kultur/budaya,  opini

Prancis, Karikatur, Agama, dan Kebebasan Bersuara

Belakangan ini berita tentang Prancis lagi ramai. Dan penyebabnya lagi-lagi tentang karikatur.

Seseorang guru dipenggal saat pulang sekolah oleh seorang pelajar gara-gara menunjukkan kartun Charlie Hebdo tentang Nabi Muhammad, yang dalam sejarahnya memakan korban jiwa para kartunis majalah tersebut. Seluruh Prancis bereaksi atas peristiwa ini, karena dianggap sebagai serangan terhadap freedom of speech.

Tradisi karikatur di Prancis yang terkenal sadis dan tidak jarang vulgar, sebetulnya sudah ada sejak berabad-abad lampau. Semakin populer dengan berkembangnya media cetak, Salah satu karikatur terkenal yang berasal dari era Revolusi Prancis adalah gestur seorang citizen yang (maaf) buang air besar di kertas statemen seorang Paus.😱😱

Sebelum revolusi Prancis, agama memiliki campur tangan yang cukup besar pada negara karena pengaruhnya pada Raja, menyebabkan jurang perbedaan diantara kaum elite dan rakyat biasa. Keserakahan, korupsi dan kesewenang-wenangan terjadi. Setelah kerajaan runtuh, runtuh pula segala ikatan yang berbau agama. Kepemilikan bangunan ibadah diambil alih negara. Doktrin agama yang dipaksakan dianggap mengganggu kebebasan. Selain itu penafsirannya dituduh menghambat ilmu pengetahuan.

Sejarah panjang itu terbawa hingga Prancis berkembang menjadi Republik. Dalam perjalanan kesana, para petingginya juga saling memenggal kepala satu sama lain- berikut orang-orang yang dianggap anti revolusi, lewat pengadilan di masa Pemerintahan Teror.

Guillotine (sumber : historycollection.com)

Penggal? Ya kenyataanya orang Prancis dulu juga akrab dengan penghilangan kepala dengan guillotine. Alasannya kalau pakai itu matinya cepet. 😑

Karikatur yang kasar dan vulgar tentang perilaku keluarga kerajaan kaum bangsawan sudah menjadi bagian dari sejarah “perlawanan”. Sebuah cara ekstrim untuk menurunkan derajat orang yang selama ini di agungkan. Setelah kerajaan bubar, target beralih ke otoritas selanjutnya mulai dari politikus hingga agamawan.

Sekularisme diterapkan sepenuhnya pada masa Republik ke tiga. Agama dipisahkan dari pemerintahan dan semakin lama terjadi pembatasan terhadap simbol-simbol yang dianggap mewakili agama. Sekularisme seolah menjadi sebuah keyakinan baru yang diterapkan dengan ketat.

Sebagai catatan, sekularisme di Prancis berbeda dengan di Amerika. Begitu pula tradisi karikaturnya. Karikaturis Amerika masih “sangat hati-hati” dalam berkarya, tabu untuk menyinggung ras, agama, dan gender. Bahkan saat membahas Charlie Hebdo media sekelas CNN menghindari menampilkan gambar-gambar yang menjadi masalah.

Sementara karikaturis Prancis tidak merasa dibatasi oleh hal-hal di atas. Tokoh agama manapun jadi bulan-bulanan.

Ironisnya, walaupun banyak menyindir perilaku umat beragama, jarang ada karikatur negatif tentang perilaku sekuler di negara itu sendiri.😓 Adakah?

Jadi karikatur di Prancis sebetulnya menjadi media yang mewakili sudut pandang budaya di sebuah negara sekuler dan freedom of speech-nya, bagaimanapun sadis, vulgar, dan menghina-dina kontennya. Betul. Beberapa gambar sangat menyinggung warga negara yang benar-benar menjalankan agama. Namun untuk tinggal di Prancis, mereka yang keyakinannya disindir itu memang harus bermental baja atau selow.

Prancis sendiri termasuk negara yang dalam sejarahnya menerima gelombang imigran, baik dari koloninya sendiri maupun dari negara lain yang mengalami konflik. Masalah dalam hal integrasi karena benturan kultur dan kepercayaan kerap menimbulkan gesekan. Tidak semua bisa melebur sepenuhnya menjadi “Prancis”. Generasi muda imigran seringkali hidup diantara dua kutub budaya. Ketika pemerintah setempat merasa siap, warganya malah tidak. Diperparah dengan perilaku oknum yang seolah mewakili ras tertentu. Itu seringkali menjadi topik empuk majalah-majalah satir.

Charlie Hebdo sendiri sudah kenyang menerima protes atas karikatur mereka, mulai dari orang-orang politik yang mereka serang, sampai dari pemuka agama organisasi Katolik dan lain-lain.

Kalau melihat karikatur mereka yang diulas di media-media online, orang mungkin berpikir, kenapa musti marah terhadap sebuah karikatur? Rasanya biasa-biasa saja.

Itu karena yang dipilih media online masih jinak. Yang jauh lebih vulgar banyak! Namun saya sarankan, sebaiknya anda tidak mencari-cari karikatur Charlie Hebdo lain yang banyak beredar di dunia maya. Terutama jika anda tidak kuat.

Kenapa? Karena p0rnografi bukan hal tabu di Prancis. Cara para karikaturis menggambarkan sindiran mereka nggak mengenal batas. Tidak jarang tokoh-tokoh yang mereka gambarkan itu ditelanjangi habis-habisan, baik laki-laki maupun perempuan. Terkadang berpose menggelikan, melakukan pelecehan, sampai perbuatan yang tidak masuk akal.😱 Semakin gambarnya menuai kontroversi dan kemarahan, semakin baik, karena artinya mendapat perhatian pembaca.

Mungkin para kartunis Charlie Hebdo merasa aman, karena terlindungi oleh undang-undang di negara mereka. Tapi dunia sudah semakin terhubung dengan amat mudah. Kegagalan integrasi secara utuh dan sederet masalah lain masih membayangi.

Undang-undang sekalipun tidak bisa melindungimu bila pesan yang selalu kau kirimkan berulang-ulang adalah panggilan untuk mendapatkan kebencian. Dan akhirnya pesan itu sampai di tangan mereka yang ingin memanfaatkannya tanpa peduli aturan. Bayaran yang didapat pun terjadi saat 12 orang Charlie Hebdo di bantai.

Sangat sulit diterima bagi orang Prancis, dengan kebebasan berekspresinya, mengapa orang harus dihukum mati karena karikatur itu. Idealnya, orang mau protes harus melewati jalan yang legit dan beradab. Sama seperti kita di Indonesia nggak bisa ngerti kenapa orang bebas-bebas saja menghina orang lain sampai seperti itu. Sementara kita disenggol sedikit bisa panas bahkan tiba-tiba menghilang.

Butuh keluar dari cangkang hangat di negara masing-masing, saling mengenal warga dunia lain dan mempelajari sejarah budaya mereka, baru bisa memahami kenapa-kenapanya. Tapi alih-alih fokus mengutuk oknum pelakunya, malah jadi blunder dengan ucapan Presiden Macron yang menyinggung umat muslim sedunia.

Jauh hari, saya tahu bagaimana sepak terjang Macron yang berusaha membentuk muslim Prancis sebagai, “muslimnya Prancis”- yang patuh pada hukum Prancis, untuk antisipasi radikalisme. Suatu hal aneh sebetulnya di sebuah negara sekuler yang memisahkan agama dengan pemerintahan.

Sebagai politikus, itu langkah jelas Macron, mencegah serangan dari politikus ekstrim saingannya, yang lebih anti Islam. Usaha keras untuk memaksakan proses integrasi.

….serta pengalihan isu tipis-tipislah atas penanganan COVID-19 di Prancis. 😅

Dengan ia mengatakan agama Islam berkrisis, keyakinan agama dianggap sebagai kambing hitam, lebih daripada karakter dan kultur budaya yang dibawa oleh penganut-penganutnya (serta mungkin krisis atas laïcité itu sendiri dalam hadapi kondisi warga yang semakin multiras).

Ibaratnya, karena sekian orang yang gila, 1,5 milyar penganut yang nggak ngapa-ngapain ikut kena colek.😅

Akibatnya, di banyak negara muslim muncul perintah boikot produk Prancis. Pertanyaannya, apakah itu bisa menyadarkan Prancis bahwa mereka hidup diantara banyak warga dunia lain, terutama yang masih memiliki keyakinan beragama?

Nggak yakin. Apalagi membaca komentar kebanyakan orang Prancis di media sosial. Ketemu satuu saja yang bilang “freedom of speech itu nggak berarti merendahkan keyakinan orang lain”, rasanya seperti nemu jarum di tumpukan jerami. Hahaha..yah, emang susah sih. Kalau nggak percaya, coba saja, deh, anda temukan.

Barangkali mereka yang kontra itu akan seperti seorang Henri Roussel, pendiri Charlie Hebdo, yang mengatakan para kartunis itu menerima apa yang mereka tuai, demikian tulisannya di majalah Nouvel Obs.

Prancis sebelum masa Charlie Hebdo, dalam kenangan saya sebagai muslim, walau dengan kekurangan sana-sini, masih baik. Mungkinkah semua sudah berubah karena perisitiwa berdarah itu….?

Saya menyesalkan kekerasan oknum yang melakukan protes dengan cara biadab. Sama sekali nggak mewakili ajaran agama.😑 Nggak pantas dilakukan oleh seorang manusia kepada manusia lain. Mereka masa bodoh pada impactnya bagi umat muslim di negara tersebut, bahkan dunia.

Namun melihat kartun super vulgar tentang berbagai tokoh saya juga selalu geleng-geleng kepala. Busyet, deh.😖 Apakah nggak ada cara lain, ya?

Kita memiliki banyak pilihan untuk hidup harmoni dengan sesama, saat di tengah-tengah kita ada banyak perbedaan. Mengapa ada orang-orang yang justru mengambil pilihan di luar itu?😓

Apakah ada hal baik yang bisa dituai dari kebencian dan kekerasan?

Secara pribadi, saya anggap semua itu fenomena menarik.🤔 Saat ada sisi ekstrim, niscaya ada penyeimbang dari ekstrim lain.

Prancis sebetulnya termasuk penganut ekstrim dari sekularisme dan freedom of speech, seperti yang kita sudah lihat contohnya. Tidak ada batas bagimu beropini. Istilahnya ada Tuhan menghalangi ditengah jalan pun tetap pengin ngomong.🙈

Kalau umumnya kasus adalah radikalis agama vs radikalis agama. Kasus karikatur di Paris menunjukkan bagaimana bila radikalis freedom of speech bentrok dengan radikalis agama. Ekstrim religius jumpa ekstrim sekuler.😳

Secara nasional, persiteruan kedua sisi itu akan jadi isu politik di pemilu Prancis mendatang. Di level internasional, ini merupakan isu sekularisme dan religius. Tidak hanya menarik kaum radikalis Islam saja, bahkan yang moderat pun akan ikut protes.

Sekali lagi, jangan berharap Prancis akan mengalah, karena sejarah sudah membuktikan bagaimana keras dan bebalnya Prancis memegang prinsip kebebasan berpendapat.😵🙄😂

Mirip-miriplah kelakuan tokoh-tokoh desa Galia di komik Asterix “…satu-satunya yang ditakuti hanya saat langit runtuh menimpa kita” (Gambar : Asterix)

12 orang Charlie Hebdo yang tewas terus dikenang, guru yang terbunuh mendapat gelar Legion of Honor dan Presiden Macron pun saklek “akan terus berjuang untuk kartun-kartun” Prancis..

Jangankan manusia atau Nabi. Ibaratnya Tuhan yang menghalangi saja diterabas, kok! 😅

Pertanyaannya kapan ya kita semua bisa belajar dari sejarah dan mereka yang hadir sebelum kita?

Menurutmu?

Gambar diambil dari pixabay.com

29 Comments

  • arip

    Ternyata di Prancis isu antara kubu konservatif vs liberal sama juga jadi bahan jualan pemilu. Saya juga menyayangkan tindakan reaksioner yg sampai harus ada korban nyawa itu. Meski Muslim, saya sebenarnya biasa2 aja soal guyon (yg mungkin bisa disebut mengarah penghinaan) ke Islam atau dalam kasus ini Muhamad. Soalnya saya pun sering ketawa kalau nemu meme atau parodi soal Yesus atau Buddha, dan banyak. Toh kalau dipikir2 ketokohan Yesus atau Buddha ya tetap sama.

    “Freedom of speech itu ga berarti merendahkan keyakinan orang lain” kayaknya emang etika Asia banget.

    • J'étais Parisienne

      Eng bukan kubu konservatif sih, mas Arip, nggak ada yang murni konservatif udah bercampur dengan liberal, paling republikan, sosialis dan anti imigran.

      Ya toleransi setiap orang beda-beda, bagi muslim menggambar wajah Nabi saja sudah dilarang. Haha. Iya. Kalau cuma meme biasa mungkin jinak, kalau karikaturnya model yang vulgar sih parah, ya..

      Bukan monopoli Asia saja, ya. Di Amerika meski punya first amandement, karikaturisnya masih mikir2 kalau mau nyinggung masalah ras, gender, dan keyakinan.

      • Dodo Nugraha

        Setuju sekali kalau freedom of speech tidak berarti merendahkan keyakinan orang lain yaa. Setelah membaca tulisan mbak, dan berita2 di media tentang Perancis, sekulerisme di sana bener2 ekstrem yaa. Ngeri kalo dibayangin hahaha.

        Btw, aku sangat menyayangkan sikap Pak Macron, seolah mendukung apa yg dilakukan majalah itu, walau telah diprotes banyak negara Muslim di dunia. Seharusnya Pak Macron tahu, bahwa dalam keyakinan Islam, menggambar nabi tidaklah dibenarkan. Apalgi ini gambar, katanya untuk memperolok (aku blm lihat gambarnya, ngeri 😅)

        • J'étais Parisienne

          Buat kita kelihatannya spt itu, mas Dodo, tapi disana sudah biasa.😅 Di satu sisi orang jadi berani kritik yg gak bener di sisi lain menghina pun terpaksa ditolerir.

          Oh dia tahu pasti. Kan dia bnyk mempelajari isu agama Islam di levelnya sbg presiden. Cuma yg dia lawan bila itu dilarang, ya prinsip dasar negaranya sendiri. Bisa jadi sasaran empuk partai lain dan digoreng. Pilihannya saat ini bisa dibilang gak ada.🙄

          Paling2… nggak perlu makin memprovokasi saja ..

  • Ai

    Terima kasih untuk tulisannya Mbak. 🙏

    Ternyata fenomenanya sudah melalui sejarah yang sangat panjang 😂 Kebebasan bersuara jika disampaikan dengan santun akan tercipta harmoni yang indah. Namun, jika sebaliknya yg ada gaduh 😂

  • Rahma Balci

    nunggu juga ulasan nya,wah hari ini makin-makin saya liat di FB,nyonya macron kena imbas juga,berujung pada body shaming..

    ehmkira kira tindakan boycot2 gitu akan kerasa dampaknya ga sama ekonomi prancis apalagi kondisi pandemi gini

      • Agus warteg

        Tulisan yang bagus. Ternyata masih mending Amerika Serikat dibandingkan Prancis ya soal karikatur karena di Amerika orang masih mikir kalo mau buat karikatur soal agama, ras, dan gender, takut jadi kontroversi kali ya, sedangkan di Prancis sudah bebas tanpa batas bahkan dilindungi undang-undang.

        Menurutku sebebas apapun sebuah kebebasan harus ada batasnya karena ini menyangkut orang lain. Contohnya ya kartun Nabi Muhammad Saw yang jelas menyinggung umat muslim. Padahal dulu Charlie Hebdo pernah diserang bahkan menewaskan banyak karikatur nya tapi tetap saja diteruskan ya.

        Dan sekarang terjadi lagi serangan di Prancis oleh orang orang yang marah dengan perkataan presiden Macron.

        • J'étais Parisienne

          Terima kasih.

          Ya mas Agus, saya sendiri melihat fakta itu menarik. Mungkin karena Amerika pada dasarnya juga sdh plural.

          Suprisingly begitu mas Agus. Karikatur2 presiden US masih gak ada apa2nya..

          Ya memang CH nggak kapok. Mereka pengin jadi berita terus akhirnya. Terfasilitasi oleh UU disana juga. Kantornya saja entah dimana dirahasiakan.

          Ohya itu sebetulnya malah makin memperparah memang..melihat hasilnya….🙄

  • Dinilint

    Hai, ini pertama kalinya aku baca blog kamu dan aku suka dengan gaya kamu bercerita.
    Well, aku sekarang udah di masa kalau ada isu cukup lihat dan amati, nggak ikut-ikutan kontra, nggak ikut-ikutan pro. Biasanya isu-isu yang meledak, apalagi tiba-tiba udah dibuat sedemikian rupa untuk menggiring opini publik. Aku sendiri suka dengan penjabaranmu tentang masalah karikatur ini. Ternyata ujung pangkalnya juga di masalah politik ya. Ah politik, seru untuk diamati, macam lagi nonton serial bersambung.

    Btw, aku setuju dengan freedom of speech dan penghargaan terhadap keberagaman. Urusan agama, urusan pribadi. Kalau orang lain nggak sependapat, ya nggak usah merasa tersinggung, mestinya. Pendapat aku aja sih ini.

    • J'étais Parisienne

      Hi mbak Dini, terima kasih kunjungan dan apresiasinya. Semoga manfaat ya.
      Benar, ujung-ujungnya selalu politik. Itu yang pertama kali harus dipertimbangkan benar oleh para petingginya dalam pengambilan keputusan. Apalagi pemilu bakal digelar enam bulan lagi.

      Ya, mbak, idealnya demikian, sayangnya nggak semua bisa menerima…

      • A Dreamer

        Mba Phebiee as always tulisannya selalu bagus😆😆

        Ngomongin Sekularisme sebenarnya aku nggak terlalu tahu bahwa seekstrem ini prakteknya di Prancis, aku pikir sadisan Amerika, soalnya aku sering dengan netizen Amerika nulis gini “This is America you can be whoever you want” dan banyak kalimat serupa yang mendedikasikan kalau di Amerika boleh ngomong apa aja, haha.

        Tokoh sekularisme yang aku pelajari pun cuman dari islam pada masa dinasti usmani, di mana si Mustafa Kemal Attarturk menerapkan ini di negeri Konstatinopel, waaah kompleks sekali berarti ya. Pantesan si Macron serba salah. Kemudian ngomongin politik lagi empuk-empuknya emang kalau si Macron salah ambil tindakan. Ibaratnya landasan negaranya dipertaruhkan disini, gitu kan mba? Seperti yang mba bilang diatas menemukan orang prancis yang bilang kontra akan kasus ini seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.

        • J'étais Parisienne

          Trmksh mba Sovia apresiasi dan kunjungannya..🙋‍♀️

          Ohya kalau mau lihat org Amerika ketemu blak2annya org Prancis nonton deh Emily in Paris (kpn2 bahas juga deh) 😅 untuk bicara to the point org Amerika blm ada apa-apanya.

          Landasan negara dan pemilu 2022 dipertaruhkan. Padahal Macron itu masih jauh lebih moderatlah dibanding Le Pen. Kalau sampai yg terakhir tahun depan jadi Presiden, bisa pusing muslim di Paris. 🙄🙄 makanya….apa muslim sedunia tahu juga?

  • CREAMENO

    Hi mba Phebie,

    Tulisan yang menarik, dan always salut bacanya. Sebab mba Phebie selalu bisa menuangkan pikiran mba mengenai isu-isu hangat di luaran 😆

    By the way, karena warning mba Phebie di atas untuk nggak searching soal Charlie Hebdo, saya justru penasaran dan ended up googling *anaknya nggak bisa dilarang* terus akhirnya menyesal. Mules sendiri bacanya 😩

    Persoalan agama ini memang sensitif yah mba, saya pribadi selama ini lebih sering mengamati saja, nggak bisa berkomentar banyak. Tapi from my point of view, memang sebaiknya sesatir apapun sebuah karya (tulisan atau karikatur etc), nggak perlu bawa-bawa agama. Tapi nggak bisa dipungkiri, Perancis seperti yang mba bilang sudah famous dari dulu perihal freedom of speech yang kadang kelewat batas. Mungkin karena mereka nggak punya batasan that’s why maju terus tanpa lihat konsekuensi ke depan 😐

    Eniho, terima kasih untuk ilmu barunya mba, jadi belajar lebih banyak via blog mba Phebie 😍💕

    • J'étais Parisienne

      Hi, mbak Eno. Terima kasih senang bila berguna.

      Ah, iya memang bisa bikin mules kalau belum siyap, mbak. Apalagi kalau kitanya lagi makan. XD
      Point of view mbak mewakili kita-kita yang hidup di Indonesia dengan kebijakan tidak singgung SARA-nya. Kita sudah tahulah akibatnya kalau bawa-bawa itu disini. Di Prancis itu berbenturan dengan prinsip laïcité mereka, ditambah dari awal dirikan negara juga sudah kritis banget sama agama. Cuma makin kesini porsinya makin nggak imbang ke agama tertentu.

      Bakalan maju terus pasti. Enggak kapok, kecuali ada revolusi lagi. 🙁

    • fanny_dcatqueen

      Kalo udh menyangkut agama, reaksi kebanyakan orang selalu keras yaaa :D. Aku maklum kok, itu karena mereka mencintai agamanya. Tapi buatku pribadi, agak kelewatan juga kalo sampe membunuh seperti itu. Aku slalu pegang ajaran agama, untuk tidak membalas dengan kekerasan saat kita sedang diganggu.

      Urusan agama, buatku itu hanya antara aku dan Tuhan . Mau seperti apapun perlakuan orang lain menghina agamaku, itu urusan dia, dosanya dia. Tugasku tetep percaya dengan ajaran Tuhan dan ngelakuin apapun perintahnya , dan seingetku ga ada yg menyuruh untuk membantai orang2 yg menghina agamaNya :).

      Prancis memang seperti itu, dari dulu pun :D. Ya sudah, dibawa senyum aja. Ga usah ditanggapin, toh mereka ngelakuin itu utk semua agama. Kalo urusan boikot2 an, hmmm…. Rasanya ga terlalu ngaruh juga kalo yg diboikot cuma barang2 kecil yg ga terlalu ngaruh ke perekonomian mereka :D. Aku bukan yg termasuk boikot produk2 Prancis, Krn jujur banyak di antara produknya aku pakai, dan aku suka :D. Terlepas 1 oknum melakukan pelecehan, ya sudahlaaah, urusan dia Ama Tuhan aja itu sih :D.

  • grubik

    Reaksi Presiden Perancis jelas tidak bijaksana dilihat dari impact yang ditimbulkan, dan harusnya dia tahu benar dengan reaksi yang akan muncul di dunia muslim. Gak tahu kalo dia lebih mementingkan politik dalam negerinya…

    Dari sisi orang-orang yang protes, ya umumnya informasi yang mereka bawa ya sesederhana bahwa Presiden Perancis melecehkan agamanya, soal sejarah panjang dan bagaimana kondisi kehidupan sosial di Perancis ya.., sangat sulit untuk bisa dicerna…
    Pemimpin-pemimpin negara Islam pun, akan lebih aman bila menuruti keinginan sebagian besar warganya. Isu agama sangat sensitif, jika salah langkah ya popularitas politik di dalam negeri akan jatuh…
    Ditambah, selalu ada pihak yang suka menjaga suasana tetap panas… 😀

    • J'étais Parisienne

      Kemungkinan besar yang terakhir mas Grubik.😅

      Betul, orang Islam secara umum melihatnya lebih sederhana. Pemimpin seperti Erdogan juga punya kepentingan pada tindakan Macron.

      Iya suka manas2i supaya jadi news teroos…😅

  • PIPIT

    Halo Kak Phebie!
    Pertama kali main ke sini dan disuguhkan tulisan yang menarik, karena seperti yang kita tahu, isu ini sedang ramai di negara kita.

    Satu point yang aku dapat dan membenarkan pernyataan-pernyataan yang sudah pernah aku dengan sebelumnya. Kita tidak hidup di dunia yang ideal.

    Ketika ini bergejolak, aku belajar bahwa di belahan negara lain ada budaya dan ideologi yang seperti ini. Belum lagi masalah seperti ini dibarengi dengan peran pemerintah, yang to be honest, perlu lawan yang cukup besar untuk melakukan “banding” atas isu ini.

    Kemarin sempat baca di Quora terkait boikot “Made in France”, kalau di tracking secara mendalam, ujung-ujungnya kita tetap rugi dengan aksi pemboikotan ini (kita = negara yang melakukan pemboikotan). Kalau misalnya aksi ini dikecam juga oleh negara-negara berpower, tentu akan beda cerita, dan bisa jadi fatal untuk Prancis.

    Once again, thank you for writing this post. j’adore!

    • J'étais Parisienne

      Salut, mbak Pipit.

      Makasih kunjungannya. Setuju banget dengan ucapan mbak kita tidaj hidup di dunia yang ideal.

      Maka dari itu disini saya sebetulnya ingin memberi gambaran. Begini lho asal muasalnya. Jadi tidak mendadak terjadi begitu saja.

      Boikot kalau kompak dan konsisten semua negara Islam baru lumayan ngaruh. Sekarang saja saya baca bentuk boikotnya sdh aneh-aneh 😂

      Merciii 😊😊

  • Frisca Sutanto

    thanks for sharing kak! Aku cuma denger berita seliweran-seliweran aja soal karikatur nabi tersebut.. Terus isu pembantaian 12 karikatur itu pun cuma selewatan aja aku tau. Pas baca ini, aku jadi kepo-kepo lebih dan liat gambar karikaturnya. Ommo. Karikaturnya parah benerr. Ngina presiden, ngina tokoh agama, terus skrg gambar nabi weleh-weleh

    dulu jaman aku kecil, aku ga ngerti kenapa sih ga boleh bikin tulisan atau gambar yang nyinggung SARA…Semacam berpikir kalau bebas dong mau ngomong atau gambar apaann…terus ketika dewasa, aku pun sadar kenapa itu dilarang hahaha…Dan ternyata di Pracis ternyata se’bebas’ itu dalam gambar dan berpendapat ==”
    makasih sudah memberikan wawasan akan budaya negara lain…

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: