kultur/budaya,  opini

Menghadapi Kerabat atau Anak Yang Mengalami Reverse Culture Shock

Sebetulnya tema ini condong ke parenting.

Beberapa kenalan di luar sedikit curcol tentang reverse culture shock dan penyesuaian dengan keluarga.  Harapan mereka saya tampung (kayak gentong aja hihihi). Saya paham, rasanya sih karena ngalamin juga.

Sudah sering bahas soal reverse culture shock disini, jadi sekarang mau kasih tips apa yang sebaiknya dilakukan oleh keluarga atau orang tua bila hadapi kerabat/anaknya balik dari LN.

Berlaku juga bila seseorang ingin mendekati anggota keluarga yang awalnya “jauh”.

1. Pahami Niat 

Sadar dulu niat kita mau dekatin seseorang itu apa? Ingin kembali dekatkah, berkomunikasi kah? Atau memang supaya dia patuh kepada perintah kita, jangan bikin malu keluarga , dsb?

2. Berkaca-berkaca-berkaca

Setelah tahu tujuan komunikasi apa, mari sekarang ambil cermin, lalu kita berkaca dulu. Selama ini bagaimana pola kita berkomunikasi dengan yang bersangkutan? Kalau bertahun-tahun nggak pernah say hello, mengurusi, atau peduli tentang kondisinya. Atau selama ini kerjanya cuma menasihati saja tanpa pernah mendengarkan. Masa tiba-tiba cilup ba muach muach. Apalagi bila seseorang sudah dewasa, nggak bisa dong pakai cara ngomong dengan anak-anak. It doesn’t work.

Bila sudah sadar kalau selama ini cara berkomunikasi lawas selalu berakhir ambyar maka yang pertama dilakukan adalah :

3. Rekonstruksi Ulang dan Ubah Cara Berkomunikasi

Kalau selama ini pendekatannya langsung tancap gas. Lebih baik tahan diri dulu. Rumus matematika terburuknya : pengabaian selama 5 tahun pendekatan yang harus di bayar lebih dari 5 tahun. Kasih ruang jeda. Terima seseorang apa adanya. Hati-hati bila ingin memaksakan value kepada ybs. (kecuali membawa keluarga yang lain juga). Pakai rumus  urusanmu urusanmu, urusanku urusanku.  Sementara waktu dulu, ya. Pilih topik yang santai dengan tema yang menyenangkan. Pokoknya buat seseorang agar merasa diterima dan nyaman dulu.

4. Menawarkan Bantuan

Reverse culture shock itu nggak mudah bagi beberapa orang. Kita saja yang baru pulang antar pulau suka kaget, kok apalagi antar negara. Tawarkan bantuan apa saja yang bisa kita lakukan untuk meringankan perasaannya. Bisa juga menghadirkan suasana seperti saat terakhir seseorang tinggal.

5. Banyak Melihat Sisi Lain yang Positif Darinya

Walau ada perubahan dan perbedaan, Banyak fokus kepada sisi positif seseorang selama absen lama itu.  Ungkapkan secara verbal bila perlu. Cerahkan suasana. Buat perasaan nyaman, aman, dan tenteram dalam hati nya.

6. Kenali Secara Lebih Dalam

Dari hasil ngobrol dan mengenal kembali. Baru analisa, bagaimana perubahan yang terjadi pada seseorang ini. Apalagi yang tinggal di Barat, ya. Kadang bisa memiliki perbedaan yang cukup ekstrim. Perhatikan apakah dia cenderung jadi ekstrim kiri atau kanan. Ketahuan, kok kalau seseorang itu condong kemana. Bila dia ekstrim kiri, kita bicara soal kanan sedikiit saja, pasti ekspresinya berubah. Dari hilang senyum sampai balik ngegas. Kalau dia ternyata demikian maka….

7. Hindari Topik Yang Terlalu Berseberangan

Selama kedekatan kalian belum “terbayar” jangan coba-coba walau cuma seupil saja,  keceplosan sebuah ide yang berseberangan dengan seseorang yang jadi ekstrim kiri/kanan. Kecuali berani ambil resiko kepengin balik ke square one. Capek deh ya.

Telan saja dulu ego kita bulat-bulat. Banyak-banyak dengarkan pendapatnya. Ingat niatnya, memperbaiki komunikasi bukan meng-ambyar-kan komunikasi kan?

Oya, jangan terjebak dengan perkataan  “Oh saya nggak apa-apa kan agree to disagree.” Pengalaman, banyak orang ngaku-ngakunya open mind tapi perasaannya belum tentu. Use your insting. Peka pada perubahan ekspresi.

Tapi bila ternyata seseorang itu menurut feeling kita tipenya moderat, kita bisa masuk ke step….

8. Gunakan Kalimat Pertanyaan atau “Aku merasa”

Bila dilihat hubungan sudah membaik, kita bisa mulai mengungkapkan apa yang kita inginkan. Paling baik gunakan kalimat pertanyaan. Misal, kita ngerasa pakaian anak atau seseorang kurang pantas di sebuah acara-acara tertentu. Gunakan kalimat tanya,

“Acara ini isinya sesepuh yang mungkin agak kritis, kira-kira baju kayak apa ya yang membuat kita nanti merasa aman dan nyaman?” Bila seseorang itu tipe strong-willed, mungkin ajukan beberapa opsi. ” eh, yang ini kayaknya bagus, deh…”

Bisa juga pakai kata yang diawali, “Aku merasa….”

“Aku merasa nggak nyaman, ya kalau kamu pergi sini. Karena….”

Pastikan apa yang kita harapkan itu jelas, ya. Nggak ambigu.

9. Bila Komunikasi Masih Tidak Berhasil

Yang pertama, di review, apakah pendekatan selama ini konsisten? Atau ada bolong-bolong sana-sini. Kedua, coba pendekatan baru yang kita rasa lebih cocok dengan kondisi. Ketiga, ini yang paling penting..sadar bahwa banyak hal-hal di luar kendali kita. Isi kepala orang lain salah satunya. Remain calm and slow down. Waktu akan menunjukkan, kok. Lama-lama akan ketahuan nanti dimana “urat” yang keseleo.

Semoga tidak sampai tahap ini, ya. Walau ada beberapa kasus orang yang mengalami kegagalan berkomunikasi berulang dengan keluarga, meskipun sudah mengubah pola komunikasi, butuh penanganan yang lebih serius dengan profesional.

====

Semoga membantu. Bila ada yang punya tips tambahan silahkan lho di kolom komen…

Gambar fitur : piqsels.com

3 Comments

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: