review,  sejarah

Napoelon and Joséphine : an Improbable Marriage

Dibalik seorang laki-laki yang hebat tentu ada seorang wanita istimewa.

Pepatah lama ini berlaku juga bagi Napoleon Bonaparte. Wanita yang mendampinginya selama 13 tahun itu adalah Marie-Josèphe-Rose Tascher de la Pageri alias Joséphine.

Dalam sejarah Joséphine dikenal sebagai istri pertama Kaisar Perancis, walaupun sebetulnya banyak kontribusi tidak terlihat bagi dinasti raja-raja Eropa dan ilmu botani.

Evangeline Bruce memaparkan perjuangan kedua tokoh tersebut hingga mencapai gelar Emperor dan Empress, setaraf dinasti Bourbon, yang telah tumbang, melalui karyanya :  Napoelon and Joséphine : an Improbable Marriage.

 

Joséphine adalah janda beranak dua dari Alexandre Vicomte de Beauharnais, seorang bangsawan dan perwira militer Perancis yang terkena hukuman guillotine pada masa pemerintahan terror Robespierre, pasca revolusi Prancis.

Napoleon Bonaparte sendiri adalah seorang perwira militer muda yang sedang naik daun, dia membutuhkan partner yang cocok untuk melancarkan karirnya. Secara kebetulan Barras, politikus yang berpengaruh pada masa itu, memperkenalkannya kepada Joséphine yang berusia 6 tahun lebih tua dari Napoleon.

Napoleon langsung jatuh cinta pada ibu dua anak yang terkenal luwes bergaul diantara sosialita kelas atas itu. Baginya Josephine terlihat sangat menarik. Kontras dengan dirinya yang berasal dari daerah serta karirnya baru mulai dilirik orang.

Napoleon dan Josephine di rumah pertama mereka, Malmaison

Pernikahan Napoleon dan Joséphine saling menguntungkan kedua belah pihak. Namun bahtera perkawinan mereka tidak bisa dibilang mulus dengan berbagai skandal, intrik, dan intervensi dari keluarga Bonaparte. Keduanya tetap teguh mempertahankan pernikahan, Josephine bagaimanapun adalah partner yang strategis bagi Napoleon secara politis, karena koneksinya yang luas serta pribadinya yang menarik.

Kontroversi keputusan Napoleon menobatkan Joséphine sebagai Kaisarina ditengah tekanan keluarga Bonaparte, ternyata lebih berdasarkan rasa keadilan aneh dari laki-laki yang terkenal sebagai misoginis sejati.

“Joséphine, berhak menerimanya, jika takdirku adalah masuk ke penjara bukan naik tahta, dia pasti akan menerima bagianku juga. Tidak, Joséphine akan tetap dinobatkan.”

Penobatan Josephine

Dan dalam sejarah monarki Perancis Joséphine tercatat sebagai wanita kedua setelah Catherine de Médici yang menerima kehormatan di mahkotai dengan gelar setaraf Ratu.

Sayangnya ambisi Napoleon untuk menciptakan dinasti mengharuskannya untuk memiliki keturunan. Josephine tidak bisa memberikannya, sehingga di bawah berbagai tekanan Napoleon memutuskan untuk menceraikan istri yang sudah menemaninya ke tahta kekaisaran itu.

Josephine menerima keputusan dengan berat. Walau sudah bercerai mereka tetap bersahabat. Josephine masih dibiayai secara finansial oleh Napoleon, yang kemudian menikah dengan Marie-Louise, putri dari dinasti Hapsburg, Austria.

Dari pernikahannya yang kedua Napoleon berhasil mendapatkan seorang putra, calon pengganti Kaisar di masa depan.

Marie Louise dan putranya yang bergelar King of Rome

Namun manusia hanya bisa berencana. Dinasti yang di impikan oleh Napoleon tidak pernah terwujud karena dia keburu digulingkan dari tahta oleh musuh-musuhnya.

Pasca kekalahan di Waterloo Napoleon kemudian di asingkan ke St Helena tanpa pernah bertemu dengan keluarganya lagi hingga ajal menjemput. Anak dan istri Napoleon dipaksa pulang ke Austria oleh ayah mertua. Disana kondisi membuat Marie-Louise yang berkepribadian lemah melupakan Napoleon. Putra kebanggaan Napoleon wafat dalam usia yang masih muda di Austria.

Eugene dan Hortense, dua anak tiri Napoleon

Ironisnya, keturunan Josephine-lah yang kemudian menjadi cikal bakal raja-raja di Eropa, yaitu dari putrinya Hortense de Beauhernais dan putranya Eugene de Beauhernais. Saat Napoleon berkuasa, kedua bersaudara itu menikahi dinasti-dinasti Eropa lama. Anak cucu mereka, yang cukup banyak, menjadi penerus kerajaan-kerajaan Eropa selanjutnya. Josephine sendiri wafat ketika Napoleon ada di pembuangan di pulau Elba.

Evangeline Bruce

Bagi Evangeline Bruce sendiri buku ini adalah karya pertamanya sekaligus terakhir. Ia adalah istri seorang diplomat Amerika yang pernah menetap di Paris, mengalami kehidupan ala sosialita seperti Josephine, dengan pergaulan kelas atas Prancis. Bruce terkenal sebagai salah satu wanita berbusana terbaik di dunia, diakui oleh desainer papan atas Paris. Ia memanfaatkan waktunya selama tinggal di Paris untuk melakukan riset dan berhasil menelurkan buku yang mendapat pujian dari The New York Times Book Review ini.

Saya merekomendasikan buku ini bagi mereka yang ingin mengetahui seluk beluk sejarah Prancis era kekaisaran, serta berminat pada biografi kedua tokoh tersebut, karena menggabungkan informasi penting dari biografi populer kedua tokoh yang biasanya ditulis secara terpisah. Pemaparannya cukup komprehensif dan tidak berat sebelah pada salah satu pihak, dari kaca mata yang lebih feminin.

Gambar fitur dan yang lain diambil dari wikipedia.com

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: