kultur/budaya,  opini

Sisi Lain Kehidupan di Luar Negeri Yang Kurang di Ekspos

Seluruh dunia sedang melihat ke Amerika Serikat karena kasus George Floyd. Tagar tentang black lives matters berseliweran.

Saya pernah bahas tentang rasisme juga pengalaman kehidupan di kota Paris yang tidak melulu bling-bling. Itu umum terjadi di seluruh dunia. Kita memang hidup di dunia dimana orang biasa pukul rata akan perilaku orang lain hanya berdasarkan sekilas pengalaman atau label.

Yang menarik, saat terjadi rusuh dan bakar-bakaran, saya membaca sebuah statement di medsos, membuka bagaimana Amerika pada kenyataan. Bagaimana menurutnya kehidupan disana itu sebetulnya…..jelek.

Tentu saja mulai ada beberapa pembelaan dari sebuah pernyataan yang terlalu ekstrim. Padahal menurut saya statemen seperti itu lebih bernada kecewa, mirip seseorang yang awalnya punya harapan cukup banyak tapi kemudian setelah melihat kenyataan…jadi sangat terpukul. Sangat subyektif, tapi ya nggak apa-apalah,  namanya juga pendapat orang. Dari sisi mana pun jelas nggak salah selama itu memang terbukti pengalaman dia.

 

Gambar : pixabay.com by HolgersFotografie

Apa penyebab kekecewaan seseorang akan sebuah negara? Itu sih…kita nggak akan pernah tahu 100%.

Yang jelas, di era booming traveler ini saya akui memang cukup banyak cerita-cerita yang sifatnya lebih condong ke promosi tentang keindahan di luar negeri, atau kehidupan menarik di negeri orang. Bagus, sih, mengajak orang Indonesia untuk berani keluar dari zona nyaman dengan merantau. Menambah wawasan. Yang nggak bagus itu kalau kita kemudian jadi lupa bahwa yang namanya promosi itu dimana-mana cenderung indah-indah. Kamu nggak akan terpikat mantengin dan beli  jika produknya ternyata jelek.

Tentu saja kita nggak bisa kemudian misalnya menyalahkan sebuah sumber. Semacam,

“Hey, gue merasa tertipu! Lo ceritanya selama ini yang bagus-bagus aja. Penipu!”

Ya, nggak bisa begitu kali.

Bagian pariwisata dan promosi sekolah jelas bakal kasih gambaran yang menarik hati.

Film? Yang namanya film jelas bakal nyari latar yang menarik mata buat di shoot, dong?

Sementara sumber lain, yang lebih bersifat pribadi dan marak jadi rujukan seperti youtube, medsos, dsb,  juga nggak bisa jadi patokan 100%. Ya, karena dibalik itu semua orang punya niat yang berbeda-beda saat mulai bercerita tentang kehidupannya.

 

Apa penyebab orang bercerita indah berlebihan tentang sebuah negara tempat ia tinggal?

 

Pertama,  lebih mudah membangun image supaya orang langsung ingat. Ini akan dibahas tersendiri.

Kedua, berhubungan dengan kondisi psikis seseorang. Hidup di manapun pasti ada hal-hal yang bikin stress. Dengan bercerita baik, maka seseorang akan dipaksa melihat sisi lain dari yang dialaminya disana. Coba kalau kamu ada masalah, lalu curhat terus tentang kejadian tidak mengenakkan, pasti lama-lama malah tambah depresi. Di balik seseorang yang kelihatan biasa-biasa, mungkin sedang berjuang keras dengan berbagai anxiety seperti rasa kesepian dan terisolasi. Membangun narasi positif bisa menjadi bagian dari proses seseorang untuk meyakinkan diri sendiri bahwa kehidupannya sekarang itu bahagia.

Yang ironis, bila narasinya diterima tanpa filter oleh orang di kampung halaman. yang kemudian melakukan perbandingan dan menyimpulkan.

Ketiga, kasus di dunia nyata apalagi di kultur Asia. saat seseorang pulang kampung  banyak yang anggap keren karena seseorang tinggal di kota di luar negeri. Jadi ada prestise sendiri, walaupun kesehari-harian seseorang disana termasuk biasa. Meski bergaji Euro, tetap saja biaya hidup di luar negeri kan nggak bisa bohong.  Soal kualitas hidup, lebih tampak makmur sejahtera orang-orang berkecukupan yang tinggal di desa-desa Indonesia yang bisa punya tanah sampai luas banget! Paling beda di sistem dimana fasilitas semacam kesehatan, sistem pensiun, transportasi, di negara maju tentu lebih tertata dan terjamin.

Keempat,  nggak mungkin negatif pada negara dimana seseorang numpang tinggal disana. Pasti seseorang akan lebih bijaksana memilih kata. Bisa-bisa responnya, siapa suruh tinggal disana? Apalagi bila ada mata-mata bagian imigrasi yang bisa bahasa Indonesia #laguMissionImpossibleBerkumandang

Intinya jangan terpesona melihat paparan indah, selalu lihat juga bagian apa yang tidak diceritakan.  Bisa dicari dari sumber lain, yaitu di berita-berita atau mungkin narasi yang bisa memberikan gambaran secara berimbang tentang kehidupan disana.

 

Memanfaatkan image sebuah negara

 

Bahasan poin pertama diatas mengenai image.

Image sebuah negara, apalagi negara maju, itu seperti branding yang begitu kuatnya. Sampai banyak orang mati-matian ingin mendapatkan seciprat saja.

Alkisah saat saya disana, ada sebuah grup band yang bela-belain ke Paris untuk “konser”. Berita di medianya heboh bahwa grup legen itu akan ditonton bule-bule di Prancis.

Kenyataannya, mereka ngeband di kolong jembatan Metro, di sebuah arrondissement yang tidak megah. Penonton kebanyakan orang Indonesia dari mahasiswa sampai TKW, berikut orang-orang yang lalu lalang melihat “keributan”. Bule-bule itu juga cuma tertarik sekilas lalu melenggang karena disana memang daerah yang tidak aman-aman banget.

Bawah jembatan sebuah Metro Paris (gambar : wikimedia.org)

Padahal kalau saya baca berita di media infotainmentnya sudah seolah-olah bikin konser di stadium sendiri.   geleng-geleng kepala  Sebagai info para seniman atau pengamen yang biasa berseliweran di bawah tanah metro  sambil membawa peralatan musik harus minta ijin khusus, ya.

Grup band itu nggak peduli.  Pokoknya target mereka kalau pulang kampung bisa dengan bangga bilang, kemarin gue bikin konser di Paris, dong!  Lalu semua orang sudah membayangkan yang wah sampai gimana begitu.  Hahaha..mau gimana juga salah yang percaya….

Sekarang akses informasi serba mudah di dapat. Tapi masih banyak juga yang terjebak dalam membangun image seperti kasus grup band diatas.

Makanya…kritis itu perlu. Supaya ke depan nggak merasa oh selama ini gue dibohongin.

 

Pentingnya informasi yang berimbang

 

Sebelum berangkat ke Prancis, saya sudah kenyang diceritakan oleh bagian kebudayaan tentang gambaran kehidupan disana, tapi yang paling banyak memberi cerita nyata adalah para professeurnya (yang rata-rata memang pernah tinggal disana). Tentu saja, saya juga mempelajari sejarah negara tujuan-walau masih ala kadarnya, Gunanya untuk mencari  mengetahui apa saja yang pernah terjadi disana, mengapa sebuah bangsa karakternya jadi ya seperti itu.

Metro Bir-Hakeim (sumber : wikipedia.com)

Saat tinggal disana saya merasakan banyak hal sudah  familiar,  bisa mengalami sendiri bagaimana aura tempat yang merupakan arrondissement kelas atas (dari wilayah La Defense ke bawah) dan arrondissement yang lumayan ehm kumuh tempat etnis-etnis tertentu lebih banyak berkumpul bersama sesamanya.  Orang di sekitar kadang membagikan rumor tentang perilaku etnis A dan etnis B.

Btw, bicara rasis, ngalamin kalau disana orang kita juga kadang ada yang rasis. Kalau ngobrol di kendaraan umum, suka menyebut orang-orang dari etnis tertentu dengan nama binatang khas negara etnis tersebut. Alasan, menyamarkan bahasa saat ngomongin orangnya supaya yang bersangkutan nggak merasa di omongin. Saking terbiasanya,  sampai nggak nyadar bahwa name calling semacam itu sebetulnya rasis. Semoga kita semua nyadar, agar nggak terjadi pada kita, ya.

Penting, bagi seseorang yang tinggal di luar negeri untuk memberikan cerita yang seimbang  tentang kehidupan di sebuah negara. Saya tahu, nggak semua orang mau dan sanggup melakukannya, karena akan berurusan dengan hal-hal yang sifatnya sangat personal,  sangat sensitif.  Tapi bagus kalau kamu mampu. Suatu saat…siapa yang tahu? Hal-hal sepele semacam itu bisa menyelamatkan kehidupan seseorang. Sebagai contoh mengurangi kasus gadis-gadis atau perempuan yang ter-bling-bling oleh scammers yang berkeliaran. Atau terjebak praktek  perbudakan modern, human trafficking.

Karena nggak semua penonton, pendengar, atau pembaca memiliki isi kepala yang sama. Ada yang begitu sederhana dan naifnya dalam mengambil kesimpulan.

Gambar fitur : pixabay.com by FreePhotos

Tulisan ini dipersembahkan kepada mereka yang berani berbagi narasi seimbang tentang kehidupan nyata di luar negeri. 

 

 

 

6 Comments

  • Rahma Balci

    grup band apa yg ‘konser’ di paris, penasaran?–sering diserang dengan kalimat: si mbaknya ga bersyukur udah tinggal dinegara enak dan ga nyadar suaminya jg orang sana’ begitulah kira kira, ya padahal nulis berdasar pengalaman harian saja kan:)))))

    • Ex-Parisienne

      Haha pokoknya itu grup band lejen…
      Banyak yang kayak gitu. Mungkin terlalu kuat paparan indah tentang sebuah negara di circlenya. Menurut saya mba Rahma ini justru salah satu blogger yang imbang nulisnya, loh. Kayak jurnalis.

  • bara anggara

    saya sampai googling grup band manakah yang dimaksud? ketemunya 2 grup metal dan 1 grup indie yg pernah konser di paris. Karena masnya bilang lejen, kayanya bukan itu, nanti pencarian dilanjutkan deh hahaha..

    nama besar kota di luar negeri kadang utk membranding image diri juga ya, walau mgkin sebetulnya di sana jg struggle.. kalau saya sih ada keinginan untuk tinggal di luar negeri, tepatnya di Australia, bebas di kota mana. Tujuan utamanya pgn lanjut S2 sekaligus part time job di sana, pgn ngerasain tinggal di luar, abis itu pgn balik lagi ke Indonesia..

    -traveler paruh waktu

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: