cerita

Prolog : Memori Berkelana

Walaupun bukan tukang jalan-jalan, alhamdulillah, nasib sering membawa saya “jalan-jalan”, berpindah-pindah, tinggal di beberapa tempat, meski tidak dalam waktu lama. Itu juga tidak sering dan tidak banyak.

Apakah seseorang yang pernah berjalan-jalan jauh dan tinggal di banyak tempat memiliki kelebihan dibanding lainnya?

Jujur, tidak juga. Karena untuk sebuah pengalaman, kita harus mengorbankan pengalaman yang lain.

Sebagai contoh, kesempatan untuk belajar berkebun akan hilang dengan adanya keharusan berkelana. Jadi semua orang pasti punya sesuatu yang kita tidak punyai.

Tentu saja para pengelana dunia bagi saya adalah orang-orang menarik. Bukan karena kekayaan atau keberuntungan, tetapi karena pengalaman lintas budaya dan sarat akan kisah-kisah. Pengalaman saya bertemu dengan pengelana berusia tua dan muda sangatlah seru. Semakin jauh dan banyak mereka berjalan-jalan semakin rendah hati. Semakin besar nilai toleransi. Tidak jarang saya melihat para petualang dunia itu berpenampilan sangat sederhana.

Pengalaman saya masih “kelas teri”, dibanding mereka. Namun apa yang bisa saya tarik garis dari pertemuan demi pertemuan adalah : keep sharing, be positive, and be humble. Mungkin saya menyebutnya sebagai one of the art of being human.

Berbekal pengalaman-pengalaman dan inspirasi dari orang-orang yang pernah di temui, saya ingin menuliskan kembali memori-memori menarik tentang banyak hal. Dengan niat berbagi, dan hanya berbagi.

Tidak banyak hasil gambar pribadi, karena beberapa terjadi jauh sebelum masa serba “kamera HP” dan “selfie-selfi-an”.

Semoga bisa terwujud secara perlahan-lahan.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: