cerita,  sejarah

Revolusi Prancis di Tanah Jawa

Tanggal 14 Juli di Prancis adalah hari nasional atau fête nationale, yaitu Bastille Day, mirip-mirip hari kemerdekaan kitalah. Di tanggal itu penjara di kastil Bastille – salah satu simbol kesewenang-wenangan monarki- diserbu oleh rakyat. Awal dimulainya Revolusi Prancis.

Mungkin kita masih ingat pelajaran sejarah tentang Revolusi Prancis. Sebuah peristiwa dimana rakyat Prancis mengadakan perubahan besar-besaran, menggulingkan rajanya sendiri dan mendirikan pemerintahan baru dengan slogan liberté, égalité, fraternité. Sedikit yang tahu pengaruh Revolusi Prancis itu sangat signifikan bagi undang-undang di negara Indonesia, yaitu KUHP.

Beberapa waktu lalu saya menjanjikan cerita tentang ide Revolusi Prancis yang diterapkan di Jawa oleh salah satu Jendral Napoleon Bonaparte, kali ini sharing cerita itu saja, ya.

Jadi semenjak runtuhnya monarki absolut, pemerintahan baru Prancis awalnya memasuki masa-masa trial dan error yang menggelindingkan banyak kepala cukup banyak (di guillotine). Yang jelas terjadi perubahan dalam sistem pemerintahan lama (monarki) menjadi republik.

Semangat Revolusi Prancis membuat banyak negara sekitarnya yang masih memakai pemerintahan monarki sudah gerah dan gelisah saja. Sebutlah Inggris, Russia, Prussia, dsb. Rasanya leher semua orang sudah gatal-gatal saja bila ingat bagaimana kejamnya revolusi itu sudah memakan banyak korban jiwa.

Indonesia termasuk yang kecipratan ide Revolusi Prancis. Walaupun penafsirannya sangat berbeda karena lebih bersifat praktis ketimbang idealis. Itu terjadi dibawah pemerintahan Herman Willem Daendels.

daen

Lukisan Daendels oleh Raden Saleh. Sumber : wikipedia.com

Saya membatasi cerita seputar ide Revolusi Prancis dan sentralisasi kekuasaan yang dilakukan Daendels, ya. Karena cukup panjang bila ditambah strategi militernya.

Daendels adalah salah satu kolonel-jenderal Napoleon Bonaparte yang memerintah di Jawa 1808-1811. Belanda (Republik Batavia) dahulu itu masih masuk ke dalam kekaisaran Prancis. Daendels di pilih oleh Louis Napoleon Bonaparte (Raja Belanda saat itu) untuk menjadi Gubernur Jenderal di negara jajahan Hindia Belanda. Prancis sendiri sedang terlibat perang blokade dengan musuh bebuyutannya, Inggris. Jadi bisa dibilang mereka sudah gontok-gontokan satu sama lain di negaranya, sampai akhirnya terbawa-bawa ke koloni-koloni mereka. Salah satunya Hindia Belanda (Indonesia).

Daendels sendiri, setelah main kucing-kucingan dengan armada Inggris, berhasil mendarat di Jawa pada tahun 1808. Walaupun dia terkenal sebagai Jendral Belanda yang sangat setia pada semangat Revolusi Prancis, namun hal itu menjadi sangat kompleks karena harus digabungkan dengan semangat imperialisme alias penjajahan. Dua hal ini jelas sangat bertentangan. Lalu bagaimana dia menjalankannya?

Yang jelas, ketika tiba di Hindia Belanda, tepatnya Batavia, Daendels tidak kesana untuk ganti bendera saja. Ia jelas mengemban tugas yang cukup berat, yaitu memberantas korupsi yang menggerogoti Batavia sekaligus memperkuat militer di tanah Jawa dari kemungkinan invasi tentara Inggris. Namun Inggris, setelah tahu Daendels yang kepercayaan Napoleon tengah memerintah di Jawa, berpikir sekian puluh kali untuk nekad menyerang. Tentara Inggris juga nggak tahu medan di Jawa, bandingkan dengan tentara Belanda yang sudah sampai bau apek disana.

Patung Daendels (tengah) sumber : www.flickr.com by IISG

Ide revolusi Prancis yang masih dibawa ke ranah praktis oleh Daendels adalah reformasi di bidang, hukum, agama dan politik..

Daendels memberlakukan Codex Napoleon, sebuah reformasi hukum pertama di Jawa. Indonesia mewarisi KUHP (Wet Werboek van Strafrecht) dari sini. Sejarahnya hukum ini dibuat demi mencegah perlakuan lalim penguasa, yang dulu dilakukan oleh monarki lama di Prancis yang menekan hak azasi manusia. Dengan diberlakukannya kode ini, hukum adat dan pidana agama yang berlaku di tanah Jawa, digeser.

Fokus selanjutnya Daendels adalah pada lembaga peradilan. Pengadilan tinggi yang awalnya hanya hanya ada dua (sehingga bikin rempong bila ada perkara di daerah), dibuat menjadi banyak pengadilan sampai tingkat kabupaten.

Dan untuk pertama kalinya ada kebebasan beragama sepenuhnya diakui, tapi tujuannya tentu saja bukan karena masalah idealisme Revolusi Prancis saja, lebih ke maksud politis.

Kemudian dilakukan pengurangan kekuasaan para raja-raja di Jawa dengan mencampuri penunjukan siapa yang menjadi pangeran, termasuk tradisinya (hantaran penduduk kepada Sultan). Pemerintah Belanda yang akan menentukan siapa yang berhak duduk di kursi kekuasaan. Biasanya mereka yang mau diajak bekerja sama.

Lapangan Banteng tempo doeloe (gambar : wikipedia.com)

Para pemimpin agama dan pangeran ini akan menjadi pegawai negeri dengan gaji yang menggiurkan. Cara ini sebetulnya mirip administrasi militer yang memberlakukan kepangkatan. Hal yang dipercayai efektif untuk memberantas cikal bakal korupsi.

Ini adalah penerapan model birokrasi ala Napoleon Bonaparte, yaitu pangkat militer pada birokrasi pemerintahan sipil. Prefek dan bupati diperlakukan setara dengan jabatan Sultan atau Sunan, tetapi mereka bertanggung jawab kepada Gubernur Jendral. Setiap pekerja pemerintah itu memiliki pangkat militer. Bupati setingkat mayor, tumenggung setingkat kolonel, ngabehi setingkat kapten. Sentralisasi kekuasaan yang mempermudah pengawasan adalah ciri kekuasaan Daendels.

Tentu saja, reaksi para raja dan bangsawan Jawa, sama setali tiga uang dengan reaksi raja dan bangsawan di Eropa ketika menghadapi Revolusi Prancis. Mereka jelas sangat tidak suka bila dikurangi kendali kekuasaannya atas rakyat wilayah mereka, walaupun dapat iming-iming mendapat gaji lumayan gede. Yang menjadi korban “Revolusi Prancis” ala-ala Daendels di Jawa ini antara lain Sultan Banten (diasingkan) dan Sultan Mataram (diganti). Dan banyak lagi. Tetapi ada juga pangeran dan raden yang akhirnya mengabdi pada pemerintah Belanda.

Istana Putih (Het Witte Huis) yang dibangun untuk Daendels jaman dulu (sumber : wikipedia.com)

Meskipun keras terhadap praktek korupsi dan terpengaruhi ide Revolusi Prancis, seperti halnya para maharaja yang terlanjur nyaman duduk di kursi singgasana, Daendels tidak imun terhadap penyalahgunaan kekuasaan. Kenyataannya, ia menjual tanah peristirahatannya sendiri di Bogor (yang kini dikenal sebagai Istana Bogor) kepada pemerintah dengan harga tinggi. Ia juga melakukan praktek tanam paksa pohon kopi (padahal perintah ideal dari Louis Napoleon adalah menghapuskan sistem tanam paksa).

Mengenai tanam paksa, yang jadi penyelewengan ide Revolusi Prancis, akibat masalah ekonomi di Batavia yang lumayan parah. Sehingga untuk memperbaikinya, Daendels memerintah dengan tangan besi dan kejam. Jangan lupakan juga nasib 10.000 korban jiwa berjatuhan akibat pembuatan jalan Anyer-Panarukan sepanjang 1000 km yang dikenal dengan Jalan Raya Pos (De Grote Postweg).

java

Rute Anyer Panarukan. Sumber : wikipedia.com

Pemerintahan Daendels sebetulnya amat singkat, terhenti sebelum semuanya berjalan sempurna. Karena membutuhkan Jendral yang cakap untuk melakukan invasi ke Rusia, Napoleon menarik Daendels kembali ke Eropa. Dia digantikan oleh Jan Willem Janssens. Penggantinya itu tidak bisa mempertahankan kejayaan yang sudah dibangun Daendels, hingga akhirnya takluk oleh serangan Inggris.

Gedung Kemeterian Keuangan RI

Istana yang dibangun Daendels pada masa kini. Sumber : wikipedia.com

Warisan fisik Daendels yang masih bisa kita lihat secara dekat adalah Gedung Kementerian Keuangan/ Gedung AA Maramis di Lapangan Banteng. Dulu bernama Istana Putih (Het Witte Huis) atau Rumah Besar (Groote Huis), yang dibangun seperti miniatur dari Château de Versailles (walau menurut saya sebetulnya lebih mirip Palais de l’Élysée ). Dan yaa…banyak cerita-cerita hantunya disana hahaha…

Demikian sebersit kisah bagaimana kita untuk pertama kalinya kecipratan ide Revolusi Prancis di masa penjajahan Belanda. Walaupun pada prakteknya memang jauh dari arti yang sebenarnya.

Bagaimana menurutmu?

12 Comments

  • Pipit Widya

    Menarik sekali, Mba. Berarti praktik korupsi dari dulu sudah ada ya? Sampai Daendels disuruh Napoleon memberantas korupsi di Batavia.

    Peninggalan berupa gedung2 atau apa pun sebagai bentuk bukti sejarah, masih dirawat dengan baik ya. Meskipun nggak semua seperti itu ya, Mba.

      • Lia The Dreamer

        Wah, apa yang kak Pipit pikirkan juga sama denganku! Ternyata praktik korupsi ini udah ada dari jaman dahulu ya.

        Dan untuk gedung putih peninggalan Belanda, aku baru tahu nih! Nampak depannya masih sama ya seperti jaman dulu, masih kokoh juga. Untungnya dirawat oleh pemerintah jadi masih bisa melihat jejak peninggalan sejarah.

        Seru juga baca artikel seperti ini, menambah pengetahuan di bidang sejarah tapi tidak membosankan karena tulisan kakak yang enak dibaca hihihi.

  • Fanny_dcatqueen

    Menarik mba :). Aku selalu suka baca ttg sejarah seperti ini. Menarik aja bisa tahu cerita tentang penjajahan di zaman dulu.

    Eh tapi tentang penanaman paksa tanaman kopi, aku jd inget buku yg ditulis Douwes Dekker (nama penany: Multatuli) judulnya max havelaar.. dia ada menyinggung ttg kesewenangan Belanda ttg tanam paksa kopi ini . Sampe2 mengirim suratnya ke raja Willem 🙂 . Tapi sepertinya pada saat buku diterbitkan , Daendels udah ga di Batavia sih.

  • Rere Anggraini

    Sempet kaget dulu pas masuk SMA terus kalau kita pernah dijajah Perancis juga, padahal udah dijejelin materi dari SD kalau kita dijajah Belanda 350 tahun, Spanyol, Portugis, Inggris sama Jepang aja. Habis gitu langsung ngulik sejarah dunia biar nggak berasa hidup di dalam kotak.
    Kayanya praktik KKN emang sudah mendarah daging di sini, mungkin malah lebih kental pas masa kerajaan-kerajaan.

    • Ex-Parisienne

      Disetiap lumbung padi berlimpah pasti akan ada tikus-tikus rakus yang menggerogoti…
      Tinggal gimana ngawasinnya. Di setiap negara termasuk Indonesia, kerajaan-kerajaan paling kuat akhirnya hancur dari dalam karena banyak yang serakah.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this:
Visit Us On TwitterVisit Us On Facebook