kultur/budaya,  opini

Patriotisme dan Simpati Orang Prancis

Salah seorang artis Indonesia membuat heboh karena dalam sebuah wawancara dia mengaku tidak berdarah Indonesia. Banyak pemirsa yang menyayangkan statemennya.

Saya tidak mengerti apa maksud statemen tersebut. Mungkin maksudnya mau bilang bahwa orang Indonesia beragam rupa. Tapi netizen Indonesia sudah keburu julid duluan. Karena memang, yah, di dunia maya (ataupun nyata) banyak sekali orang Indonesia yang sukanya membandingkan negeri sendiri dengan negeri lain, sayangnya nggak imbang, banyakan jeleknya yang diangkat. Yang bagus-bagus selalu dari luar.

Saya membaca sebuah statemen dari kasus ini yang menarik, bahwa dikira orang Barat akan impress bila ada seorang asing yang mengaku bahwa dia memiliki darah bangsa yang dianggap oleh umum sebagai superior (Jerman, Jepang, Cina, Yahudi, etc). Padahal enggak juga.

Berdasar pengalaman saya, orang Barat respek sama orang yang jelas asal-usulnya, cinta pada negaranya sendiri alias mereka yang kelak ingin kembali untuk membangun negerinya sendiri. Hahahaha.

Saya beberapa kali bertanya tentang anggapan orang Prancis (asli) terhadap imigran.

Pada umumnya penduduk asli memiliki ketakutan alami terhadap pendatang. Karena pendatang orang-orangnya beragam. Yang gigih, bisa sampai menimbulkan masalah lapangan pekerjaan dengan warga asli (yang kadang terlalu santai). Sementara mereka yang malas atau pengangguran, bisa jadi pencetus berbagai masalah sosial dan tindak kriminalitas.

Apalagi jumlah kelahiran anak dari imigran dikhawatirkan jauh lebih besar jumlahnya dari penduduk asli.

Penduduk asli khawatir populasi anak keturunan mereka akan terdesak. Oh, yes. semua orang tahu teori-teori Darwin. Cuma mereka bisa apa, karena segala modernisasi dan gerakan-gerakan yang marak di dekade ini cenderung membuat generasi muda jadi memilih YOLO, tidak mau punya anak, atau tidak mau memiliki (banyak) anak.

Makanya tidak semua orang disana bersimpati terhadap pendatang. Bahkan melahirkan tokoh yang memiliki pandangan-pandangan ekstrim. Seperti pemimpin partai Front Nasional Prancis, Jean-Marie Le Pen yang sangat anti imigran.

Kawan-kawan Prancis saya tidak pernah terlalu khawatir akan pekerjaan. Mereka, walau perlu waktu, biasanya dapat pekerjaan, yang tidak saja temporer, tapi permanen. Karena tingkat pengangguran di sana kecil (ketimbang di Indo, ya). Apalagi kalau kamu WN Prancis, nggak perlu ribetlah dengan segala prasyarat.

Saya pernah ngobrol dengan seorang madame di bus, pendapatnya tentang pendatang yang ia pernah kenal. Dia awalnya nanya saya darimana, dan saya kesini dalam rangka apa. Saya bilang saja saya pelajar, yang nanti mau pulang ke negara asal. Dia yang awalnya terkesan kurang simpatik, jadi ramah dan membuka diri. Intinya dia punya rasa nggak suka sangat tinggi terhadap etnis tertentu yang nggak bisa dimengerti oleh dirinya- orang Prancis asli-serta mau-maunya diperlakukan semena-mena oleh korporasi supaya bisa kerja.

Dari percakapan dengan warga lain, ada juga etnis yang selalu dituding jadi biang masalah karena dari oknum etnis mereka sering ketangkep ketika ada tindak kriminalitas. Yang kasihan adalah etnis mereka yang baik-baik jadi suka dilabeli macam-macam, padahal kerjanya bagus-bagus saja.

Apalagi etnis yang terlalu lekat dengan budaya asal mereka, nggak bisa melebur dan setia sepenuhnya seperti macan yang tidak bisa mengubah lorengnya. Selalu ada kekhawatiran tentang rasa patriotisme mereka di hari ke depan.

Kekhawatiran-kekhawatiran penduduk asli, itu bisa dipahami. Bukan soal rasisme sepenuhnya, melainkan lebih ke soal perut, keamanan, keberlangsungan keturunan, dan kenyamanan hidup. Tentu saja tidak semua orang seperti itu, liberte, egalite, fraternite adalah prinsip dari negara mereka. Prancis sebetulnya termasuk negara Eropa yang sangat terbuka dengan pendatang. Bagaimana tidak, mereka adalah negara Eropa pertama yang membuka pintu soal itu. Namun semakin lama semakin kewalahan dengan membludaknya arus imigran, belum lagi kasus-kasus ekstrimis, sehingga mereka mulai resah dan ketat.

Saya punya pengalaman menarik dengan petugas imigrasi.

Dulu setelah selesai semua urusan saya di Perancis, saya hendak memperpanjang titre de sejour. Karena masih ada jeda waktu dalam pengeluaran ijazah, dan….pengen jalan-jalan, dong. Hahaha.
Nah, proses terakhir itu di Paris lebih lama dari biasanya. Saya harus melalui prosedur-prosedur yang njelimet. Saya punya firasat, rasanya seperti sedang di screening.

Di proses terakhir, ada semacam wawancara. Saya ingat petugas cewek yang mengurus datang dengan wajah datar. Ia banyak bertanya pada saya.

“Kartu anda sedang dalam proses selesai. Setelah anda mendapatkannya apa yang akan anda lakukan di negeri ini?” Tatapannya menyelidik.

Saya menjawab kalem.

“Karena saya sudah selesai, saya akan kembali ke negara saya.”

Matanya tampak bertanya-tanya. Lalu ngapain perpanjang kartunya?

“Sebelum pulang, saya kepengin jalan-jalan dulu menikmati Eropa dan negeri anda, khususnya.”

Dan voila. Saya mengeluarkan kartu as : menyodorkan tiket pesawat. Disitu tertulis tanggal saya pulang.

Mata petugas itu langsung berbinar-binar. Ekspresinya berubah. Seperti ada sebuah balon pikiran tak tampak di langit-langit, yang mencoret kata “ini imigran”, digantikan oleh kata lain yang bersinar-sinar : INI T-U-R-I-S (mungkin selanjutnya ada tulisan DEVISA). Hahaha.

Saya disalaminya dengan ramah,

“Oh begitu. Selamat menikmati negara kami dan yang negara Eropa yang lain. Semoga anda menikmatinya, ya.”

Dan LANGSUNG menyodorkan titre de sejour saya, dong. Kemudian mengajak saya bercakap-cakap sebentar. Sangat simpatik.

Saya keluar dari kantor imigrasi separo terhuyung-huyung. Buset, deh, beda banget perlakuannya dalam hitungan detik.Wkwkwk…Bukan berarti ini kasus di Prancis saja, saya kira di negara lain para petugas imigrasi semacamnya juga sama kehati-hatiannya.

Tidak ada negara yang tidak mengawasi dengan ketat warga asing dan pekerja asing yang masuk. Demikian juga warga negaranya. Mereka bukan model warga yang kalau seorang WNA kelihatan sudah suka banget tinggal di negaranya- lalu malah mengompori dengan bersemangat,

“Kalau begitu mister jadi warga negara sini saja!”

Dan timbul rasa bangga bahwa negaranya jadi the chosen one. Wkwk…

No. Tidak begitu dengan warga negara Eropa , yang lebih rasional. Karena kalau ada tenaga kerja terdidik masuk itu artinya sama saja dengan menambah persaingan pekerjaan di dalam negeri,dong. Sementara bila tidak terdidik, jelas cuma nyusahin.Tentu beda kasus, ya, bila yang kerja atau mengajukan ganti kewarganegaraan adalah manusia yang sangat berbakat dan jelas-jelas bila memilikinya bakal bermanfaat bagi masyarakat sana.

Saya rasa semakin kemari imigrasi akan semakin ketat terutama dengan banyaknya phobia-phobia akibat kasus terorisme. Sangat disayangkan memang. Bagaimana mungkin seseorang tega mengkhianati negara yang pernah menjadi tempatnya makan?

Pada akhirnya, walaupun sangat menghargai bakat dan manfaat, manusia lebih menghargai mereka yang memiliki rasa kesetiaan. Barang yang semakin langka nilainya di dunia yang menawarkan banyak kesempatan.


Apakah kamu pernah mengalami hal seperti diatas?

Gambar : wikipedia.com

0 Comments

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this:
Visit Us On TwitterVisit Us On Facebook