cerita,  opini

Respek Kepada Yang Lebih Tua di Barat vs Timur

Baru-baru ini saya membaca protes seorang anak muda tentang budaya “menghormati yang lebih tua” di dunia Timur. Menurutnya, yang namanya respek itu harus bersifat timbal balik, yang tua akan dihormati bila dia juga menghormati yang muda.

Lagi ribut juga kasus seleb yang diprotes oleh anaknya di media sosial.

Saya cukup hati-hati dalam menilai semua ini, karena saya kan nggak tahu bagaimana kasusnya. Siapa sebetulnya yang lebih dulu tidak menghormati? Pertanyaannya kan itu dulu. Nggak selalu hitam putih.

Saya cerita saja pengalaman  dulu saat masih di Paris. Saya dulu diajar oleh seorang dosen/professeur yang menurut saya cukup berpengalaman dan dedikatif. Orangnya sebetulnya juga good looking, kayak George Clooney. Tapi di Paris wajah seperti itu sih udah biasa banget. Hahaha…

Skinnygirl Cocktails at the Critics' Choice Movie Awards 2013

Kayak pak dosen (sumber : chatelaine.com)

Dia biasa pagi-pagi datang (on time) sambil membawa segepok bahan pengajaran. Biasanya berisi berbagai materi yang dia edit sendiri di rumah. Oya, dia adalah seorang jurnalis yang cukup punya nama, jadi banyak sekali footage berguna yang diperlihatkan supaya kami tidak bosan mendengar teori.

Menurut saya kelasnya cukup menarik. Namun entah kenapa selalu saja di belakang dan samping ada teman-teman bule yang ngobrol sendiri. Biasanya orang yang itu-itu saja. Yang paling anteng adalah saya dan kawan-kawan sesama orang Timur (ada yang dari Cina, Filipina, dsb).

Terus terang saya kasian juga sama si professeur itu. Dia memang pernah sedikit mengingatkan mereka tapi itu suka berulang lagi. Bahkan pernah mereka berdebat. Namun karena dia orang lapangan, biasanya si professeur tidak ambil pusing. Suka-suka kalian, kalian sudah dewasa.

Saat kuliah terakhir, semua murid bule melenggang pergi. Saya dan sesama kawan-kawan Asia, mengucapkan terima kasih kepada si professeur. Dia kelihatan terharu dan respek.  Kawan cowok saya, Li,  seorang murid cemerlang asal Cina bilang, kelasnya menarik, monsieur.  Si professeur menatap kami dengan heran sambil menggeleng-gelengkan kepalanya,

“Andai teman-teman kalian yang lain juga lebih serius, ya…”

“Saya sendiri heran kenapa mereka berperilaku demikian, prof.”

Mungkin ini yang disebut perbedaan budaya. Di Timur yang namanya orang tua, apalagi guru dihormati betul. Sampai kadang ke level ekstrim.

Di Barat dan Prancis sini, yang namanya guru itu istilahnya…. sejajar dengan murid. Bagusnya murid jadi tidak takut untuk mengemukakan pendapat, nggak bagusnya kalau murid jadi kurang ajar.

Kami tidak pernah bertemu dengan si professeur yang rajin itu lagi. Memang sudah pekerjaannya, sih. But I really think he deserved better.

Saya juga ingat di kelas yang lain, ada seorang dosen asal Inggris yang mengajar sebuah mata kuliah dengan bahasa Prancis. Aksen bahasa Prancisnya terdengar lucu dan sulit diikuti. Kalau debat dengan murid bule yang berani, dia seperti ketakutan begitu. Padahal muridnya cuma ngomong to the point. Ini beda budaya juga walaupun termasuk dekat antara orang Inggris dan orang Prancis.

Nggak semua murid orang Prancis begitu, ya.  Banyak yang sikapnya dewasa juga, tergantung kelasnya dan usia juga.

Saya ingat salah seorang kawan yang tinggal di sebuah daerah Nordik (yang terkenal karena reputasi pendidikannya) hanya menanggapi biasa soal saya memuji pendidikan dasar disana. Dia cuma menjawab pendek,

” Iya, tapi banyak yang jadi kurang ajar juga.”

Dari sini pertanyaan saya timbul,  bila menghormati itu sifatnya harus mutual  apa yang menentukan  apakah seseorang layak dihormati atau tidak? Parameternya apa? Apakah hanya emosi yang dirasakan….

Dan siapa yang harus duluan menghormati….seperti mana yang duluan, telur atau ayam ya hahaha…

Seorang peranakan Cina yang saya kenal sebut saja namanya Ron, dia sudah lama tinggal di US dan beradaptasi dengan budayanya, namun hebatnya di bagian lain dia juga masih sangat memegang filosofi dan adat ketimuran.

Dia bilang kalau kita baik sama orang yang lebih tua dia akan senang membagi ilmunya tanpa ada yang “ditahan”. Saat dia bantu dan bersikap baik pada orang yang lebih sepuh, besoknya dia dapat banyak rejeki dan kerjaan lancar. Doa mereka makbul, katanya.

Aneh tapi nyata. Di bagian yang sifatnya spirituil ini memang orang Timur paling jago.

Tentu saja nggak benar, kalau ada orang yang berlindung di balik senioritasnya menggencet atau menekan yang muda. Kasus paling umum di dunia Timur. Sayangnya jaman sekarang anak muda juga sudah pintar dan medsos sudah jadi tempat mencari sekutu yang paling handal.

Salah seorang kawan cewek Prancis sebutlah namanya Juliette, dia bilang kalau di Prancis (Barat umumnya) karena banyak pendidikan yang  sudah dipegang oleh negara, peran orang tua jadi semakin kecil. Makanya saat anaknya sudah gede dan sudah punya kemauan sendiri orang tua terkesan melepas dan terserah dia mau jadi apa. Mustahil ditentang.  Sudah nggak bisa mikirin juga. Paling kalau anaknya sudah hancur lebur lalu minta bantuan, baru dibantu. Kalau di Asia bagusnya anak masih dipikirin dan orang tua nggak mau lepas tanggung jawab.

Eh, ini anak Prancis jurusan studi Asia yang kasih opini, lho ya. Jangan serang saya hahaha..

Dari semua cerita di atas, bisa diambil kesimpulan, walaupun di Barat yang bebas dan blak-blakan sekalipun, para professeur dan orang tua itu lebih senang bila dihargai dan diperlakukan dengan hormat oleh anak-anak muda. Apalagi bila perkataan mereka didengarkan.

Jadi kalau mau ambil yang baik dari Barat dan Timur, semua yang proporsional saja. Sebagai anak muda kita menghormati orang tua sesuai porsinya, namun kalau salah ya nggak usah di turutin, tapi tetaplah bersikap baik. Kasih pendapat juga yang santun nggak kayak preman yang merasa kecolek lawan.

Begitu juga orang tua, sudah bukan jamannya lagi membanggakan saya lebih tua darimu makanya kamu harus nurut. Saklek. Kasian amat, ya, anak mudanya jadi nggak dilatih untuk berpikir. Nanti kalau ada kondisi dimana dia harus mikir, malah gelagapan karena biasanya disuruh-suruh.

Paling baik kita beri saja penjelasan atau ajukan saja pertanyaan-pertanyaan yang membuat mereka mengerti kenapa harus begini atau begitu. Bukan hal yang gampang, apalagi kalau sudah terpola cara lama di kepala orang tua.

Bersikap hormat itu nggak ada ruginya, kepada siapapun, walaupun mungkin menurut kita orang itu nggak pantas mendapatkannya.

Karena itu adalah cara kita menunjukkan bahwa kita adalah orang yang terhormat. Please, with all due respect.

Gambar : needpix.com

 

13 Comments

  • jessmite

    Ternyata murid udah dewasa pun nggak bisa nyimak dengan tenang. Nah, apalagi saya ngajar anak SD dan SMP tuh udah ga bisa lepasin tangan, terserah kalian mau ribut atau enggak. Karena murid-murid saya belum dewasa juga. Saya suka kasihan dengan anak-anak yang serius dan antusias mau belajar justru jadi terganggu dengan teman-teman yang ribut. Suara saya juga bisa abis kalau harus jelasin lebih keras volumenya.

    Dosennya kayak George Clooney…? Udah rajin, menarik pula materinya, akankah sibuk ngobrol jika saya jadi muridnya? Kemungkinan besar saya bakal anteng hehe. Karena ilmu itu berharga juga jadi jangan sia-siakan waktu yang diberikan oleh orang yang telah berkenan membagi ilmunya. Kayaknya murid tuh emang sekali-kali perlu ngerasain rasanya jadi guru supaya mereka bisa dapat feelnya gimana kalau udah menjelaskan tapi murid malah sibuk ngobrol sama temannya 😚

    • Ex-Parisienne

      Iya padahal liatin aja udah seger hahaha..#salfok.

      Haha salah satu pengajar yg saya kenal taktiknya biar yg lain jadi hakim. Dia nanya ke satu ruangan. “Kyknya suara saya kalah sama si A deh. Bgmn mnrt kalian si A saja yg ngajar atau saya? Kl penginnya si A saya sih gpp pamit saja…” Jelas milih pengajar dong, aplg dah bayar.. si A lgs diam sampai akhir ga bunyi 🤣

  • Pipit Widya

    Halo, Mba. Terima kasih, ya, sudah berkunjung ke blog saya. Selama ini saya cuma silent reader di blognya Mba. Hehe.

    Wah, saya juga salfok sama pak dosen yang kayak George Clooney, hehe.

    Jaman sekarang memang banyak murid yang sudah berani ke guru, ya. Kalau saya baca2 berita di internet sih seperti itu. Bahkan orangtua juga ikut-ikutan kalau gurunya bertindak ke murid. Hal ini beda pas saya sekolah dulu. Guru galak dikit langsung mengkeret, hehe.

  • Astriatrianjani

    Saya baru tahu kalau budaya barat begitu. mungkin karena saya malah tinggal di desa, orangtua juga dihargai banget di sini, malah kadang ditakuti. Di indonesia aja kalau murid nggak manut kata guru, ada yang dipukul lho. Jadi agak kaget juga setelah tahu kalau di budaya barat guru dan murid itu sejajar. Kalau sekolah di sana mungkinkah saya bisa jadi murid kesayangan karena hormat banget he..he…😁

    • Ex-Parisienne

      Ya semua ada plus minusnya karena faktor budaya juga…Orang sana lebih otonom (mandiri) jadi ga takut bgmn pandangan kelompok masyarakat thdnya kyk org sini. Plusnya org Barat mereka jadi lebih kreatif dan berani eksplorasi. Sedikit yg tertarik jadi anak emas . Guru juga diajarkan menghargai perbedaan ekspresi karakter. Minusnya ya itu yg ekstrim jadi terkesan kyk kurang menghargai. Kalau mengajar pakai kekerasan sih menurut saya udah salah banget..itu guru yg putus asa ya 😅

      • Lia The Dreamer

        Halo kak, terima kasih udah mampir ke blog-ku ya 🤗

        Memang soal budaya sopan santun ini di Timur sangat amat dijunjung tinggi, tapi karena hal ini juga banyak orangtua jadi semena-mena. Kalau ada yang muda menyatakan pendapat, beberapa orangtua suka nggak terima karena merasa tidak sopan dll.

        Intinya segala sesuatu harus sesuai porsi ya 🙈
        Btw, baca tulisan seperti ini jadi menambah pengetahuanku akan dunia luar hihihi. Terima kasih kak!

        • Ex-Parisienne

          Hi mba Lia..Iya sangat disayangkan kalau ada org tua yang demikian..beda pendapat bukan berarti serangan secara pribadi kan ya? Asal cara penyampaiannya sopan. Sama-sama semoga manfaat …

  • Emaknya Benjamin br. Silaen

    Aku sih belum pernah sekolah/kuliah di luar, pernah dosen di tempat kuliahku marah besar dan teriak ngusir teman baik ku krn si temanku ini asyik ngobrol di belakang 😆 , klo di Barat sekali diperingatkan berikutnya murid tetap ngobrol dibiarin aja yaa selama ga teralul berisik?.

    • Ex-Parisienne

      Kalau pengalaman saya dulu gitu. Kelas besar model amphitheatre sampai kecil. Paling anteng itu saat di kelas kecil dan pengajarnya memang disegani alias tegas. Rata2 ngobrolnya ga ganggu banget sih. Karena mereka ga enak juga sama sebelahnya (diprotes murid lain).

  • Hastira

    ternyata menghormati itu memang perlu bukan sama orangtua juga ya, sam orang yang setara dengan kita juga sangat perlu menghormati secara wajar

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this:
Visit Us On TwitterVisit Us On Facebook