cerita

Sebuah Reuni dengan Polyglot Family

Beberapa waktu lalu saya dan suami reunian dengan kawan cowok Prancis di sebuah resto di ibukota. Rasanya gimana gitu karena kita sudah beberapa tahun enggak ketemu mereka.

Kita makan-makan di sebuah rumah makan lokal yang isinya makanan Indonesia. No makanan Korea, Prancis, atau Jepang…Karena pas ditanya mau makan apa dia jawabnya :

“Makanan Indonesia, dong!”

Ya, iyalah. Sekian puluh tahun diluar pasti maunya makanan Indonesia yang bikin nagih.

To my surprise mereka bawa anak-anak yang oh so cute. Tahu-tahu anaknya sudah banyak aja, waktu memang cepat berlalu. Yang hebat anak-anak mereka bisa lima bahasa, lho, termasuk bahasa Indonesia, karena lahir dan tinggalnya di dua tempat berbeda di negara Asia.

Cara mereka berkomunikasi dengan orang tua kelihatan jelas. Dengan sang ayah bicara bahasa Prancis, dengan sang ibu bicara bahasa Indonesia. Di sekolah berbahasa Inggris dan bahasa setempat. Buat kita yang sudah berumur pasti ngebayanginnya kliyeng-kliyeng. Tapi anak-anak, sih pasti gampang. Mereka daya serapnya masih seperti spons.

Duluuuu waktu belum ada gambaran tentang orang Prancis dan bule umumnya. Kita suka mikir bahwa keluarga di sana itu seperti di film-film Hollywood. Progresif, membebaskan, anak-anaknya suka berontak, gampang nikah-cerai, concubinage, dan sebagainya dan sebagainya.

Namun kalau menengok keluarga si kawan Prancis ini, sebetulnya nggak jauh-jauh beda dengan keluarga tradisional di Indonesia, tapi versi yang lebih modern. Hubungan antar saudara erat. Juga pada ayah dan ibu. Masih menghargai pernikahan dan mau membangun keluarga. Anak-anak generasi tuanya juga kebanyakan “ngikut” profesi bapaknya (kalau disini kayak keluarga PNS anaknya jadi PNS hahaha).

Ya, benar-benar seperti keluarga disinilah. Tapi memang kelihatan didikan orang tua kawan Prancis ini bagus. Kawan saya itu mudah beradaptasi dengan berbagai budaya, hidup sehat, dan nggak neko-neko.

Sebagai ibu dari sekian anak, si istri tentu lebih banyak di rumah dengan anak-anak. Hasilnya saya lihat memang anaknya kepegang betul. Sopan, tidak bergawai (mainnya board game), dan….nyaris tidak tersentuh MSG.

“Sampai pulang ke Indonesia nyobain pop mie..” keluh ibunya.

Aaaah. Kalau udah begitu, maklum, deh. Memang susah kalau disini nyari cemilan sehat, terutama bila sudah kepepet.

Kalau ketemuan sama kawan Prancis sebetulnya adalah kesempatan saya untuk melancarkan kembali bahasa yang sudah mulai kaku malu-malu hahaha. Sayang seringkali kalau mereka jago bahasa Indonesia, kita selalu kepleset ngomong Indonesia. Bahasa asing baru dipakai kalau mau rahasia-rahasiaan. Hahahaha…

Banyak perjuangan pernikahan antar bangsa. Kawan saya ini beruntung dapat istri yang tangguh. Bahkan pulang kampung saja si istri bisa bawa anak-anak sendirian naik pesawat. Walaupun sudah berkelana, keluarga mereka sangat membumi dan kompak.

Yah, intinya senang saja dengan pertemuan kemarin. Moga-moga bisa ketemu lagi di situasi yang lebih seru.

7 Comments

  • denaldd

    Aku dulu juga suka ngebayangin gimana keluarga dengan berbagai macam bahasa gitu. Apa ga pusing anak2nya. Ternyata anak2 memang otaknya menyerap kayak spons, langsung bisa membedakan pas bicara dengan siapa otomatis berbahasa apa. Kami di rumah pake 4 bahasa. Yang lain sih ga keliyengan, aku yg keliyengan switch otaknya 😅

  • jessmite

    Seru banget ya membayangkan anak-anak biasa 4 bahasa sekaligus, dwibahasa aja sudah bagus, ini empat bahasa. Anak saya juga pelan-pelan mulai muncul ucapan bahasa Bali-nya. Saya dan suami selalu bicara bahasa Indonesia, tetapi kakek-nenek dan teman-teman sekolah anak-anak saya semua berbicara bahasa Bali. Jadi anak saya mulai bisa karena terpapar lingkungan, nih. Kadang secara spontan saja mereka nyeletuk kata-kata dalam bahasa Bali.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: