review

“WNI Dilarang Baca!” : Buku Buat Bule Hunter?

Apakah kamu penasaran seperti apa kelakuan dan karakter cowok bule Perancis?

Kebetulan saya nemu buku yang rada gokil. Judulnya “WNI Dilarang Baca!”. Yang ngarang orang Perancis bernama Christophe Dorigné-Thomson (CDT). Bukan buku baru, sih. Terbit sekitar 2013-an. Mungkin kamu masih bisa mendapatkannya di Tokopedia dkk.


All about “bule” (cowok)

Di buku ini monsieur CDT memberikan opini pribadi tentang masyarakat Indonesia dengan humor serta bahasa gaul. Tapi jangan salah, target market terselubung dari buku ini adalah kaum hawa yang preferensinya bule, di Indonesia.

Bisa kebayangkah?

Ya, karena isi buku ini penuh dengan kisah tentang bule. Dari awal berangkat dari negeri asal hingga tiba di Indonesia – ditambah jenis-jenis bule dan cara pendekatan! Ibarat ensiklopedi bule, tentang susah jadi bulelah, bule disewakan, bule super star, kepo sama bule, bule vs korupsi, bule masuk politik, bule doyan produk lokal, dsb.

Saya sampai geleng-geleng kepala dan keluar gumaman khas ala komik Asterix : “Il est fou ce Français! ” Orang Perancis ini memang rada-rada…

Screen Shot 2019-08-29 at 8.43.08 AM

Penulis asal Perancis-Inggris :Christophe Dorigné-Thomson

Bagaimana nggak, dari awal CDT anggap para pembaca buku ini sebagai para pencinta bule nomor satu, jomblo belum laku pula! Lha. Kalau yang baca bapak-bapak atau nenek-nenek piye? Biarkan dia saja yang membayangkan…

“Bule” bisa berubah juga seperti satwa langka di hutan, bila ketangkep satu, ada trik khusus juga dalam memeliharanya! Eh, yang terakhir dia sendiri yang ngomong. Lengkap dengan yel-yel ala aktivis lingkungan hidupnya, yang nyaris ada di setiap halaman : save the bule! Parah kan.

Ciri khas dari orang Perancis, yang saya tahu, adalah keahlian mereka dalam bermain sarkas secara cerdas. Dan kalau kamu baca buku ini, ya, kayak gitulah mereka. Sebetulnya separuh buku ini adalah sarkasme halus hahaha (kitanya aja yang nggak nyadar).

Oke, saya skip and skip bagian yang hunter-hunteran, ya. Bisa kamu baca sendiri kalau beli bukunya, ukh, harus dikasih komisi nih, saya. Yuk, langsung fokus ke bagian yang bahas media sosial.

wni.jpg
Tentang orang Indonesia di medsos

Monsieur CDT ini punya opini unik, dia merasa lucu melihat obsesi orang Indonesia pada medsos, bahkan sampai mengalahkan fungsi pacar.

Sampai bikin kesimpulan bahwa edsos itu memang sengaja diciptakan untuk orang Indonesia! (p. 208). Banyak pendapat serupa saya temukan di dunia maya. Bahwa media sosial adalah orang Indonesia itu sendiri bila mereka didigitalisasi. Selain CDT, ini satu lagi opini tentang orang Indonesia dan medsos facebook.

Bule bisa jadi yang menciptakan dan paham tentang produknya, tapi secara praktek, ya, orang Indonesia lebih jago, karena terkenal cerewet dan suka bergaul. Mangan ora mangan kumpuuul.

Sebagai contoh, bule nggak semudah itu accept friends kayak orang Indonesia. Apalagi orang yang belum dikenal. Makanya orang Indonesia bisa banyak akun dan punya ratusan teman, sementara bule (kecuali ngejar follower biar dapat duit), ya segitu-gitu aja. Masalah privasi mereka juga lebih super hati-hati.

Tingginya penggunaan medsos didukung juga dengan kondisi perkotaan, misalnya ibu kota, yang memang macetnya parah. Ketemu orang jadi semakin sulit. Rasanya, mau angkat pantat naik kendaraan umum udah berat aja. Lebih malas lagi yang bawa kendaraan sendiri. Jadi salah satu cara praktis manis menjalin pergaulan, ya, ketemu online, posting foto-fotolah, chattinglah.

CDT juga menemukan kasus bahwa orang yang dia temui di medsos twitter – sampai beda seratus delapan puluh derajat saat ketemu di dunia nyata. Di medsos rame gokil, eh, aslinya pendiam dan manis banget.

Lalu the dark side of Indonesian social media menurutnya adalah… banyak akun-akun palsu dan nickname yang dipakai cuma untuk buzzing. Nyebarin isu. Bisa berita baik atau buruk. Medsos, baginya juga merupakan cerminan perkembangan demokrasi di suatu negara. Di medsos, Indonesia orang bisa bebas bicara, dengan batasan UU ITE, yang sebetulnya juga masih seperti pasal karet.

Namun ada sisi bagus media sosial Indonesia bagi bule seperti dia. Apalagi bule yang baru belajar bahasa Indonesia. Yaitu menjadi tempat terbaik untuk…belajar bahasa sehari-hari (bahasa gaul-red). Malah bisa jadi lebih fasih dan gaul dari kalangan orang Indonesia yang masih konservatif dan gaptek. Walaupun untuk mencapai itu banyak hal-hal kompleks yang ditemuinya, seperti banyak orang gaje yang minta di “like”, yang minta duit, dan bahkan melamar minta si bule jadi suaminya!

Dalam segi bahasa, selain kaya bahasa gaul yang selalu update, orang Indonesia itu suka banget pakai bahasa tersamar.

Misal “Gue besok mau makan apel” #Kode. Bikin bule kayak dia bingung. #Eh, jangankan bule, saya aja juga bingung kalau ada yang begituan!

CDT mengakui, soal eksis orang Indonesia lebih jago dari bule. Setiap ada medsos terbaru. langsung buka akun. Ada dimana-mana. Hayo, ngaku. Ngaku, nggak? #ngumpet. Eksis itu emang dianggap penting banget. Tampang nomor kesekian. Yang penting muncul aja. Haha. Bahkan orang Indonesia bisa post di medsos dalam hitungan DETIK.

Kemudian ada trend selfie yang menurutnya lucu dan seru tapi kosong (bahasanya disini bikin bingung.. mungkin maksud dia ga bermakna atau ga ada gunanya).

Soal avatar dan tampang seseorang yang sebenarnya bagi dia juga suka bikin surprise. Di foto entah bagaimana cewe kelihatan cantik banget, ketika ketemu….JRENG……

Nasehat yang menurut saya bagus dari monsieur CDT (p.215) :

Medsos itu alat penting yang bisa dimanfaatkan untuk berkontribusi dan berdampak kepada masyarakat dan juga menambah pengetahuan lo supaya jadi semakin pintar.

Sebenarnya tren medsos dan semua alat digital yang kita pakai saat ini merupakan awal dari revolusi yang lebih besar dan sistemik yang sedang berlangsung di dunia. Kalau menambahkan pergeseran geopolitik dari Barat ke Asia dan peran revolusi digital, kita akan mendapati sebuah proses revolusi yang lengkap. Kita akan memasuki dunia baru yang akan jadi semakin baru.

Bab tentang medsos masih berlanjut tapi berhubung isinya balik ke tips cara berinteraksi sama bule di berbagai medsos, sekali lagi, lebih baik kamu baca saja bukunya yaaa..Yak, dua kali minta komisi.>:)

Sebagai informasi, hal-hal diatas cukuplah memberikan sedikit gambaran bagi pembaca tentang sepak terjang bangsa sendiri di dunia maya dari kacamata orang asing. Walaupun beberapa saya juga sudah tahu.
Kesimpulan

Overall, walaupun gaya bercerita di buku ini agak belibet, maju mundur, imajinatif campursari – seolah kemana-mana, isinya masih terstruktur.

Yang jelas buku ini bukan sekedar soal bule hunter, sebetulnya juga soal berbagi rasa dalam perbedaan kultur. Terutama agar orang Indonesia lebih…memanusiakan bule. Bila kamu imagenya selama ini tentang bule Perancis itu seperti pangeran blonde dari negeri seberang yang romantis, disini bisa membaca cara berpikir serta menambah wawasan tentang salah satu karakter mereka yang cerdas, kritis, dan….terkadang konyol. Bukan menggeneralisir, ya…manusia’ kan selalu berbeda-beda.

Kepenginnya sih, buku sejenis ini makin banyak. Sehingga kita, orang Indonesia, bisa bercermin. Atau….mau bikin buku tandingan, karya anak bangsa yang ada di negeri asing juga boleh. Bikinlah buku berisi perbandingan karakter antar masyarakatnya dengan kita, tapi, please, kalau bisa isinya jangan kebanyakan pujian pada yang disana dan kritik untuk yang disini. Pasti adalah hal-hal yang patut dicontoh oleh para bule dari kita ‘kan? Masa kalah dengan cara berkisah monsieur CDT ini, bisa imbang, juga bisa melihat begitu banyak potensi bagus di Indonesia!

Nah, sayang, kita seringkali keburu minder dan merasa inferior duluan di depan bangsa lain. Bahkan saking mindernya, jadi suka anti dan benci pada bangsa sendiri. Love-hate relationship gitu.

Gimana menurut kamu tentang opini-opini dalam buku diatas?

7 Comments

  • Firsty Chrysant

    Salam kenaal…:)

    Jadi ingat postingan saya tentang oppa hunter, pemburu cowok korea, hahaha.

    Kadang ya, saya rasa pandangan pandangan (cowok) korea sama cewek indonesia jadi gmna gitu, hehe

  • bara anggara

    jadi inget heboh2 di twitter bahas ttg tiktok yg cowo2 bule di bionya nulis “no indonesian girls” saking banyaknya para pemburu bule yg cringe abis. Malah cewe indonesia levelnya udah disamakan kaya cowo india dalam hal permedsosan haha. Masih miris kalau liat2 org2 yg di tahun segini masih aja punya inlander mentality. Suka malu juga kalau ada org yg heboh pgn foto sama bule, termasuk bule hunter yg ditolak mentah2 sama bule.. hadeeh, mereka yg ngelakuin, eikeu yg malu wkwk.. Duh sori komennya banyak negative vibes, abisnya gemes 😀

    • Ex-Parisienne

      Nggak apa-apa. Kenyataannya memang begitu mau diapakan lagi hahaha…
      Banyak yg nggak siap dgn era medsos dan globalisasi…mental, perilaku, dan pendidikan belum menyesuaikan diri tapi sudah dihadapkan dgn kebebasan berkomunikasi antar bangsa…

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: