cerita

The Melancholy of Arnie

“Il me manque bien l’Indonésie.”

Saya kangen Indonesia.

Begitu ucapan seorang kawan bule cowok, sebut saja bernama Arnie.

Seorang peranakan dua negara Eropa Barat, dia berperawakannya gempal, rambut pirang, kulit putih kemerahan, jenggot agak tipis serta mata biru pucat. Bajunya agak kedodoran. Sosoknya khas orang-orang kelahiran tanah utara. Dia aslinya dari daerah Nordic.

Kami saat itu sedang melepas penat dari keriting kusutnya mengerjakan tugas kuliah. Biasanya di perpustakaan, tapi karena disana jelas tidak boleh bawa gitar, Arnie mencari tempat yang lebih bebas dan terbuka. Saya ingat kala itu tengah musim panas. Burung-burung camar berterbangan di luar sana.

Arnie meraih gitar dan mengalunkan petikan lagu-lagu hasil improvisasi.

Cowok bule satu itu memang punya kedekatan dengan Indonesia-seperti umumnya para bule yang pernah mengunjungi Indonesia lalu sedih saat angkat kaki.

Arnie memang berbeda dengan beberapa bule-bule Prancis umumnya yang saya kenal di Paris. Banyak mereka yang fokus kehidupannya teramat lokal, hanya di seputar Eropa saja, nggak berminat jalan-jalan lebih jauh dari kampung halaman. Orang-orang itu akan mengangkat alis bila kamu bilang berasal dari Indonesia. Karena bagi mereka terdengar seperti nama sebuah negeri antah-berantah. Biasanya mereka nggak akan terlalu terkesan.

Setelah nyebut Bali, baru pupil mata mereka baru mulai membesar.

“Indonesia itu sebelah mananya Bali?”

GEDUBRAK.

Tetep aja.

Pokoknya jangan anggap ilmu bumi itu pelajaran favorit semua orang, ya, termasuk bule-bule. Mereka sama plongonya seperti beberapa orang kita kalau ditanya tentang dimana Pennsylvania, misalnya. Malah disangka minta diambilin pensil.

Arnie selain pernah mengunjungi Indonesia, juga sempat punya pacar asli sana. Sayang nggak berakhir baik.

“Dia cuma ingin uangnya saya, kamu tahu?” katanya dahulu, tercurcol.

Bien sûr. Hidup memang nggak adil. Banyak tips-tips berseliweran untuk mencegah cewek ketemu cowok bule brengsek. Tapi nggak banyak tips yang mewanti-wanti sebaliknya. Apalagi semakin banyak bule hunter.

Walaupun pernah ada pengalaman kurang enak, itu nggak ngurangin rasa suka Arnie kepada Indonesia. Dia berharap akan bisa kembali ke Indonesia, saat melakukan stage (magang) kuliah.

Arnie sendiri cowok yang ringan tangan, suka menolong. Setidaknya kepada saya dia bersikap seperti itu. Kalau ada kesulitan dalam menulis bahasa Prancis dia akan bantu sebisanya. Sebaliknya, saya membantu dia untuk belajar bahasa Indonesia. Istilah biologinya kami itu ber simbiosis mutualisme. hahaha.

Dari dia juga saya belajar, bahwa mereka memang dibiasakan untuk mandiri. Bukan cuma dalam kehidupan sehari-hari, tapi juga dalam cara berpikir. Kadang saya menawarkan bantuan lebih banyak dalam mempelajari bahasa Indonesia. Tapi dia menolak tegas.

“Biarkan, saya mau melakukannya sendiri.” tukasnya keukeuh.

Mau bagus, mau jelek, buat Arnie yang penting dilakukan sendiri. Sama seperti orang Perancis disini, tidak terlalu “kejar nilai”. Mau jelek, ya, nyantai.

Kalau kita mau ujian suka langsung pucet aja. Takut setengah mati sama nilai. Beberapa mahasiswa Asia maunya semua dikerjakan sama-sama terus. Sampai ada Professeur yang ngamuk-ngamuk karena mereka ketahuan diam-diam saling membantu.

Kadang kalau ngeliat Arnie, saya suka malu sendiri. Saya nggak habis pikir kalau ada cewek Indonesia yang tega memanfaatkan cowok sejujur dia.

Cowok itu juga doyan main musik. Kalau tidak salah dia bersama saudara laki-lakinya pernah membuat grup musik. Jadi cocoklah kalau sudah capek, hiburannya bergitar-ria. Saya juga untung, dong. Abis pusing kepala ada musik live gratisan hahaha..

Saat dia ngomong kalau kangen Indonesia itu, saya tahu, dia selalu bisa mengekspresikannya lewat musik, perasaan kangen pada negeri yang bukan tempatnya untuk pulang.

Sekitar enam bulan kemudian terhitung dari saat kami belajar bareng itu, Arnie benar-benar pergi ke Indonesia, melakukan stage-nya disana selama beberapa bulan. Saya menunggu kabar baik, siapa tahu dia di Indonesia ketemu cewek yang benar-benar “baik”. Bukan bule hunter.

Setelah itu dia kembali ke Prancis untuk melanjutkan pendidikan……tidak ada berita dia sudah bertemu seseorang di Indonesia. Saat dia tiba saya sudah pindah negara. Saya tidak bertemu Arnie lagi.

Bertahun-tahun kemudian saya mengetahui Arnie menikah. Penasaran betul, apakah dengan cewek Indonesia? Arnie membawa pasangannya pulang ke kampungnya di salah satu negara Nordic. Saya melihat foto mereka, Arnie tampak semakin makmur saja dan di sampingnya seorang cewek blonde berkarakter khas Nordic tersenyum.

Oh. Dapat teman senegara? Saya terkekeh. Ternyata nggak jauh-jauh. Namanya jodoh memang susah diduga, ya. Saya kira dia akan dapat cewek Indonesia. Sehingga bisa mengobati perasaan melankolinya akan Indonesia. Ehm. Bukan begitu jalannya kali, ya?

Dan saya teringat lagi kawan saya, Arnie, dan ucapannya itu. Apakah dia masih suka terkangen-kangen dengan Indonesia dan mataharinya yang selalu hangat?

Dulu saya mungkin tidak begitu memahami perasaan kehilangan sebuah negara asing sepertinya. Sekarang rasanya saya seperti baru kena karma. Dalam posisi yang berkebalikan.

Il me manque bien la France…

Kadang ada rasa kangen. Bukan cuma sama negaranya, tapi pada semua kawan yang saya sempat kenal disana. Padahal waktu akan pergi dulu rasanya, ya biasa saja. Saya teringat, saat ngobrol dan berkumpul dengan kawan-kawan dari negara lain untuk terakhir kalinya, semua momen yang hadir terlalu nyata untuk disadari bahwa kemungkinan kami untuk berjumpa lagi kecil. Terpisah oleh jarak dan waktu.

Rasa kangen, bukan berarti kita ingin kembali ke tempat itu atau ke masa itu. Tentu saja tidak. Kenangan sangat indah karena dia adalah hal yang sudah terjadi. Saat kita bahagia dengan kondisi sekarang, rasanya kita tidak perlu meyakinkan semua orang dengan banyak perkataan. Tak perlu bersugesti bahwa semua baik-baik saja. Kita bisa bebas bercerita tentang hal yang gembira, sedih, dan mengesalkan, serta tentang banyak kenangan indah dalam hidup kita- yang hadir seperti sapaan hangat sinar matahari musim semi di pagi hari.

Dan disinilah saya, di bulan November, selalu merasakan matahari di pagi hari. Bulan November di Eropa cuaca mendingin. Matahari seperti malu-malu. Sementara disini, masih belum terlihat perbedaannya selain semilir angin dan daun-daun yang berguguran. Saya sangat suka berjalan menikmati semilir angin, menatap langit yang mulai mendung di sore hari di negeri dua musim ini. Bila hujan mungkin saya akan membuat sop ayam dan mie baso untuk dinikmati bersama keluarga.

Rasa kangen yang sehat itu mungkin seperti ini? Terasa manis, bagaikan rasa saus yang melengkapi sebuah sajian. Tidak pahit untuk dikenang, menyakitkan, dan menyiksa.

Seperti Arnie dan perasaan melankolinya, terkadang kita harus mengembara dan pergi jauh dulu, untuk mengerti arti kehilangan. Bagaimana rasanya menjalani hidup bersama kenangan. Hingga suatu hari tiba, tidak ada seorangpun tersisa yang bisa mengingatkan lagi akan hal itu. Saat kamu sudah menemukan apa yang benar-benar penting bagi dirimu.


Apakah kamu pernah mengalami melankoli seperti Arnie?

2 Comments

  • Ai

    Pernah Mba, meski belum pernah merantau ke luar negeri. Bahkan merantau beda kabupaten saja, masih merindui kenangan manis yang pernah terukir dg teman masa kecil, dg keluarga, dan suasana yg pernah dirasakan, yg tidak akan bisa diulang tapi sungguh manis utk di kenang. Semisal, saya sll rindu saat belajar ngaji & subuh-subuh pergi ke guru ngaji membawa obor. Kangen suasananya, dan sesederhana itu kenangannya melekat…

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: