cerita,  kultur/budaya,  opini

Semua Sudah Ada Yang Mengatur

Saya ingat, saat itu musim semi yang cerah.  Orang pada ramai tumpah dijalan. Semarak dengan busana musim semi. Waktu yang tepat buat berjemur dan piknik. Saya dan seorang kawan Indonesia yang tinggal di Perancis, sebutlah namanya Rina, sedang dalam perjalanan naik bus dalam kota.

Bus saat itu nggak terlalu rame. Jadi kita pecah ngobrol ngalor ngidul dan berujung  membahas kenapa kebanyakan bule banyak yang skeptis sama namanya agama dan kepercayaan.

OK, stop. Nggak semua bule ya, orang kita juga ada yang demikian. Tapi entah kenapa mayoritas yang saya ketemu disana, ya,  begitulah. Pernah jumpa yang beda, tapi jarang.

Stop lagi. Sebelumnya, maaf. Bagi yang nggak percaya atau masih mempertanyakan agama, ini murni cuma menceritakan hasil dari obrolan-obrolan, kesimpulan pribadi, dan pengalaman yang pastinya subyektif…

Kembali ke soal bule diatas, membahas tema tersebut menurut saya, itu karena bagi mereka (bule) segala sesuatu harus selalu logis. Apa-apa harus dipertanyakan, kalau bisa ada bukti penelitian.

Sisi positifnya, memang ilmu pengetahuan jadi berkembang disana dan nggak gampang dikit-dikit mencari “jalan pintas” terhadap satu kasus lalu lari ke dukun (!). Selalu dikupas secara ilmiah. Dengan tujuan ilmiah juga.

Contoh, nyari hantu saja bisa lengkap peralatan, pakai peralatan geiger counter, sementara kita sering cuma dipakai buat sensasi di TV tanpa melihat arti signifikan lain. Hal-hal teknis seperti kematian karena kecelakaan diminimalisir dengan iptek  berdasarkan berlapis-lapis probabilita.

Sisi negatifnya, ya, jadi nggak percaya pada hal-hal diluar itu. Padahal nggak semua fenomena alam bisa dijelaskan.

Contohnya, soal segitiga bermuda, teori asal usul alam semesta.Teori baru muncul, lalu gugur, dst. Makin banyak tahu malah makin kerasa banyak lagi misteri. Menggenapi anggapan kalau ilmu yang dibuka ke manusia cuma seupil kutu bakteri. Sisanya…segelap alisnya Syahrini.

Di Indonesia orang nyebutnya kesurupan, disana bisa dianggap kena ayan!

Nah, Rina ini cerita, suatu saat papa mertuanya sakit. Sakit yang sudah seperti death sentence.

Suaminya, seorang bule warga sana, nggak terima.  Jadi kayak stress, begitu. Mereka juga sudah mengupayakan segala cara.  Tetap akhirnya papa mertuanya berpulang.

Sejak papanya wafat, sang suami makin stress. Seperti kehilangan arah. Selalu mengeluh dan ngambek pada dunia,

“Hidup itu nggak adil.”

“Kenapa ayah saya?”

Dsb. dsb. Sampe luama buanget. Nggak sembuh-sembuh.  Dipikirkan terus.

Akhirnya karena sudah nggak tahu dan kehabisan akal untuk menghibur, Rina menggunakan senjata yang umum dipakai orang Indonesia. Yang sampai sekarang pun kalau kita pakai, bisa jadi polemik dan pembahasan puaanjang (apalagi kalau timing nggak pas).

“Kalau aku… orang Indonesia bilang, semua sudah ada yang mengatur….”

Lalu nyambung ngebahas ke lain-lain. Life after death lah. endebre endebre.

Rina nggak berharap suaminya bakal tenang. Dia sudah kenyang sama reaksi kebanyakan teman bulenya disana kalau mereka membahas soal kepercayaan.  Ah, pokoknya gue ceritain ajalah, udah kehabisan ide juga soalnya.  Tapi hasilnya, suaminya jadi jauh lebih tenang setelah mendengar. Rina sampai heran sendiri.

Kami menyimpulkannya cerita itu dengan manggut-manggut. Sulit mencari kata-kata yang pas buat penutupan.Jeda sejenak.

Kemudian…. beralih ke topik lain, seperti target tempat shopping bulanan…hari di musim semi ini terlalu cerah untuk topik berat

Memang itu akan selalu menjadi ciri khas warna-warni kehidupan kami disana, sebagai orang yang percaya, diantara banyak mereka yang tidak.  Dan saya mulai memahami, mengapa ada mereka yang bisa memiliki toleransi besar terhadap apa yang tidak bisa diubah dan ada mereka yang tetap berusaha meletakkan itu pada rel berlogika.

Perbedaannya terletak pada kemauan untuk terus mencari kemungkinan-kemungkinan, jawaban-jawaban memuaskan atas segala pertanyaan.  Yang akan berkembang menjadi besar. Akhirnya, ya, sebetulnya tidak banyak juga perbedaan antara kita, orang Barat dan Timur soal curiousity. Cuma beda genre, motivasi, dan modus kali ya…hihi.

Ketika tinggal  di kota besar semacam Paris. Yang saya rasakan jelas…selalu ada hampa yang nggak terucapkan dan terdeteksi mode puitis on, dalam percakapan-percakapan mendalam diantara sesama yang tinggal disana.

Hidup seringkali hanya berputar soal, sekolah, mencari kerja, cari karir terbaik, bersenang-senang, kalau bisa ditugaskan keliling dunia, berkeluarga adalah pilihan, setelah itu pensiun. Ya udah, gitu. Dalam ritme yang sangat cepat.  Dari pagi ke malam pagi ke malam. Ke pagi lagi. Kalau istirahat atau tersungkur sedikit, akan tertinggal cepatnya perputaran rutinitas kehidupan, yang selalu berjalan terus tanpa pernah peduli, seperti halnya pergantian musim.

Punya teman banyak dimana jumlahnya kayak di Indonesia..hmmm….kalau dibandingin, sih, kebanyakan lebih mirip seperti  nggak punya teman, kali ya..hahaha… Samalah seperti perbedaan jumlah friendsnya facebook bule dan orang kita…:))

Dalam kondisi begitu kehilangan seseorang yang dicinta….mungkin kesedihannya adalah hasil dari akumulasi yang lain-lain juga…

Manusia akan mencari apa yang membuat jiwa jadi tenang.  Apapun pilihan pencarian mereka dan hasilnya, tidak bisa diganggu-gugat oleh siapapun. Bahkan oleh dirinya sendiri. Konon…

…semua sudah ada yang mengatur……


Apa yang kamu pikirkan selama ini tentang kehidupan di Barat? Dan apakah ada yang merasakan jurang perbedaan pola pikir diatas?

images : wikipedia.com

0 Comments

  • denaldd

    Kalau aku menilai diri sendiri adalah orang yang beragama yang memakai logika. Maksudnya apa yang tertera dalam kitab suci Al Quran serta Hadits tidak serta merta aku percaya begitu saja. Apa yang masuk pada logikaku dan setelah melalui pencarian, aku akan melaksanakannya. Tetapi apa yang masih tidak sesuai dengan logikaku, akan kucari jawabannya sampai ketemu, dan setelahnya baru akan kulaksanakan. Orang lain yang menilai cara berpikir dan bersikapku yg seperti ini banyak yg mengatakan bahwa aku ekstrim. Padahal menurutku agama pun harusnya tidak serta merta diterima begitu saja. Banyak hal yg perlu dipertanyakan. Kebetulan saja aku beragama dari agama warisan orang tua, bukan dari pilihan sendiri. Karenanya aku masih mencari banyak hal yang aku pertanyakan dari agamaku ini.

  • Frany Fatmaningrum

    Apa yang dipikirkan selama ini tentang dunia barat? Menurut pendapat saya duniawi dan hedonism. Kalo ditanyakan apa yang dipikirkan tentang dunia timur? Jawaban saya, refleksi hidup. Seterusnya berkembang dengan pemahaman kepercayaan dan kebudayaan yang beraneka ragam.

  • Wadiyo

    Latarbelakang budaya dan lingkungan mungkin juga berpengaruh.
    Misalnya kesurupan dan berhubungan dengan hal gahaib, apakah beberapa tahun ke depan bila Indonesia sudah maju seperti Eropa, pandangannya juga akan berubah ya? hantu dan kuntilanak akan hilang dari bumi pertiwi 🙂

    • ex-Parisienne

      ghost hunter masih ada di amerika…orang penting di barat juga masih percaya peramal ahli spiritual…percaya tapi kalau dibahas banyak yang lebih kearah penelitian, hal seperti ini nggak bisa 100% hilang, apalagi ketika org sdh hilang pegangan…

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this:
Visit Us On TwitterVisit Us On Facebook