cerita,  opini

Tentang Pria Bule Prancis

Saya memang ngalamin tinggal beberapa tahun di negeri bule. Tapi bukan bule hunter atau hater. Nah, untuk kamu yang kepo seperti apa sih, pria bule di Perancis? Ini adalah sedikit resume pengalaman selama bergaul, supaya kamu dapat sedikit gambaran. Ini juga ada unsur subyektifnya, ya.

Bule Sebagai Teman

Sebagai teman, pria bule Prancis yang saya temui, tahu cara memperlakukan perempuan sebagai mitra sejajar. Respek. Bukan tipe yang ngeliat penampilan, lebih menghargai orang as person. Pada level keakraban sebagai temen (bukan cuma kenalan), mereka perhatian dan menawarkan bantuan, minimal kuping. Sangat dewasa. Bila teman perempuan lagi patah hati, mereka bisa jadi kompor paling rame, ”No, kamu ga layak digituin, jangan mau!!”

Saya sendiri menikmati berkawan dengan mereka karena…ils sont fous!! Mereka rada-rada gitulah. Wkwkwk.. Hobinya komplain, bertualang, seringkali ternyata aslinya konyol, serta bercandanya itu out of the box. Kalau udah akrab berasa kayak berkawan dengan orang Indonesia (beda di cara berpikir doang). Bahkan ada teman bule Perancis yang saya sendiri sampai suka lupa nama aslinya karena dari awal kenal kebiasaan memanggilnya dengan nama Jawa (ini enak saja ya ngubah-ngubah nama anak orang).

Bule Sebagai Pasangan

Bule lebih romantis? Bila pria benar-benar jatuh cinta, niscaya dia akan otomatis berusaha romantis. Cuma ada yang tahu caranya dan ada yang tidak. Nah, kebanyakan pria bule (apalagi Prancis) TAHU. Soal menggoda dan merayu, semua pria sama aja…hahaha. Bedanya, rayuan pria Prancis memang berkelas. Smart. La classe, gitu.

Kenalan perempuan saya saat candle light dinner di rumah merasa begitu berbunga-bunga. Selain diperlakukan dengan baik, dipuji penampilan, didengarkan, dsb, setelah makan piring dan bungkus yoghurtnya dicucikan. Ditanya, ngapain bungkus yoghurt dicuci, kan tinggal dibuang? Dia bilang, supaya bersih, kasian petugas sampahnya kalau kotor. Waw (eh, itu rayuan bukan,ya)..

Dari kisah diatas juga bisa kita lihat, kecuali dia anak taipan, para pria bule itu sangat mandiri, sedari kecil dibiasakan tidak punya inem atau bujang. Kalau kamu di Indonesia adalah nona besar dengan segebrok asisten, siap-siap “sengsara” bila dibawa ke negaranya. Sebab, para pria akan mengharap kekuatan dan kemandirian yang sama dari pasangan. Termasuk hidup prihatin. Jarang saya lihat, wanita bule yang belanja di butik mahal. Didominasi turis.

Komitmen Dengan Bule

Soal komitmen, pria bule Prancis, yang saya temui, umumnya lebih pragmatis, perhitungan, dan sangat hati-hati. Bisa dipahami karena sistem di negaranya berbeda dan mereka juga sudah belajar dari generasi-generasi sebelumnya. Tingkat perceraian tinggi, pernikahan itu ribet, belum biaya-biaya lain, kemudian bila cerai, jangan disangka bisa leha-leha kayak umumnya pria dunia ketiga, harus bayar tunjangan besaar…

Dari latar belakang kondisi di negara Barat, pemahamannya kira-kira gini. Dari segi logika dan itung-itungan (bila kita kesampingkan masalah agama), bagi beberapa dari mereka, memang tampak lebih masuk akal bila memilih untuk hidup bersama (dulu). INGAT. Itu hanya terjadi jika didukung oleh pasangan yang memang berpikiran sama (tidak ada paksaan). Jadi bukan mau pria bulenya saja. It takes two to tango. Berpikiran sama, juga perlu di garis bawahi. Bila yang satu ingin sama-sama saja, sementara salah satunya ingin dinikahi, sudah agak jomplang. Bisa saja, sih, yang berjalan dengan cara itu, tapi dengan extraordinary effort disisi yang berharap, lebih gampang kecewanya.

Teman-teman bule wanita saja kadang sedikit curhat, ingin relationship yang akhirnya berujung pada pernikahan. Karena susahnyaaa… Tapi, ya, mereka maunya juga masih banyak. Terutama untuk ukuran orang kita. Seringkali masih single sampai usia lebih dari 30.

Teman yang masih gadis muda, sampai ternganga ketika saya ceritakan tradisi di Indonesia. Bagaimana pacaran itu ujungnya didukung ortu dan lingkungan untuk “segera” nikah. Bullying “kapan kawin” dan wanita Indonesia yang seringkali harus nolak2 lamaran orang! Kalau saya ceritakan tradisi perjodohan dan taáruf mungkin mereka bisa makin lebar menganganya awas lalat hahaha…

Tapi jangan di sama-ratakan ya. Mereka yang langsung ke jenjang pernikahan tanpa seatap dulu (paling cuma ngedate standard) juga ada. Intinya tergantung kesepakatan dengan pasangan. Jadi jangan asal tembak, ah, mereka dulunya pasti seatap dulu. Itu kurang adil.

Teman pria bule juga sama seperti pria pada umumnya, ada yang memiliki masalah dengan komitmen dan kepercayaan. Mereka juga bisa merasa sangat sebel sekali dan merasa tertipu saat sadar kalau si cewek suka sama dia cuma karena ingin duitnya aja. Beneran kan cuma pria biasa? Pria yang masih muda-muda pengennya senang-senang dulu. Hakuna matata! Terlebih yang tinggal di kota-kota besar, pokoke elu-elu, gue-gue. Bila merasa sudah tua banget dan sangat jones (jomblo ngenes-red) baru, deh. Yang berasal dari kota kecil dan atau memiliki latar belakang keluarga konservatif, saat merasa sudah merasa cocok, biasanya mau memikirkan level lanjut, yaitu

Bule dan Pernikahan

Sebelum pernikahan, umumnya akan punya kesepakatan mau punya anak atau nggak nanti. Karena ada juga yang ogah sama sekali. Yang saya pernah dengar, dari salah satu bule pendukung anti punya anak di Paris dulu, alasannya adalah…

“Anak itu makhluk yang sangaaat egois dan sangaaat mahal, pada akhirnya mereka juga akan meninggalkan kamu.”

Sebagai informasi, sudah kebiasan di barat, bila kamu cukup umur harus mandiri, hengkang dari rumah ortu. Dan para ortu kalau sudah tua juga nggak tinggal seatap sama anak. Kebanyakan di apartemen sendiri atau di panti jompo. Beda dengan orang Asia. Sudah membayangkan skenario itu di masa tua?

Apalagi bila pertumbuhan penduduk negaranya adalah piramida terbalik, dimana generasi muda yang makin sedikit harus mensupport para pensiunan yang jumlahnya meledak. Akan semakin banyak generasi sandwich…..

Kehidupan Istri Bule

Saat memutuskan punya anak, maka salah satu pasangan sementara waktu, harus stay di rumah. Berkorban, istilahnya. Penitipan mahal. Itu berarti hanya ada satu penghasilan (kasus beda hanya di negara2 Skandinavia). Jadi wajar, bule yang mau punya anak, apalagi bila tinggal di kota, umumnya hanya punya satu. Terbanyak, dua.

Alasannya ya, karena yang terakhir itu. Mereka, tokh akan pergi…buat apa punya banyak? Disini tidak percaya slogan banyak anak banyak rejeki, yang ada banyak anak bikin mati (karena biaya dan kerepotannya). Ketika ada ibu-ibu bawa bayi atau anak kecil naik metro (subway), orang-orang tua dan para wanita akan tersenyum. Karena hal itu merupakan pemandangan langka.

Dan disana nggak ada inem, nggak mungkin punya baby sitter. Jadi kemana-mana dibawalah itu anak bayi belanja, naik bus, dsb. Bikin makanan sendiri, antar anak, ke pasar sambil bawa adeknya, jemput anak (ga boleh telaat), dsb. Kalau beruntung, nemu teman Indonesia (atau mahasiswa) yang mau jagain sementara kamu punya urusan. Sebaiknya dibayar, yaks, ini pekerjaan yang banyak dicari, lho!

KBRI, yang biasa saya lihat, sering jadi tempat RDV istri-istri bule yang rempong membawa anak. Dan kumpul-kumpul dengan teman-teman senasib. Yang jelas cukup ramai bicara, sampai lupa sekeliling. Mungkin sepi teman ngobrol sebahasa. Apalagi bila tinggal di kota yang begitu individualis.

Pernah menemukan kasus perempuan Indonesia, dari kalangan menengah kebawah, hidupnya di Indonesia prihatin. Setelah dibawa kemari karena dinikahi bule, hidupnya tampak jauh lebih baik, dalam artian beda, tinggal di apartemen sempit dan teratur. Tetangga? Nyaris tidak saling kenal. Dia sering melamun, kelihatan kesepian. Kegiatan sehari-hari hanya mengurus keperluan suami dan menyibukkan diri dengan hobi yang ada. Tidak bisa bergaul kemana-mana dan tidak punya anak (sepertinya memang tidak mau punya anak). Untuk bicara antar sesama orang disanapun sangat besar jurang perbedaan, terutama dalam cara berpikir. Dengan sesama Indonesia juga terkucil, mengingat latar belakang dia bukan nona besar (ohyes, dengan sedih mengakui, kaum saya seringkali sangat kejam soal beginian).

Tapi untuk imbangnya, saya juga menemukan pernikahan-pernikahan yang hepi. Wanitanya, punya tingkat pendidikan dan intelektualitas sama dengan si pria, atau mereka yang penuh pengabdian- alias hidupnya ga neko-neko. Mandiri, mau kerja keras, mau dibawa susah, nggak cuma seneng2 doang. Kebanyakan dari mereka yang saya temui, memiliki anak. Wajah para pria bulenya, mungkin nggak ada yang sampai seperti model atau bintang film Hollywood, sampai kita bisa terbujuk untuk minta tanda tangan. Standar bule sana saja (mungkin ganteng untuk orang sini?), tapi memang kelihatan pria baik-baik dan kekeluargaan.

Sama seperti semua pria, bule juga bisa setia dan cinta mati, kok, kalau memang udah bener-bener suka. Ada kenalan bule pria yang benar-benar melankolis, berslogan ala bemper truk jalur Pantura “kutunggu jandamu”. Dan beneran itu wanitanya ditungguin. Akhirnya dapet.

Beberapa kali pula saya ikut dalam pernikahan campuran dengan bule. Ketika temanmu wanita Indonesia, nikah dengan bule, rasanya bisa lebih santai. Tapi ketika temanmu itu bule pria, nikah dengan wanita Indonesia, hindari datang hari-hari sebelumnya. Karena kita, temen-temennya, biasa dibombardir pertanyaan oleh besan atau saudara2 si wanita. Wkwk. Orangnya disana gimana, baik nggak pergaulannya, dsb, dsb. hedehh…kabuuur kalau salah ucap tar gue yang disalahin.

Dari cerita diatas, moga-moga mendapat gambaran sedikiit tentang “bule” di negeri mereka sendiri, bukan di Indonesia. Kalau penasaran dengan yang terakhir, bisa baca cerita saya yang lain bertema ini.

Jadi bagaimana menurutmu soal mendapat bule?

image : Gaspard Ulliel, celebichy.com

2 Comments

  • Fanny_dcatqueen

    Aku jadi inget mba, pas masih jadi teller nasabah premier di salah satu bank asing, beberapa THN yg lalu :p, nasabah2ku kebanyakan bule. Tapi dari semuanyaaaa, bule Prancis termasuk yg paliiiiiiing ramah dan sopan :D. Ada nasabah asal Prancis, tiap kali dia datang, teller premier langsung rebutan mau serving beliau hahahahahaha. Karena asyik aja sih diajak ngobrol. Sopan, trus bahasa Inggrisnya bersih, aksen Prancis ya ga terlalu kliatan, jadinya kami enak ngobrol Ama dia, beda Ama beberapa bule lain yg aksen bahasa aslinya suka LBH tebel :p.

    Tapi aku sendiri ga prnh tertarik untuk pacaran dengan bule ato org asing. Ntah kenapa, even pas kuliah di luar, temen2ku yg foreign students cuma aku anggab temen aja. Ga kepengin dipacarin. Udah ngebayangin ribetnya duluan soalnya hahahahah.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: