nilai sempurna 14.

Teman saya yang super pintar pun, kesulitan membuat thesis doktorat gara-gara kendala bahasa ini. Ada perkecualian beberapa orang spesial karena memang ada bantuan ekstra dari salah satu sponsor, alias professeur.

Balik ke suasana kelas. Sepertinya para professeur memang sengaja mengkondisikan kelas kami menjadi sebuah arena penggojlokan tingkat tinggi. Kalau sekarang ibarat film The Hunger Game. Survival for the fittest.

Bagaimana tidak, contohnya saya dan Daisy, kami yang awalnya akrab sering ngobrol, akhirnya jadi “‘bersitegang’ karena persaingan. Agar diterima dalam kelompok orang-orang Prancis/Belgia yang superior dalam kelas, dengan kondisi pemahaman jauh lebih menguntungkan.

Kalau sudah selesai kelas, di awal-awal, semua teman-teman tidak terlalu membaur di luar kelas. Melainkan berkelompok-kelompok. Yang Prancis dan Belgia sendiri-sendiri.

Baru setelah ada acara-acara, seperti berkunjung ke salah satu apartemen teman, suasananya kompak dan cukup menyenangkan. Biasanya minuman dan rokok bertaburan. Sudah tradisi.

Untuk bisa benar-benar akrab dengan teman Prancis di kelas saya, harus siap dengan kebiasaan tersebut. Saya tidak minum dan merokok, jadi bisa dibayangkan ekstra perjuangan untuk blendingnya. Kecuali beruntung ketemu yang suka hidup sehat ala ala vegan ya.

Padahal rokoknya juga cuma lintingan daun. Karena disana harga rokok seperti di Indonesia mahalll.

Sebetulnya saya bisa, sih, membeli keakraban dengan kasih rokok *nyogok.com*. Mudah sekali. Karena beberapa teman Indonesia saya di kampus lain melakukannya. Tapi saya akan menyesalinya, setidaknya puluhan tahun nanti saat menjadi tua dan bijaksana .

Pernah melihat sendiri tatapan binar-binar teman pria Prancis yang diberi rokok kretek oleh orang Indonesia…

” Saya bisa mati.” ucapnya serius.

…….tapi tetap dikantongin juga!!*tepok jidat*

Kadang sebagai alternatif, saya bergaul dengan kawan-kawan dari Spanyol, Jerman, dan Belgia. Mereka tidak terlalu banyak merokok dan punya karakter tersendiri.

Kawan Spanyol saya misalnya, punya ciri khas, berdarah panas, berani sekali namun sangat baik.

Contoh, ketika ada yang insult saya, dia yang pertama kali berang mendamprat orang ybs. Dan saya dimarah-marahi seperti anak kecil (padahal usianya lebih muda, loh).

“Kenapa, sih, kamu diam saja digituin?”

Kalau di Indonesia sudah dipelototin kali. No, disini berapapun usia, kita semua equal. Bebas kritisi, bebas berekspresi.

Saya nyengir santai sambil berpikir, ngapain juga yang kayak begitu dilayanin? Buang-buang energi saja.

Ih, Asia banget, ya? Hihihi…tapi repot juga kalau ada yang berkelahi gara-gara kelakuan pasif ke-Asian-an saya.🙄

Jadi ok, deh, berikutnya saya berjanji kepadanya akan mulai bereaksi agak marah-marah dikit. 🤣

Kalau teman orang Jerman, beda lagi, orangnya sangat “neat”, rapi jali. Dan tanpa make up. Nggak neko-neko. Hidup tertata dari awal hingga akhir.

Kuliah beberapa semester dengan kondisi seperti itu termasuk melelahkan, secara mental spirit, bahkan bagi orang Prancis sekalipun. Di beberapa bulan semester awal, sudah ada yang gugur, menolak masuk lagi.

Menjelang semester akhir ketika sudah masuk masa stagier, banyak dilema apakah akan fokus di stagier untuk mendapatkan kerja atau menyelesaikan kuliah.

Dan berguguranlah lagi murid-murid, di gelombang kedua : beberapa teman-teman Perancis, Tunisia, dan Belgia, yang justru saya lihat pintar-pintar sekali!

Setelah diterima kerja, umumnya mereka tidak punya waktu atau tidak mau membuat thesis.

Banyak dramanya memang, di kelas Internasional, namun juga kekocakan. Seperti saya pernah “bercerai”, namun ternyata “berjodoh” kembali.😂

Saya tidak pernah banyak bergaul dengan Daisy lagi, karena gadis itu, walaupun nilai-nilainya bagus, dia seperti menjauh dari kelompok kaukasian dan Asia kami.

Ya. Daisy tidak pernah datang ke acara-acara pergaulan kelas.

Menjelang presentasi kondisi makin menggila. Terutama karena ada pemogokan satu kota. Cobaan sekali, terutama bagi saya.

Untungnya saya dan semua teman yang berhasil hadir, bisa mempresentasikan thesis dengan baik dan dengan demikian dianggap lulus. Demikian juga dengan beberapa teman Belgia, Spanyol, dan Perancis. Dari sekian puluh siswa hanya sekitar 50% yang menyelesaikan tugas akhir.

Saya banyak belajar, terutama dari kegigihan teman-teman Asia. Dengan berbagai kesulitan bahasa (untuk orang Taiwan terutama, sulit sekali mengucapkan beberapa kata bahasa Prancis), nilai yang mungkin tidak menonjol seperti kawan Prancis, mereka berhasil menyelesaikan studi.

Dari teman-teman Kaukasian saya juga banyak belajar, salut dengan sportivitas, integritas, serta otak mereka. Walaupun kadang terkesan tidak serius, mereka rata-rata risk taker, analitik, dan thinking out of the box.

Yang terakhir ini termasuk kemampuan yang sulit disaingi oleh murid-murid Asia, walaupun mereka belajar dua kali lebih keras. Cara berpikir mereka sudah terasah sejak dini.

Bagi beberapa dari mereka, menjadi umum, apalagi meniru adalah hal yang paling nista. Tidak terlalu penting nilai bagus, asal hasil karya sendiri. Karena bila tidak begitu, semua permainan nilai-nilaian ini akan kehilangan arti.

Demikian saat beberapa dari mereka akhirnya tidak selesai kuliah sampai thesis, mereka tidak malu mengakui itu, apalagi sampai tidak mau berhubungan dengan kawan lain. Toh, itu konsekuensi, harga yang harus mereka bayar, untuk keputusan yang dipilih.

Karena universitas di Prancis tidak ada yang namanya Graduation Ceremony, selesai, ya, hanya selesai begitu saja. Nggak ada yang namanya toga dan topi melayang.

Walaupun demikian, di akhir hari presentasi, semua teman berinisiatif merayakan di sebuah kafe. Bahkan saya berjumpa lagi dengan kawan Prancis yang di semester awal drop out dan yang tidak menyelesaikan thesis. Ternyata meskipun tidak menyelesaikan, semua masih merasa senasib sepenanggungan oleh penggojlokan selama beberapa semester. Tidak ada yang menghina. Tidak ada yang meremehkan. Sportif.

Yang bersahutan hanya ucapan selamat serta selamat jalan, karena setelah itu semua akan menuju jalan masing-masing. Ada yang pulang, ada yang tinggal, ada yang di transfer kerja ke tempat lain.

Ucapan berkesan dari si kawan Spanyol,

Mes amis et mes amies. Pengalaman dengan kalian selama ini telah mendewasakan saya. Terimakasih untuk semuanya.”

Toast. *saya mah pakai Evian lagi -lol*

Semua datang, lagi-lagi kecuali Daisy.

Bertahun-tahun telah berlalu. Kami masih terhubung via media sosial, namun yang masih sering bertukar sapa justru teman yang tidak di-sangka : teman Tunisia dan Prancis-Arab, hanya karena kami sering saling mengucapkan selamat Idul Fitri. Kecuali ketika ada peristiwa khusus baru teman Prancis bertanya.

Namun dengan semakin beratnya impact dari medsos, satu persatu kawan memilih meninggalkan media itu. Lama kelamaan foto dan profil bak sebuah rumah yang ditinggalkan penghuni. Kecuali bagi mereka yang membutuhkannya untuk berbisnis.

Yang mengejutkan, baru belakangan terakhir saya bertukar sapa…. dengan Daisy via messenger medsos. Daisy ternyata menjadi seorang influencer beken di negaranya. Sehingga mudah sekali mendapat berita tentangnya.

Sekarang malah lebih banyak dapat cerita dari Daisy.

Kami ngobrol soal masa-masa yang lewat, bagaimana dia saat kembali pulang Filipina.

Dan bagaimana dahulu dia dilarang untuk bergaul dengan teman kuliah oleh tunangan Prancisnya (sekarang sudah putus) sehingga dia tidak bisa dekat dengan kami.

Sekarang dia tampak lebih bahagia dan punya pasangan orang setempat.

Dari cerita-ceritanya, seperti ada sedikit penyesalan bahwa dulu dia tidak membaur akrab di luar kelas kami.

Lovers come and go. Friend stays forever.

Mengingat kembali semuanya, saya senang. Walaupun pernah dikondisikan dalam suasana saling bersaing, saling serang, bahkan caci maki, namun tidak ada seorangpun dari kami semua yang awet berprasangka. Daisy juga tidak.

Ini salah satu hal yang menurut saya positif dari pengaruh didikan masyarakat Barat (dalam hal ini Prancis) dengan sikap fair, blak-blakan, dan keterbukaannya. Karena akan sangat rugi memendam rasa bila mengingat pertemuan masing-masing dari kami, yang singkat, nantinya akan dipisahkan oleh lautan yang luas.

Itulah sekelumit tentang teman-teman sekelas saya di sebuah Universitas tua nun jauh disana.

Saya menutup kisah ini dengan sebuah kalimat dalam bahasa negaranya Daisy :

“Matalik na kaibigan.”

My beloved friends.

Apakah kamu juga mempunyai kisah berkesan tentang kuliah dan teman-teman kuliahmu?

Gambar : pixabay.com

12 Comments

  • PIPIT

    Apa judul kali ini berasal dari Bahasa Tagalog?
    Dan artinya My Beloved Friend ya.. bagus..

    Kalau pengalaman kuliah dan teman-temannya, jujur aja aku udah banyak yang lupa. Yang berkesan kayaknya cuman 1 ini deh, cerita di mana pas persentasi dan aku cengok karena g bisa jawab. Di masa itu aku g mau mengakui ketidak tahuanku, lebih suka ngeles, padahal g nyambung ngelesnya. Tapi dari situ aku belajar, it’s ok kok kalau aku g tahu dan mengakuinya.

    • J'étais Parisienne

      Ya arti lain bisa best friend…saya pilih karena bunyinya manis 😊

      Pengalaman presentasi memang suka unik-unik.

      Sudah banyak yang lupa ya mbak Pipit. Nggak apa2, biasanya sih kalau ada pemicu suka ingat lagi. Ini saja saya sengaja tulis supaya tidak lupa saat sdh usia tua..😅

      • fanny_dcatqueen

        Eh aku ada satu temen kuliah dari Prancis yg sekelas di awal2, pas msh kuliah di Penang. Dia anak diplomat, makanya kuliah di Malaysia. Dan orangnya asik sih. Dia berani di kelas kalo ada debat2 am dosen :D. Ama satu lagi siswa dari Mongolia. Si anak Mongolia ini Krn anak diplomat juga, jadi lama di Eropa sebelumnya. Makanya sama beraninyaaa hahahaha.

        Yg anak2 Asia dan timur tengah, cendrung penurut :D. Tapi nilai kami yg biasanya tinggi :p.

        Trus anak dari India, paling sering ngerusuh hahahaha. Tp giliran makul yg berbau IT mereka jago. Cm jgn tanya kalo udah masuk ke akuntansi, aku bingung ngapain masuk ke sini dr awal :p.

        Seru sih kalo inget temen2 kuliah ini mba. Tapi sedihnya aku juga banyak putus komunikasi Ama mereka :(. Bisa jd Krn pas aku kuliah dulu, blm ada FB dan medsos, baru ada Friendster hahahahahaha. Eh FS di APUS, ya sudaaah terputus langsung Ama temen2 dulu ..

  • Anton Ardyanto

    Hohoho..mampir ah kesini.. bagus tulisan dan pengalamannya Pheb..👍👍❤️❤️

    Pantes dikau biasa berantem yah 🤣🤣🤣🤣

Leave a Reply to Anton Ardyanto Cancel reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: