opini

Pray for Paris (Unity)

Entah ada apa dengan Paris. Teror lagi. Sangat mengerikan. Kejadian penembakannya di wilayah arrondisement 10 dan 11. Peledakannya di stade de France. Korban yang tewas sudah 140 an.

Paris, beberapa tahun lampau, saat saya berjalan pulang di suasana malam di stasiun Metro, bersama kumpulan orang-orang pulang kerja, dan sesekali keluar masuk “pengamen” yang mengantongi ijin (!), memang seperti merasakan aura dan suasana seperti benang yang tegang tertarik, hampir putus.

Di tempat saya tinggal dahulu ada seorang femme de menage imigran orang dari wilayah Arab-Mesir. Orangnya rajin sekali, bersih-bersih nya kilat. Suka memberi nasehat bagaimana tips menyikat panci yg paten. Dan bila dia pulang kampung, kadang kita di beri oleh-oleh kue khas sana sepiring penuh. Tapi memang rasanya manis banget. : D

Sudah bertahun-tahun tampaknya si femme de menage kerja di tempat itu. Menyaksikan penghuni demi penghuni berganti. Saat akan pulang ke Indonesia, saya memberikan kenang-kenangan tas etnik dari Sumatra. Dia kaget dan langsung dipakai. Katanya, terharu :

“Selama kerja, belum pernah ada orang yang kasih saya hadiah.”

Saya terkejut. Ingat segala hal yang dia sudah lakukan untuk para penghuni. Juga kue-kue itu. Eh. Masa, sih?

Kemudian saya juga teringat ketika sering melewati daerah arrondisement 10 (yang ada kasus penembakan itu). Seringkali saya beli beberapa makanan halal di toko-toko musulman (muslim) milik orang2 keturunan imigran. Sering ditanya-tanya, apakah saya muslim. Iya, kata saya. Darimana? Dari Indonesia. Lalu pria itu sumringah sekali “Aaa, ma soeur, ma soeur..my sister..my sister..” Serunya keras-keras.

Dan setiap kali saya lewat atau mampir pasti mereka menyapa, “Assalamualaikum, ma soeur.” Atau teriak-teriak “ma soeur..ma soeur”….dengan nada sama seperti pedagang2 yang kalau ditanah abang bunyinya, “mampir non, mampir”. Buset, deh…

Tukang kabel yang biasa membetulkan internet keturunan kesekian imigran ..profesional dan hasil kerjanya yang apik tidak sedikitpun menggambarkan apa yang dilabelkan oleh kebanyakan orang disana tentang etnis tertentu. Santun.

Bila ingin potong rambut sedikit murah dulu pergi ke daerah pasar dan lagi-lagi yang memotong juga keturunan imigran. Ketika basa-basi dia kaget ketika tahu saya muslim dan menantang saya membaca sebuah surat Al Fatihah sambil diiringi bunyi cekrik-cekrik dan guguran potongan rambut. Untung lulus, tapi tidak ber..”ma soeur..ma soeur”-an. -_-

Teman sekelas saya, cewe dari Tunisia puasanya hebat, walau buka pas maghribnya  jam 10 malam! Kontradiksi, hobinya berjemur matahari di attic.>_<. Temperamen tapi soal kebiasaan, sangat membaur.

Di daerah, lebih sedikit yang saya temukan para imigran. Baru bertemu mereka di mesjid bila ada suasana hari raya seperti Idul Fitri. Kehidupan di daerah di Perancis, lebih loose, tidak tegang. Beda dengan Paris.

Di arrondisement 11,  adalah tempat yang sering saya lewati dahulu dengan Metro. Hafal sekali setiap  naik metro ini pasti pengamennya itu-itu saja. Dan gelandangan yang ada di dalam stasiun juga jarang berganti. Yang kasihan, ketika musim dingin mereka seringkali terlihat menekuk dengan sebotol minuman keras. Tertidur di pojokan. Berkumpul-kumpul dengan sesama saat malam. Kalau sudah begitu gelandangan di Indonesia jauh lebih beruntung. Tidak ada ancaman kematian saat malam dingin begitu menggigit.

Di wilayah yang dulunya pernah dikenal sebagai “distrik merah” dan sudah dipugar menjadi apartemen biasa ternyata juga masih meninggalkan aura muram “hantu-hantu” penghuni jaman dahulu. Jaman-jaman bourgeois, revolusi. Banyak sekali anak-anak muda yang dilepas mandiri pada waktunya, dan akhirnya serabutan mencari jati diri sendiri sambil bertahan hidup. Mungkin puluhan ribu.  Saya tidak membayangkan mereka yang akhirnya tidak berhasil mendapatkan apa-apa. Hanya karena hal yang ada di luar kontrol mereka. Dan hidup diantara dua identitas.

Kalau banyak yang bertanya-tanya. Lagi-lagi kenapa Paris? Ditengah banyaknya teori tentang kesalahan kebijakan luar negeri, dsb, jauh di dasar hati saya dulu, mengakui pernah merasakan adanya “benang yang tegang” itu. Sebuah ancaman sebelum ancaman dalam artian sebenarnya. Ditarik oleh sesuatu yang bernama individualisme.

Penyakit kota besar? Mungkin. Walaupun kota itu menyandang reputasi indah. Kita  kenyang sudah bila mendengar cerita-cerita indah dari mereka yang bulan madu disana. But all that glitter isn’t gold. Turis itu seperti sedang naik kapal Titanic. Yang lagi pesta di atas belum tentu bisa melihat getir disisi bawah.  Apakah musti tenggelam?

Adanya teror yang terjadi mungkin akan membuktikan atau membangun sesuatu. Membuktikan sebuah noda yang terbangun lama, atau membangun sebuah persatuan yang benar-benar dibutuhkan kota itu. Persatuan juga kepedulian. Atau akan melahirkan sikap keras dari sayap kanan. Ekstrimisme akan memunculkan ekstrimisme yang lain. Menjadi lingkaran yang nggak putus-putus.

Saya menatap satu persatu tulisan “mark as save” di sebuah media sosial. Berharap semua orang yang saya kenal ada disana. Sementara itu sekaligus juga membaca banyak umpatan, tundingan, hujatan, kemarahan, dan kesedihan. Mirisnya pada etnis dan agama tertentu. Ketika mengubah profil saya menjadi berwarna tri colors, disana-sini ternyata tercetus juga komentar nyinyir membandingkan kondisi teror di Barat itu dengan kondisi menyedihkan di Timur Tengah. Dimana kondisi manusia ada di titik dimana merancangkan masa depan pun sudah tidak dapat, besok hidup saja sudah syukur. Tidak usah lebay dan euphoria soal Paris, Paris. Makin miris.

Rasa duka itu sama saja rasanya dalam jiwa semua manusia. Let them grief. Let them be. Dan bertransformasi. Apapun bentuknya.

Karena memang sudah alaminya manusia seperti itu. Seperti kata penyair Paul Valéry. le vent se lève il faut tenter de vivre.

Angin mulai berhembus, kita harus tetap berusaha hidup.

image : flickr.com

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: