review

Midnight in Paris

Sebetulnya film ini keluaran tahun 2011. Sutradaranya Woody Allen, terkenal dengan film-film dengan karakter kuat serta pandai mengeksplorasi keindahan sebuah tempat.

Kebetulan saja filmnya baru tayang minggu ini di Netflix.

Tokoh utama Midnight in Paris adalah Gill Pender (Olen Wilson), seorang penulis skenario film Hollywood dari Amerika. Dia tengah berjuang untuk menyelesaikan novel pertama. Sayangnya masih kurang PD dan kurang eksplorasi. Dia punya tunangan bernama Inez (Rachel McAdams), anak orang kaya raya.

Mereka berdua tengah berlibur ke Paris bersama kedua orang tua Inez. Menginap di hotel bintang lima Hôtel Le Bristol dan makan di restoran terbaik macam Le Grand Véfour

Gill, yang romantis dan suka berkhayal, rada stress karena novelnya belum selesai-selesai. Ia tertarik untuk menetap di Paris, demi mendapatkan banyak inspirasi. Inez sendiri nggak suka dengan ide itu.

Di Paris mereka menghabiskan waktu berjalan-jalan bersama orang tua dan teman-teman Inez, Salah satunya adalah Paul dan istri.

Paul, Inez, dan Gill di Versailles

Paul suka sotoy soal sejarah bahkan nggak ragu-ragu debat dengan tour guide di Musée Rodin soal kehidupan Rodin. Inez terpesona oleh Paul sementara Gill menganggapnya norak.

{{Pst, tour guide yang di debat Paul itu diperankan oleh Carla Bruni, istrinya eks presiden Prancis Nicolas Sarkozy. loh. }}

Nyonya Presiden, First Lady Carla Bruni Sarkozy beradu akting dengan Owen Wilson

Gill kelihatan banget sulit menyesuaikan diri dengan Inez yang lebih praktis dan pragmatis. Juga susah berkomunikasi dengan orang-orang disekitarnya. Ia merasa tidak satupun yang ngerti jalan pikirannya.

Suatu malam Gill berjalan pulang sendirian ke hotel dengan kondisi setengah mabuk. Saat itu bel berdentang, jalanan mulai sepi.

Tiba-tiba ada sebuah mobil jadul Peugeot Type 184 Landaulet 1924 lewat. Di luar dugaan mobil tersebut berhenti di depannya. Penumpang di dalam mobil berseru-seru ngajakin Gill ikut sambil mengacung-acungkan botol miras.

Mobil jadul dengan penumpang tokoh-tokoh jadul muncul…(gambar : imdb.com)

Gill ragu-ragu, tapi akhirnya mau diajak masuk mobil. Penumpang mobil tersebut semua berpakaian ala tahun 1920 an. Mereka mau pergi party di sebuah tempat dan Gill disuruh join.

Ternyata party nya penuh dengan orang-orang yang berpakaian serupa. Gill kaget ketika tahu bahwa pasangan ramah yang ngajakin dia adalah pasangan penulis beken (tapi jadul juga) yaitu F. Scott dan Zelda Fitzgerald. Lalu penyelenggara party-nya adalah Jean Cocteau.

Mimpi apa sampai ketemu Ernest Hemingway…(gambar : imdb.com)

Gill kemudian berpindah-pindah lokasi bersama kedua pasangan penulis tersebut. Di tempat lain itu ia jumpa kembali dengan tokoh-tokoh klasik yang bikin bengong seperti : Ernest Hemingway (disini Hemingway muda kok di gambarin terlalu ganteng haha). Pablo Picasso,Gertrude Stein, dll. Gill juga sempat berkenalan dengan Adriana (Marilin Cotillard), kekasih Picasso yang atraktif.

Pokoknya malam itu bikin Gill hepi banget. Apalagi Gertrude Stein janji mau melihat draft novel Gill untuk di nilai. Langsung saja cowok itu balik ke hotel buat ngambil karyanya.

Namun begitu balik ke tempat yang sama, suasana sudah berubah, jadi era tahun 2000-an lagi.

Gertrude Stein dan Pablo Picasso (gambar : imdb.com)

Malam berikutnya, Gill mengajak Inez melihat tempat dia back to the past, agar tunangannya itu mempercayai cerita dia. Tapi Inez keburu bosan menunggu lalu pulang duluan.

Saat sendirian menunggu bel berdentang dan Gill ketemu lagi mobil jadul lalu masuk kembali ke dalamnya. Seperti malam kemarin, lagi-lagi Gill jumpa dengan tokoh-tokoh penulis dan seniman besar dalam sejarah, yang hidup di tahun 1920-an.

Gil dan Adriana. Adriana sendiri sebetulnya adalah tokoh fiksi (gambar : imdb.com)

Gill mulai tertarik pada Adriana, yang baru putus dari Picasso. Beda dengan dirinya, yang menganggap tahun 1920-an era bohemian adalah zaman keemasan literasi dan seni-Adriana lebih suka tahun 1890-an atau La Belle Époque

Saat mereka berdua berjalan-jalan lepas tengah malam, tiba-tiba menemukan tempat dimana ada tokoh-tokoh yang berasal dari era lebih jadul lagi!

Sementara itu ayah Inez yang kaya mulai merasa curiga pada perilaku calon menantunya. Dia menyewa detektif yang mengikuti tindak-tanduk Gill.

Detektif naas yang diperankan oleh komedian Gad Elmaleh. Eh, kok naas? Simpan ngakak-mu nanti di ending! (sumber: imdb.com)

Apakah setiap berjalan malam Gill selalu kembali ke masa lalu dan lebih lalu? Bagaimana nasib hubungan Gill?

OK STOP. Saya nggak akan spoiler lebih lanjut. Walau kepengiiiin…hohoho..

Menonton Midnight in Paris membangkitkan aura nostalgia sekali. Karena filmnya memang mengedepankan suasana itu. Seolah-olah berjalan-jalan malam di Paris- dengan ataupun tanpa pasangan- akan terasa kembali ke masa lalu yang super romantis banget.

Saya akui, itu memang mudah sekali terjadi berkat suasana dan arsitektur jadul yang masih dipertahankan hingga kini. Kota Paris sendiri memang seperti sebuah “mesin waktu”, yang bisa membuat kita seperti ada di jaman lain. Apalagi bila ditunjang kamu tahu sejarah-sejarah di tempat tersebut. Paket lengkap, deh.

Ehm, aslinya, kalau jalan malam sendirian apalagi di daerah Montmartre yang ada sih ngeri sih saya hahaha.

Kalau saya lihat film ini bagaikan sebuah mimpi seorang penulis debutan-remah rengginang- yang jadi nyata. Saat kena serangan writer’s block dan nggak PD, tiba-tiba kamu bisa ketemu Hemingway, diajak jalan bareng Scott F. Fitzgerald, bahkan tulisanmu dibaca oleh Gertrude Stein. Termasuk mimpi pelukis dan seniman juga, tahu-tahu jumpa Pablo Picasso, pas lagi bengong dicolek oleh Salvador Dali!

Seorang seniman, penulis, dan penggila buku bisa memahami perasaan ini. Sepanjang film saya nggak ada habis-habisnya sumringah menebak yang baru muncul ini tokoh siapa. Dan berseru-seru saat sukses menebak dari wajah tokoh,

“HWAAA ITU KANNNN SI…. XXXX!”

Supaya bisa relate- ya bisa bayangin aja tiba-tiba kamu di suatu tempat ketemu semua idol Korea favoritmu. Atau bila kamu gamer kayak habis nonton film Ready Player One. Bikin teriak-teriak karena terlalu banyak ngeliat easter eggs bertebaran. Kayak gitu, deh. Kalau di mimpi sampai demikian, bangun pun bakal malas hahaha…

Pencahayaan, pemilihan tempat, make-up dan kostum juga kelihatan alamiah, nggak berlebih tapi sudah cukup membangun suasana back to the past. Woody Allen selalu tahu bagaimana membuat film yang sophisticated tanpa kelihatan berusaha terlalu keras. Sangat mengalir lancar dengan alunan background music yang pas. Pemilihan tempat-tempat menarik juga cocok banget dan memanjakan mata, terutama bagi calon turis.

Pesan yang ingin disampaikan oleh film ini cukup berlapis sehingga menarik : manusia itu punya kecenderungan nggak puas dengan kondisi present day-masa kini. Sehingga selalu mencari bayangan kehidupan ideal di masa lalu.

Padahal mereka yang hidup di masa lalu juga nggak merasa jamannya istimewa-istimewa amat. Bagi orang-orang itu, enakan jaman yang lebih dulu lagi. Halusinasi yang seperti ini membuat orang jadi nggak menapak ke bumi dan memilih hidup di dunianya sendiri.

Sampai ada istilah nostalgia is denial-denial of the painful present.

Film ini pas buat kamu penyuka film-film romantis, drama, khas Woody Allen atau suka dengan segala hal yang berhubungan dengan Paris, penulisan, dan sejarah. Nontonlah di malam hari sambil meredupkan cahaya lampu disertai cemilan ringan yang enak. Sangat legit, menggigit, membius dan menghanyutkan.

Gambar fitur : medium.com

4 Comments

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: